7 Alasan Mengapa Merayakan Maulid Nabi Itu Bid’ah

LangitAllah.com - Perbedaan pendapat tentang hukum merayakan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh merupakan perkara yang sangat disayangkan yang terjadi di tengah-tengah umat muslim saat ini. Beberapa ulama berpendapat bolehnya merayakan maulid nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tak sedikit juga di antara pala ulama yang berpendapat bahwa merayakan maulid nabi adalah perkara yang diada-adakan dalam syariat islam dan tidakmemiliki dalil kuat sehingga dikategorikan sebagai perbuatan bid’ah.

Lalu bagaimana kita mengetahui hukum merayakan maulid nabi itu sesuai dengan syariat islam?. Apakah memang dalam agama islam tidak ada tuntunan atau dalil-dalil yang membolehkan merayakan maulid nabi ini?. 

7 Alasan Mengapa Merayakan Maulid Nabi Itu Bid’ah, hukum merayakan maulid nabi
ilustrasi gambar : Dalil Larangan Merayakan Maulid Nabi Itu Bid’ah

Mari kita simak bersama-sama, apa kata dalil-dalil tentang hukum merayakan maulid nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan dalil-dalil yang akan kita jadikan rujukan menyangkut perkara hukum merayakan maulid nabi adalah bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.

Sebelum kita menyimpulkan langsung tentang hukum merayakan maulid nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, akan sangat baik jika kita membahas landasan pemikiran tentang dalil-dalil terkait yang wajib kita ketahui bersama. 

Perlu kita pahami, bahwa seutama-utama kewajiban atas seorang mu’min adalah keyakinannya untuk beriman secara mantap bahwa Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama-Nya bagi kita dan mencukupkan nikmat-Nya atas kita dengan diutusnya seorang rasul yaitu Rasulullah Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu  wa  Ta’ala berfirman: 

“...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” [QS. Al-Maidah : 3].

Dan juga telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : 

“Aku telah meninggalkan kalian atas hujjah yang terang, malamnya seperti siangnya, maka orang yang menyimpang dari hujjah (keterangan) tersebut setelahku pasti akan binasa.” [HR. Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, hadits no. 5]. 

Sehingga bagi seorang muslim yang menghendaki jalan keselamatan, maka wajib baginya membatasi tingkah laku dan ibadahnya sesuai dengan apa yang telah disyariatkan oleh Allah Ta’ala untuknya melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta tidak rela terhadap dirinya atau orang lain atau siapapun jika ada yang membuat syariat dalam agama Allah Ta’ala atau menganggap sesuatu itu  baik berdasarkan akal dan hawa nafsunya.


Hukum Merayakan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam islam


Telah disepakati bahwa segala kebaikan hanya akan diperoleh dengan mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta tiga generasi terbaik setelahnya (yaitu generasi para shahabat, generasi Tabi’in dan generasi Tabi’ut Tabi’in).

Dan barangsiapa yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan cara beribadah yang belum pernah dilakukan pada masa yang terbaik tersebut maka ibadahnya akan tertolak, ia wajib menanggung setiap dosanya meskipun perbuatannya itu dilakukan dengan penuh keikhlasan dan
kesungguhan mengharap ridha Allah Ta’ala. 

Maka amat beruntunglah mukmin yang mencintai Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menjadikannya pedoman hidup, ia tidak akan beramal dengan suatu amalan yang tidak diperbolehkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala  baik berupa perayaan, atau peringatan, atau ibadah lainnya, ia hanya akan beramal dengan amalan yang ada tuntunannya. 

Dari sini kita dapat memahami ucapan ulama yang berbunyi : “Segala macam ibadah dilakukan harus dengan tauqifiyyah“, yaitu harus berdasarkan nash dari Al-Qur’an atau As-Sunnah, tidak ada tempat bagi akal untuk membuat syariat atau mengatakan baik buruknya suatu perbuatan. Apabila kita menginginkan dalil-dalil maka tidak terhitung banyaknya, diantaranya :

  1. Firman Allah Ta’ala: “Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikuti aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” [QS. Ali Imran 31].
  2. Firman Allah subhanahu wa Ta’ala : “Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.” [QS. Asy-Syura 10].
  3. Ucapan Ibnu Mas’ud radliyallahu 'anhu: “Ikutilah kalian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan janganlah kalian berbuat bid’ah, maka itu cukup bagimu.”
  4. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam agama kami ini, sesuatu yang tidak ada dasar dari padanya, maka dia itu pasti tertolak.” [HR. Bukhari dan Muslim; Shahih].
  5. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah kalian mengada-adakan perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” [HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud, hadits no. 3851].


Perhatikanlah sejenak ucapan yang sangat teliti di atas, diucapkan bukan berdasarkan hawa nafsu tetapi ucapan tersebut bersumber dari wahyu, yaitu “…..karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat”. Sangat jelas bagi siapa saja bahwa kata “setiap” yang dimaksudkan adalah termasuk dari ucapan-ucapan yang mempunyai arti umum, mencakup segala jenis bid’ah tanpa terkecuali.

Mari kita menarik perkara hukum merayakan maulid nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke dalam dalil-dalil di atas yang merupakan dalil pemahaman aqidah kita selaku orang yang beriman. Mungkin sebagian kita bertanya, apakah dengan begitu hukum merayakan maulid nabi itu telah dapat dikategorikan sebagai perilaku bid’ah?. Mari kita simak sejenak sejarah maulid nabi ini, kapan sih manusia mulai merayakan maulid nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?. Atau kapan kebiasaan merayakan maulid nabi ini mulai berkembang?. Ayo kita simak sejarah maulid nabi berikut ini.


Sejarah Singkat Berkembangnya Maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam


Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebutkan dalam kitabnya Al-Bidaayah wan-Nihaayah (11\172) bahwa Daulah Fathimiyyah ‘Ubaidiyyah nisbah kepada ‘Ubaidullah bin Maimun Al-Qadah Al-Yahudi yang memerintah Mesir dari tahun 357 - 567 H. Merekalah yang pertama-tama merayakan berbagai perayaan, di antaranya mereka merayakan Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keterangan ini ditulis juga oleh Al-Maqrizy dalam kitabnya Al-Mawa’idz wal-I’tibaar (1\490), dan Syaikh Muhammad Bakhit Al-Muthi’i, mufti Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam fiima Yata’allaqu bissunnah wal Bid’ah minal Ahkam [halaman 44-45], dan Syaikh ‘Ali Mahfudz menyetujui mereka dalam kitabnya yang baik Al-Ibdaa’ fii Madhaarr Al-Ibtidaa’ [hal. 251] dan selain mereka masih banyak lagi. Jadi yang pertama-tama mensyariatkan merayakan maulid nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah orang-orang Zindiq (menampakkan keislaman untuk menyembunyikan kekafiran) Al-‘Ubaidiyyun dari Syi’ah Rafidhah keturunan Abdullah bin Saba Al-Yahudi. Mereka tidak mungkin melakukan yang demikian (merayakan maulid nabi) karena cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi karena ada maksud lain yang tersembunyi di balik itu semua.


7 Alasan Mengapa Merayakan Maulid Nabi Itu Bid’ah, hukum merayakan maulid nabi, nasehat islami
gambar : Nasehat Islami


7 Alasan Mengapa Merayakan Maulid Nabi Itu Bid’ah


Setelah kita mengetahui tentang sejarah dimulainya merayakan maulid nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga ini semua menjadi jalan hidayah bagi kita sekalian untuk dapat segera meninggalkan perkara bid’ah yang sesungguhnya tidak ada tuntunannya, baik dari Al-Qur’an maupun hadits shahih, yang dengan perbuatan itu akan mengundang murka Allah Ta’ala. Na’udzubillahi min zaalik.

Berikut ini 7 alasan mengapa merayakan maulid nabi itu dikategorikan sebagai perbuatan bid’ah, sedangkan perkara merayakan maulid nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana kita ketahui :

