Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keutamaan Kalimat Istirja’ “Inaalillahi Wainaailaihi Raaji'uun”

Keutamaan Kalimat Istirja’ “Inaalillahi Wainaailaihi Raajiun”
Ilustrasi : Kalimat Istirja'
 

Keutamaan Kalimat Istirja’ “Inaalillahi Wainaailaihi Raaji'uun”


Asslamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

LANGITALLAH.com | Keutamaan Kalimat Istirja’ “Inaalillahi Wainaailaihi Raajiun”
Kalimat Istirja’ atau yang lebih dikenal dengan lafazhnya yaitu Inaalillaahi Wainaailaihi Raaji'uun. Kalimat istirja’ ini sangat sering kita dengar ketika mendengar seseorang telah meninggal dunia. Namun pada hakikatnya kalimat istirja (Inaalillahi Wainaailaihi Raaji'iun) ini sangat dianjurkan diucapkan ketika seorang muslim memperoleh cobaan seuatu musibah, baik itu mendengar seseorang meninggal dunia, sedang terkena dampak bencana alam, sedang mengalami sakit, kehilangan harta atau musibah lainnya yang memang sudah seharusnya kita kembalikan pada takdir yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik kepada kita langsung, orang tua kita, ataupun pada kerabat kita yang lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut lapar dan kekurangan harta benda.” [QS. Al-Baqarah : 155].


Dari ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan memberikan ujian kepada seluruh hamba-Nya. Ujian itu dapat berupa rasa takut dan juga ujian dalam hal kekurangan harta benda (miskin). Allah Ta’ala memberikan ujian itu untuk mengetahui (dan Dia Maha Mengetahui) siapa di antara hamba-Nya yang bertakwa, berjihad dan bersabar atas ujian yang diberikan kepadanya.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

“Dan sesungguhnya kami benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan ( baik buruknya ) ihkwal kamu.” [QS. Muhammad : 31]

Dan diantara mereka yang diberikan ujian atasnya, maka orang-orang yang bersabar atas segala ujian itulah yang dinilai sebagai hamba Allah yang terbaik. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ فَشَكَرَ كَانَ لَهُ خَيْرٌ، وَإِنْ أَصَابَهُ شَرٌّ فَصَبَرَ كَانَ لَهُ خَيْرٌ

“Sungguh sangat menakjubkan kondisi seorang mukmin. Seluruh kondisinya baik dan itu tidak ada pada seseorang kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapat nikmat, ia bersukur dan itu adalah yang terbaik baginya.Jika ditimpa musibah, ia bersabar dan itulah yang terbaik bagi dirinya.” [HR. Muslim dalam Shahihnya]


Anjuran Mengucapkan Kalimat Istirja’


Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada manusia untuk senantiasa berserah diri kepada-Nya dalam segala situasi yang dihadapi dengan mengucapkan kalimat Istirja’ yakni kalimat dengan lafazh “Innaa lillaahi wa inaa ilaihi raaji’uun”. Baik itu pada perkara yang baik apalagi dalam perkaran yang menurut pandangan manusia itu tidak baik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
 الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
 أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ


“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [QS. Al-Baqarah : 155-157]

Melalaui ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa setiap hamba akan diuji dengan berbagai cobaan, agar tampak jelas di antara hamba-hamba Allah yang bersungguh-sungguh dalam keimanannya dan yang berdusta dan ragu dalam pengakuannya. Siapa yang larut dalam kesedihan dan yang bersabar dalam ketaatan. Dan sesungguhnya Allah memberikan cobaan dan menurunkan bencana kepada hamba-Nya untuk menguji kesabaran dan keimanan seorang hamba, agar supaya mereka mengangkat kedua telapak tangannya memohon ampunan kepada-Nya.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Mereka orang-orang yang tertimpa musibah menghibur diri mereka dari apa yang menimpa diri mereka dengan mengucapkan kalimat istirja tersebut. Mereka menyadari sebagai milik Allah, Allah berhak menentukan apa saja pada hambahnya sesuai dengan kehendaknya. Mereka pun tau tidak ada amalan seberat biji sawipun yang hilang di sisi-Nya pada hari kiamat.Ucapan itu memunculkan pengakuan mereka sebagai hamba-Nya, dan mereka akan kembali kepada-Nya di kampung akhirat”.


Keutamaan Mengucapkan Kalimat Istirja’


Dalam sebuah hadits disebutkan :

“Tidaklah seorang hamba terkena musibah kemudian ia berdoa, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun (sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kita akan kembali pada-Nya), ya Allah berilah pahala dalam musibah ini dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya,” kecuali Allah akan memberikan pahala dalam musibahnya dan Allah memberi ganti yang lebih baik daipadanya” [HR. Muslim]

Kalimat Istirja’ yang diucapkan oleh seseorang dengan bersungguh-sungguh dalam keimanan dan sabar tersebut memiliki keutamaan-keutamaan sebagai berikut :

1. Membuat hati Ikhlas dan Tawakkal kepada Allah Ta’ala
2. Tidak Memberatkan Hati
3. Menjadikan lebih bersabar atas segala ujian hidup
4. Tidak meratapi masalah dengan berlarut-larut

Syeikh Abdul Razzaq Al-Badr hafidzahullah mengatakan : “Kalimat istirja ini mengandung dua prinsip yang agung, jika seorang hamba mewujudkanya dengan ilmu dan mengamalkanya, dia akan merasa  terhibur dari musibahnya dan memperoleh pahala besar dan kesudahan yang indah”. Kedua prinsip tersebut akan diuraikan sebagai berikut :

1. Mengakui kehambaan diri di hadapan Allah Ta’ala


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [QS Al- Hadid : 22 ].

Ayat tersebut di atas telah cukup bagi seorang hamba untuk mengakui dirinya sebagai seorang hamba yang memiliki Rabb yang telah mengatur segala urusannya di muka bumi ini. Bahwa seorang hamba meyakini dirinya, keluarganya, harta dan anak-anaknya adalah milik Allah Ta’ala. Dialah yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu, dan tak seorang pun yang mampu menolak ketetapanya.

Penghambaan diri Ini tersimpulkan dari kata “innaa lillaahi”, yang artinya “sesungguhnya kami semua adalah milik Allah”. Dia adalah Rabb, sedang manusia adalah hamba-hamba-Nya. Segala sesuatu yang terjadi pada manusia adalah sesuai dengan Qadha dan takdirnya.


2. Meyakini bahwa segala sesuatu itu akan kembali kepada Allah Ta’ala


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الرُّجْعَىٰ

“Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).” [QS. Al-Alaq : 8]

Ayat di atas juga sebagai penjelasan dari kalimat “wainnaailaihi raaji’uun”, yang memiliki makna pengakuan dari seorang hamba bahwa dirinya akan kembali kepada Rabb-nya, dan akan menerima balasan atas segala amal perbuatanya di dunia.

Keutamaan lain dari kalimat istirja’ yang keluar dari lisan seorang hamba adalah apa yang terkandung dalam hadist dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ آجِرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَجَرَهُ اللَّهُ فِي مُصِيبَتِهِ وَخَلَفَ عَلَيْهَا خَيْرًا مِنْهَا

“Tidak ada seorang hamba (muslim) yang tertimpa musibah lalu ia menbaca “innaalillaahi wainnaailahi raaji’uun, Ya Allah berilah pahala kepadaku dalam musibah ini dan berilah aku ganti yang lebih baik darinya”, kecuali Allah akan memberikan pahala baginya dan memberikan ganti yang lebih baik darinya. Ummu Salamah berkata :  “Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku mengucapkan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah kepadaku. Maka, Allah memberikan ganti kepadaku yang lebih baik yaitu Rasulullah.” [HR. Muslim : 918].

Demikian risalah tentang “Keutamaan Kalimat Istirja’” ini, semoga kita sekalian dapat lebih sabar dalam menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersungguh-sungguh dalam keimanan dengan kalimat Istirja’ “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita dalam golongan hamba-hamba terbaik dalam sabar.

Wallahu a’lam


Disadur dari majalah Assunnah, Edisi04/Thn.XXI, Dzulqo’dah 1438 H
Label : Fiqih, Tauhid, Akhlak, Istirja’, Innalillahi wa inna ilaihi rajiun
Deskripsi : Kalimat Istirja’ dengan lafazhnya “Inaalillahi Wainaailaihi Raajiun” sangat sering kita dengar saat mendengar seseorang mendapat cobaan atau musibah. Risalah ini akan menjelaskan tentang keutamaan kalimat istirja’ ini yang disertai dengan berbagai dalil.