Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memanjangkan Kuku Hukumnya Haram. Benarkah? Ayo Buka Dalil

Memanjangkan Kuku Hukumnya Haram. Benarkah? Ayo Buka Dalil
Ilustrasi : Kuku Panjang Wanita

Memanjangkan Kuku Hukumnya Haram. Benarkah? Ayo Buka Dalil



Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

LANGITALLAH.com | Memanjangkan Kuku Hukumnya Haram. Benarkah?
Tren anak muda yang bahkan tak sedikit pula kalangan berumur melakukannya dalah tren memanjangkan kuku. Tren ini kebanyakan menjangkit kaum hawa atau para wanita, meski tak sedikit juga kaum lelaki yang ikut-ikutan memanjangkan kuku entah dengan alasan apa.

Lalu apakah tren memanjangkan kuku ini dibolehkan dalam syariat islam atau malah terdapat larangan memanjangkan kuku?. Untuk menjawab perkara hukum memanjangkan kuku ini, harus dilengkapi dengan dalil-dalil hadits yang jelas dan tidak bertentang dengan Al-Qur’an serta hadits-hadits shahih lainnya yang berkaitan dengan hal memanjangkan kuku.


5 Fitrah Yang Melekat Pada Diri Setiap Muslim


Salah satu yang wajib untuk difahami betul bahwa memotong kuku adalah salah satu dari 5 fitrah yang telah ditetapkan Allah Ta’ala bagi setiap hamba-Nya, yang dipesankan dengan tegas melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْآبَاطِ

“Ada lima macam fitrah, yakni khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” [HR. Bukhari no.5891 dan Muslim no.258]

Dari kalimat hadits di atas telah sangat jelas bagi kita untuk memahami, bahwa fitrah yang ditegaskan melalui lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan perintah bagi setiap muslim untuk diikuti dan dikerjakan. Sedangkan memanjangkan kuku merupakan perbuatan yang menentang fitrah dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam wasiat perpisahan beliau, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan :

“Aku wasiatkan kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari negeri habasyah (Ethiopia). .... Maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Al-Khalifah Ar-Rasyid yang diberi petunjuk oleh Allah. Gigitlah Sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian. ...” [HR. An-Nasai dan At-Tirmidzi]

Dalam pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kita senantiasa taat kepada perintah Allah Ta’ala dan hanya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunnah.

Selain menentang fitrah, memanjangkan kuku juga akan mengakibatkan banyak keburukan baginya. Diantara keburukannya adalah membuat kuku lebih mudah kotor, kulit yang berada di bawah lapisan kuku akan sangat sulit dibersihkan pada saat berwudhu apalagi saat mandi junub. Pun disaat makan sudah bisa dipastikan bagi yang memiliki kuku panjang akan menelan banyak sekali kuman dan bakteri yang bersarang di bawah lapisan kukunya meski ia sudah dibersihkan dengan air. Sementara syariat islam sangat mencintai kebersihan dan kesehatan ummat.

Imam Nawawi rahimahullah menerangkan, “Seandainya di bawah kuku ada kotoran namun masih membuat air mengenai anggota wudhu karena kotorannya hanyalah secuil, wudhunya tetaplah sah. Namun jika kotoran tersebut menghalangi kulit terkena air, maka wudhunya jadilah tidak sah dan tidak bisa menghilangkan hadats.” [Al Majmu’, 1:158]


Hukum Memanjangkan Kuku


Terdapat dua golongan pendapat dari kalangan ulama tentang hukum memanjangkan kuku. Pendapat Pertama, para ulama kebanyakan menyatakan pendapat bahwa hukum memanjangkan kuku adalah makruh. Pendapat Kedua, bahkan bagi sebagian ulama lagi berpendapat jika telah lebih dari 40 hari, memanjangkan kuku hukumnya haram.

Pendapat kedua dipilih oleh Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Author. Dasar pembatasan 40 hari tersebut disandarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang menjelaskan bahwa Rasulullah telah membatasi waktu bagi umat Islam selama 40 hari untuk mencukur kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan.

وُقِّتَ لَنَا فِى قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الأَظْفَارِ وَنَتْفِ الإِبْطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لاَ نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Kami diberi batasan dalam memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, (yaitu) itu semua tidak dibiarkan lebih dari 40 malam.” [HR. Muslim no.258]

Yang dimaksud dalam hadits di atas adalah bahwa jangan sampai kuku dan rambut-rambut atau bulu-bulu yang disebut dalam hadits dibiarkan panjang lebih dari 40 hari. [Lihat Syarh Shahih Muslim, 3: 133].

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Adapun batasan waktu memotong kuku, maka dilihat dari panjangnya kuku tersebut. Ketika telah panjang, maka dipotong. Ini berbeda satu orang dan lainnya. Selain itu, dilihat juga dari kondisi. Hal ini jugalah yang menjadi standar dalam menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan.” [Al Majmu’, 1:158]

Sedangkan Imam Syafi’i dan para Ulama Syafi’iyah berkata bahwa memotong kuku, mencukur bulu kemaluan dan mencabut buku ketiak disunnahkan dilakukan pada hari Jumat. [Al Majmu’, 1:158].

Wallahu Ta’ala a’lam bish shawab

Demikian risalah adab dan akhlak tentang "Hukum Memanjangkan Kuku Menurut Syariat Islam", semoga bermanfaat bagi kita sekalian.
_________
Label : Akhlak, Aqidah, Syariat, Hukum Memanjangkan Kuku
Deskripsi : Tren memanjangkan kuku telah menjangkit bukan hanya para wanita, namun sebagian pria atau lelaki juga melakukan hal ini. Lalu bagaimana hukum islam menjawab perkara ini? Ayo kita simak agar tak ragu dalam merawat kuku kita.