  1. Belum pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat serta para Tabi’in yang mengikuti para shahabat dengan kebaikan yang merupakan generasi terbaik, sedangkan mereka adalah orang-orang yang paling memahami secara detil tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah serta paling sempurna cintanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tentu saja merekalah yang akan paling pertama mendahului kita semua merayakan maulid nabi, jika saja merayakan maulid nabi itu baik dan pernah diperintahkan atau dicontohkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 
  2. Sebagaimana telah dijelaskan dalam sejarah berkembangnya sebagian umat islam merayakan maulid nabi bahwa yang pertama-tama melaksanakannya adalah orang-orang Zindiq di masa pemerintahan Fathimiyyah di abad ke-4 hijriyyah, sedangkan abad ke-4 hiriyyah bukanlah termasuk dalam generasi terbaik. 
  3. Sesungguhnya merayakan maulid nabi itu menyerupai orang-orang Nasrani yang terbiasa memperingati kelahiran Al-Masih ‘Alaihis Salam, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kita untuk menyerupai dan meniru perilaku mereka dalam hari raya mereka.
  4. Merayakan maulid nabi sama saja menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan mereka yang merayakan maulid nabi itu seakan-akan hendak mengatakan bahwa Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam belum menyampaikan secara sempurna seluruh hal yang Allah syariatkan melalui lisannya. Sedang Allah Subhanahu  wa  Ta’ala berfirman: “...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” [QS. Al-Maidah : 3]. Dan juga telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Aku telah meninggalkan kalian atas hujjah yang terang, malamnya seperti siangnya, maka orang yang menyimpangdari hujjah (keterangan) tersebut setelahku pasti akan binasa.” [HSR. Ibnu Majah]. Lalu bagaimana dengan para shahabat nabi, akankah juga kita hendak menyelisihinya karena mereka tidak pernah merayakan maulid nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?.
  5. Merayakan maulid bukan merupakan bukti kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan bukti kecintaan yang benar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang  diinginkan Allah subhanahu wa ta’ala adalah sebagaimana firman-Nya: “Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu…” [QS. Ali Imran : 31]. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda: “Semua umatku masuk jannah (surga) kecuali yang enggan”. Mereka (para shahabat radliyallahu 'anhum) berkata: “Siapa wahai rasulullah yang enggan?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Barangsiapa yang taat kepadaku maka ia masuk jannah (surga) dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka dia telah enggan.” [HSR. Bukhari]. 
  6. Kebanyakan dari ulama masa sekarang menyebutkan banyaknya kerusakan yang besar dan berbagai kemungkaran yang terjadi dalam hal merayakan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perayaan lain yang serupa dengannya. Diantara banyaknya kemungkaran dan perbuatan maksiat dalam merayakan maulid nabi adalah dengan banyaknya lantunan syair-syair tentang maulid nabi, bercampurnya laki-laki dan perempuan meski bukan mahram, mengagungkan perayaan maulid nabi dengan berbagai ritual yang seakan-akan lebih diagungkan dibandingkan malam lailatul qadar, sedangkan menyibukkan diri dengan ibadah di malam lailatul qadar lebih disyariatkan dari merayakan maulid nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan sebagian di antara mereka yang merayakan maulid nabi mengkafirkan orang-orang yang tidak ikut merayakan maulid nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  7. Hari di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan adalah juga merupakan hari di mana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat yaitu hari yang ke duabelas dari bulan Rabiul Awwal. Sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab-kitab sirah, bukankah sedih pada waktu itu lebih utama dari bergembira?. Hari di mana umat muslim di seluruh dunia telah kehilangan sosok Rasul yang mulia, yang telah membawakan risalah sangat penting dan sebagai rahmatan lil’alamiin. Bukankah selayaknya kita merasa sangat terpukul dan kehilangan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam?. Maka secara akal seharusnya hari itu bukan dijadikan perayaan maulid nabi, namun lebih pantas sebagai hari berkabung umat muslim di seluruh penjuru dunia. Hanya saja dalam syariat islam tidak diperkenankan melakukannya, apalagi merayakan maulid nabi yang sesungguhnya tidak ada dalil tuntunannya, baik dari Al-Qur’an maupun dari lisan danperbuatan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Sahabat, kita semua cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun bukan berarti kita boleh melakukan syariat lain di luar yang telah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam syariatkan. Maka jauhilah merayakan maulid nabi, setidaknya tidak ikut merayakan maulid nabi itu di antara mereka yang merayakannya. 

Jika engkau tak mampu melarang dengan tanganmu, maka lakukan dengan lisanmu, dan jika itupun tak kau sanggupi maka doakanlah saudaramu dengan memohonkan hidayah baginya.

Wallahu a’lam.

Semoga Allah Ta’ala memberi shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga kepada keluarganya serta para shahabatnya.

Demikian risalah tentang “7 Alasan Mengapa Merayakan Maulid Nabi Itu Bid’ah”. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Disarikan dari buletin berjudul Hal Nahtafil yang telah diterjemahkan oleh Fariq Qasim Anuz.
Terbitan JEDDAH DA’WAH CENTER  Jeddah - Saudi Arabia.

Klik pada icon Download berikut untuk mendownload file PDF "7 Alasan Mengapa Merayakan Maulid Nabi Itu Bid’ah"

Download Button
Dapatkan File PDF di sini
____________
Label : maulid nabi, hukum merayakan maulid nabi
Deskripsi : Artikel ini akan mengupas seputar hukum merayakan maulid nabi dan alasan mengapa merayakan maulid nabi itu bid’ah. Maraknya perbincangan tentang pendapat para ulama tentang hukum merayakan maulid nabi seringkali membuat kita kebingungan. Ulama yang satu membolehkannya, sedang di saat bersamaan ulama lainnya melarang perayaan tersebut.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel