Keadaan Ruh Setelah Kematian (Bag 2)

Ngerinya Keadaan Ruh Orang Kafir Setelah Kematiannya
ilustrasi : Keadaan Ruh Saat Kematian

Ngerinya Keadaan Ruh Orang Kafir Setelah Kematiannya


Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". [QS. Al-Jumu’ah : 8]

Pada pembahasan yang lalu telah dikisahkan oleh bagianda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keadaan ruh orang beriman setelah kematiannya (baca disini : Keadaan Ruh Setelah Kematian – Bagian keSatu). Berikut ini akan diceritakan tentang ngerinya keadaan ruh orang kafir setelah kematiannya.

Ngerinya Keadaan Ruh Orang Kafir Setelah Kematiannya

Dalam riwayat tersebut, Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam melanjutkan : “Jika orang kafir menghadapi saat-saat berpisah dari dunia dan menghadap ke akhirat, turunlah kepadanya para malaikat berwajah hitam dari langit. Mereka membawa kain yang sangat jelek, lalu duduk di sekitarnya sejauh mata memandang. Sesudah itu, datanglah Malaikat Maut. Malaikat Maut duduk di sisi kepalanya dan berkata : ‘Wahai jiwa yang hina, keluarlah kepada kemurkaan Allah’. Ruh tersebut justru semakin tenggelam di dalam jasadnya. Malaikat maut kemudian mencabutnya seperti mencabut batangan besi yang biasa dipakai untuk membakar daging dari jalinan benang wol basah, hingga Malaikat itu mengambil ruh yang hina tersebut.

Saat malaikat maut mengambilnya, para malaikat yang lain tidak membiarkannya walaupun hanya sekejap. Mereka segera mengambil dan  meletakkannya pada kain kasar tadi. Hingga muncullah bau yang amat busuk seperti bau bangkai terbusuk yang pernah ada di muka bumi. Mereka lalu membawanya naik ke langit. Setiap kali melewati sekelompok malaikat, mereka selalu ditanya : ‘Siapakah ruh yang buruk ini?’ Mereka menjawab ‘Fulan bin Fulan’, dengan menyebutkan nama terburuknya sewaktu di dunia. Mereka pun meminta agar pintu langit di buka, tetapi pintu itu tidak dibukakan untuknya.”

Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca :
“...Tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. ...”. [QS. Al-A’raf : 40]

Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata : “Catatlah kitab amalnya di Sijjiin, di bumi yang paling bawah”. Lantas ruhnya dilemparkan. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan firman Allah Ta’ala :

“...Barang siapa menyekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”. [QS. AL-Hajj : 31]

Ruh itu lalu dikembalikan ke jasadnya. Setelah itu datanglah dua malaikat, lalu mendudukkannya dan bertanya kepadanya :  
‘Siapa Rabbmu?’ 
‘Ha ha ha, aku tidak tahu’ jawabnya.  
‘Apa agamamu?’ 
‘Ha ha ha, aku tidak tahu’. 
‘Siapakah orang ini, yang dahulu diutus kepada kalian?’ 
‘Ha ha ha, aku tidak tahu’.

Tiba-tiba terdengar seruan dari langit : ‘Hamba-Ku berdusta. Bentangkanlah untuknya permadani dari Neraka, berikanlah ia pakaian dari api Neraka, dan bukalah pintu Neraka untuknya’. Ia pun merasakan hawa panasnya Neraka yang panasnya belum pernah ia rasakan dahsyatnya. Kuburnya pun disempitkan, hingga tulang-tulang rusuknya berantakan.

Kemudian, datanglah seorang yang wajahnya berwarna gelap dan buruk, berpakaian lusuh dan berbau sangat busuk. Orang itu lalu berkata : ‘Bergembiralah dengan berita buruk untukmu! inilah hari yang dijanjikan kepadamu’. 
‘Siapakah engkau? wajahmu mendatangkan keburukan’ tanyanya.
‘Aku adalah amal burukmu’.
Ia lantas berkata : ‘Wahai Rabb-ku, janganlah Engkau datangkan hari kiamat’.

Disebutkan juga di dalam suatu lafaz dari Ahmad :
‘Setelah itu dihadirkan kepadanya seorang yang buta, tuli dan bisu. Di tangannya terdapat palu godam yang sekiranya dihantamkan ke sebuah gunung niscaya gunung tersebut akan hancur menjadi debu. Orang tadi pun memukulnya dengan satu pukulan yang membuatnya hancur menjadi debu. Allah mengembalikannya seperti semula, lalu orang tadi kembali memukulnya sebagaimana sebelumnya hingga kembali hancur menjadi debu. Maka berteriaklah dia dengan teriakan yang dapat didengar oleh semua makhluk, kecuali jin dan manusia’.

Al-Bara radhiyallahu ‘anhu berkata : “Lalu, salah satu pintu Neraka dibukakan untuknya dan dibentangkan pula tempat tidur dari Neraka”.

Di dalam Al-Musnad, juga dari Al-Bara radhiyallahu ‘anhu, disebutkan :
“Saat kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau melihat sekumpulan orang. Beliau pun bertanya : ‘Mengapa mereka berkumpul?’ salah seorang menjawab ‘mereka sedang menggali kuburan’. Rrasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tampak kaget, dan segera berlalu dari hadapan para sahabat. Setelah sampai di kuburan tersebut, beliau berlutut. Aku menyusul beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdiri di hadapannya untuk melihat apa yang beliau hendak lakukan. Beliau pun menangis hingga tanah menjadi basah oleh air matanya. Beliau lalu menghadapkan wajahnya kepada kami dan berkata : “Wahai saudara-saudaraku, persiapkanlah diri-diri kalian untuk hari seperti ini”.


Referensi :
Kitab Al-Mushnad (IV/287,288,294,295 dan 296)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel