Keadaan Ruh Setelah Kematian (Bag 1)


Mulianya Keadaan Ruh Orang Beriman Setelah Kematiannya
ilustrasi : Keadaan Ruh saat Kematian

Mulianya Keadaan Ruh Orang Beriman Setelah Kematiannya


Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". [QS. Al-Jumu’ah : 8]

begitu juga dalam firman Allah Ta’ala berikut ini :

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ ۗ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?"  [QS. An-Nisaa : 78]

dan hal senada tentang pastinya sebuah kematian juga disebutkan dalam ayat yang lain, seperti dalam Surah Al-Anbiyaa ayat 34, surah Ar-Rahmaan ayat 26-27 atau juga dalam surah Ali Imran ayat 185

Demikian banyaknya ayat yang menyatakan tentang akan datangnya pintu kematian pada setiap yang bernyawa, merupakan penegasan bahwa setiap manusia wajib untuk senantiasa istiqamah mempersiapkan bekal yang akan dibawanya menuju alam akhirat yang kekal selama-lamanya.

Tak sedikit di antara manusia yang terlena dalam kesenangan dunia yang sementara, sehingga keadaan ruh setelah kematiannya penuh dengan penyesalan yang tiada bertepi. Namun banyak pula keadaan ruh di antara muslim yang taat yang pada akhir hidup setelah kematiannya menyunggingkan senyuman yang menandakan indahnya kampung akhirat yang akan ia tempati kelak.

Kematian memang rahasia Allah ‘Azza wa Jalla, namun setiap manusia perlu berusaha untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian menuju ke alam akhirat yang kekal selama-lamanya. Jika persiapan kita baik, maka keadaan ruh kita setelah kematian akan memperoleh kesenangan dan berbagai keindahan, sedangkan jika tidak memiliki persiapan menghadapinya, maka keadaan ruh kita setelah kematian akan menerima akbiat buruk dan berbagai siksaan yang pedih.

Berikut ini sebuah kisah riwayat perjalanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama sahabat, yang akan menjelaskan tentang keadaan ruh setelah kematian, baik ruh mukmin yang taat atau juga ruh orang kafir.

Mulianya Keadaan Ruh Orang Beriman Setelah Kematiannya

Di dalam Al-Musnad, dari Al Bara bin Azib, ia berkata : “kami pernah keluar bersama Nabi untuk menyertai jenazah salah seorang Anshar. Kami berhenti dikuburnya sementara liang lahatnya belum selesai dibuat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk dan kami pun duduk di sekitar beliau, hingga seolah-olah di atas kepala kami ada burung (menandakan suasana hening dan khusyu’). Ditangan beliau terdapat ranring pohon yang dipukul-pukulkan ke tanah. Beliau lalu mengangkat kepalanya dan berkata : ‘Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur.’ beliau mengulanginya sebanyak dua atau tiga kali.

Nabi melanjutkan : “Ketika sorang hamba mukmin menghadapi saat-saat berpisah dari dunia dan menghadap ke akhirat, turunlah kepadanya Malaikat yang berwajah putih dari langit. Wajah mereka seperti matahari, mereka membawa kafan dari hanuth dari Surga. Hanuth adalah salah satu jenis minyak wangi yang biasanya digunakan untuk kafan dan jasad orang yang telah meninggal. Mereka lalu duduk di sekitarnya sejauh mata memandang.

Selanjutnya datanglah Malaikat Maut. Ia duduk di sisi kepalanya dan berkata : ‘Keluarlah wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah’. Jiwa itu pun mengalir keluar seperti aliran tetes air dari mulut bejana, kemudian malaikat maut segera mengambilnya.

Saat Malaikat Maut mengambilnya, para Malaikat yang lain tidak membiarkan jiwa tersebut berada di tangannya walaupun hanya sekejap. Mereka segera mengambil lalu meletakkannya pada kafan dan hanuth, hingga keluar dari jiwa tersebut aroma harum seperti aroma minyak kesturi terwangi yang ada di bumi. mereka lalu membawanya naik ke langit. Setiap kali melewati kelompok malaikat langit, mereka selalu ditanya : ‘Siapakah ruh yang baik ini?’, mereka menjawab ‘Fulan bin Fulan’, dengan menyebutkan nama terbaiknya sewaktu masih di dunia. Hingga mereka tiba pada langit dunia. Mereka pun meminta agar dibukakan pintu langit untuk jiwa tersebut, lalu dibukalah pintu tersebut untuknya. Malaikat Muqarrabun di langit tersebut turut mengantarnya hingga ke langit selanjutnya. Demikianlah seterusnya hingga ke langit ke tujuh.

Kemudian, Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata : ‘Catatlah kitab amal hamba-Ku dalam ‘Illiyyin dan kembalikanlah ia ke bumi. Karena Aku menciptakan mereka dari tanah. Aku pun mengembalikan mereka ke tanah pula, juga darinya akan Aku keluarkan mereka pada kali yang lain.”

Nabi sahallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan : “Maka ruhnya dikembalikan ke bumi. Setelah itu datang dua malaikat kepadanya. Keduanya mendudukkan hamba tadi dan bertanya kepadanya : ‘Siapa Rabbmu?’ ‘Rabbku adalah Allah’ jawabnya. ‘Apa agamamu?’ tanya kedua malaikat tersebut, ‘agamaku adalah Islam’. ‘Siapa laki-laki ini, yang diutus kepada kalian?’ ‘Dia adalah Muhammad Rasulullah’. ‘Apa Ilmumu?’ ‘aku membaca Kitabullah, akupun mengimani dan membenarkannya’. Tiba-tiba, terdengarlah seruan dari langit : ‘Hamba-Ku benar. Bentangkanlah untuknya permadani dari Surga. Berilah ia pakaian dari Surga, dan bukakanlah satu pintu menuju Surga untuknya’.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan : “ ia mendapatkan sebagian kesenangan dan keindahan Surga, serta kuburnya dibentangkan sejauh mata memandang. Selanjutnya, datanglah orang yang bagus paras wajahnya, indah pakaiannya, serta wangi semerbak aromanya. Orang itu berkata : ‘Bergembiralah dengan berita baik untukmu. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu’. Ia bertanya : ‘Siapakah engkau? Wajahmu membawa kebaikan’. Orang tadi menjawab : ‘Aku adalah amal shalihmua’. Ia lalu berkata : ‘Wahai Rabbku, segerakanlah kiamat, segerakanlah kiamat, hingga aku dapat kembali kepada keluarga dan hartaku.”
.

berlanjut pada pembahasan selanjutnya : Keadaan Ruh Setelah Kematian (Bag 2)


Referensi :
Kitab Al-Mushnad (IV/287,288,294,295 dan 296)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel