Syarat-Syarat Poligami Dalam Islam

Syarat-Syarat Poligami Dalam Islam
Ilustrasi : Icon Poligami

 

Syarat-Syarat Poligami Dalam Islam



Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

LANGITALLAH.com | Syarat-Syarat Poligami Dalam Islam
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya tentang poligami, bahwa poligami merupakan sebuah kondisi dimana serang pria atau lelaki memiliki dua orang istri yang sah atau lebih dalam waktu yang sama, artinya para istri tidak dicerai saat menikahi istri yang lain. Jadi tidak dikatakan poligami manakala seorang lelaki menikahi seorang wanita setelah menceraikan istrinya terlebih dahulu.

Ada banyak dalil-dalil yang menyebutkan tentang dibolehkannya poligami dalam islam. Salah satu dalil yang diambil dari Al-Qur’an Al-Kariim, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى? فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى? وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ? فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ? ذَ?لِكَ أَدْنَى? أَلَّا تَعُولُوا

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” [QS. An-Nisaa’ : 3]

Dalam dalil hadits disebutkan dalam Abu Dawud yang meriwayatkan dari al-Harits bin Qais bin ‘Umairah al-Asadi, ia mengatakan, “Aku masuk Islam, sedangkan aku mempunyai delapan isteri. Lalu aku menyebutkan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, “Pilihlah empat di antara mereka.” [HR. Abu Dawud no.1914, Ibnu Majah no.1953. Ibnu Katsir berkata dalam Tafsir al-Qur’an I/599 : “Sanadnya bagus”]

Untuk memperoleh penjelasan dari dalil-dalil tersebut di atas, silakan baca selengkapnya pada materi risalah tentang Dalil-dalil Poligami dalam Islam.


Syarat-Syarat Poligami Dalam Islam Yang Wajib Diketahui


1. Jumlah Istri Maksimal 4 Orang

Terkadang kita jumpai seorang lelaki yang memiliki istri lebih dari 4 orang istri. Bahkan dalam sebuah infotaimen ada seorang yang memiliki hingga 100 orang istri yang berkumpul dalam sebuah bangunan besar yang menyerupai apartemen dengan masing-masing istri memiliki kamarnya sendiri-sendiri bersama anak-anaknya.

Namun apakah itu dibolehkan dalam syari’at islam?


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“...maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat...” [QS. An-Nisaa’ : 3]

Poligami bertujuan untuk membantu para wanita yang belum menikah, wanita yang kurang mampu, atau janda-janda yang kurang mampu agar supaya ada seorang lelaki yang bisa menafkahinya. Sebab dengan menikah kedudukan seorang wanita bisa dinaikkan. Dengan menikah juga dapat menjadi sebab wanita masuk ke dalam surga. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala membolehkan perkara poligami.

Dalam perkara jumlah wanita yang boleh dinikahi sekaligus, Allah Ta’ala membantasinya karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui bahwa urusan poligami itu sesungguhnya sangat sulit bagi seorang lelaki. Sedikit saja berlaku tidak adil terhadap istri-istrinya, maka perbuatannya bisa menjerumuskannya ke dalam neraka. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala membolehkan poligami cukup empat orang istri saja.

“Dari Qais Ibnu Al-Harits ia berkata: Ketika masuk Islam saya memiliki delapan istri, saya menemui Rasulullah dan menceritakan keadaan saya, lalu beliau bersabda: “Pilih empat diantara mereka”. [HR. Ibnu Majah]

Tetapi jika muncul pertanyaan, mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam boleh menikahi 11 orang wanita sedangkan umatnya hanya boleh 4 orang istri saja?. Maka jawabannya adalah :

Ketahuilah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah bukan didasari oleh syahwat atau nafsu, melainkan sebab keadaan dan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kebanyakan wanita-wanita mulia yang dinikahi oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wanita-wanita yang telah berumur dan telah tua. Sesungguhnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memiliki 2 orang istri yang berstatus gadis, sedangkan 9 orang adalah janda. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan poligami saat usianya mencapai 50 tahun.


2. Mampu Berbuat Adil Terhadap Semua Istri

Syarat poligami yang kedua ini cukup berat. Syarat kedua ini mewajibkan seorang suami untuk berbuat adil kepada para istrinya. Adil yang dimaksud di sini adalah adil yang meliputi banyak hal, termasuk dalam berbuat adil memenuhi nafkah lahir dan nafkah biologis. Apabila istri yang satu dibelikan sebuah baju, maka istri yang lain pun memiliki hak untuk dibelikan baju yang sama. Begitu pun dalam hal kasih sayang. Seorang suami tidak dibenarkan untuk lebih condong kepada salah seorang istrinya saja dan melalaikan istrinya yang lain. Dan masih banyak perkara lain yang harus senantiasa diperlakukan adil oleh seorang suami.

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. An-Nisaa’: 129]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ancama kepada siapa saja suami yang lebih menyayangi salah satu istrinya dibandingkan dengan istrinya yang lain.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa memiliki dua isteri, kemudian ia lebih condong kepada salah satu dari keduanya, maka ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan pundaknya miring sebelah.” [HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ahmad]


3. Tetap Istiqamah Dalam Ibadah Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Kebanyakan manusia di dunia ini hidup saling berbangga-bangga mengenai harta dan keturunan. Keturunan yang termasuk di dalamnya anak-anak yang dilahirkan dari istri-istri yang ia nikahi. Yang menyebabkan ia lalai terhadap ibadah yang seharusnya ia jaga dalam hidupnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” [QS. Al-Munafiqun : 9]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka. Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Ath-Thaghabun : 14]


4. Tidak ber-poligami dengan 2 Wanita yang bersaudara kandung

Memilih istri untuk dinikahi memiliki batasa dan larangan tertentu. Sebaiknya pilihlah wanita-wanita untuk dijadikan istri dari keturunan yang berbeda-beda. Sesungguhnya pernikahan yang dilakukan terhadap dua wanita yang masih memiliki hubungan darah erat tidak diperbolehkan dalam syariat islam. Misalnya; dilarang menikahi saudara dari istri, dilarang juga menikahi bibi dari istri, dan seterusnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. An-Nisaa’ : 23]

Imam Al-Bukhari dalam haditsnya :

bahwa Ummu Habibah (isteri Rasulullah) mengusulkan agar baginda menikahi adiknya. Maka beliau menjawab; “Sesungguhnya dia tidak halal untukku.” [HR. Al-Bukhari, An Nasa’i]


5. Mampu Menjaga Kehormatan Istri-istrinya

Seorang suami memiliki kewajiban untuk menjaga dan melindungi keluarganya, baik istri dan juga anak-anaknya agar terhindar dari api neraka. Ini menandakan bahwa seorang suami memiliki kewajiban untuk membekali istri dan anak-anaknya dengan ilmu agama yang baik, menghindari ghibah apalagi fitnah, berkata yang baik, jujur, amanah, dan sebagainya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS. At-Tahrim : 6]

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” [QS. Thaha : 132].

Wallahu a’lam

Demikian risalah tentang “Syarat-syarat Poligami Dalam Islam” semoga bermanfaat.


_____
Label : Keluarga, Aqidah, Poligami, syarat-syarat poligami
Deskripsi : Dalam risalah ini akan diuraikan sejumlah syarat yang harus diperhatikan jika seorang lelaki memutuskan untuk melakukan poligami.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel