Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Haruskah AL-FATIHAH Bukan AL-FATEKA. Yuk Simak Penjelasan Ilmu Tajwidnya

Haruskah AL-FATIHAH Bukan AL-FATEKA. Yuk Simak Penjelasan Ilmu Tajwidnya
Ilustrasi : Al-Fatihah bukan Al-Fateka
 

Haruskah AL-FATIHAH Bukan AL-FATEKA. Berikut Penjelasannya


Assalamu ‘alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh

LANGITALLAH.com | Haruskah AL-FATIHAH Bukan AL-FATEKA

Pekan lalu, kembali dunia islam di Indonesia dihebohkan dengan sebuah kejadian yang lucu sekaligus juga mengundang sejuta tanda tanya tentang kompetensi kepemimpinan yang dimiliki oleh seorang presiden yang malah akhirnya dianggap kurang wawasan keagamaan.

Dalam sebuah acara pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ ) Nasional XXVII tahun 2018, pada hari Ahad 7 Oktober 2018, bapak Joko Widodo yang lebih akrab disapa pak Jokowi adalah orang nomor satu di negara mayoritas islam ini membuka acara tersebut dengan sambutan yang mengundang gemuruh dan teriakan seluruh hadirin yang memadati Gedung Serbaguna Kota Medan Sumatera Utara tersebut. Gemuruh dan teriakan yang bukan menyatakan aplause atau tepukan sanjungan, namun lebih kepada sindiran atas ketidakfasihannya dalam mengucapkan huruf-huruf Al-Qur’an.

Dalam sambutannya, presiden RI ini mengajak seluruh hadirin untuk bersama-sama mengirimkan amalan surah Al-Fatihah untuk korban bencana alam beserta para keluarga yang selamat agar senantiasa diberi ketabahan dan kesabaran.

Sungguh malang nasib pak Jokowi kali ini, pasalnya, ketika mengucapkan kalimat ajakan kepada seluruh hadirin, beliau salah mengucapkan nama surah yang dimaksud, bukannya mengucapkan AL-FATIHAH malah yang terlontar dari mulutnya adalah AL-FATEKA. Terlepas dari sengaja atau tidak, yang pasti keadaan ini sontak membuat seluruh hadirin tertawa sembari berlomba-lomba berceletuk membenarkan lafazh yang semestinya untuk surah yang dimaksud.

“Alaa hadiihi niyaat AL-FATEKA...”, ucap bapak presiden Jokowi dalam sambutannya.
“huuuu..... AL-FATIHAH...!!!”, celetuk para hadirin hampir bersamaan di sela cekikikan.

***

Realita di atas sebetulnya bukan hanya terjadi pada Presiden Jokowi. Banyak umat islam yang telah melakukan hal serupa. Bedanya tidak seheboh ketika seorang presiden Joko Widodo yang mengalami ‘kesalahan’ itu. Tentunya sangat mengundang sorotan ratusan juta rakyat Indonesia. Bapak Jokowi yang adalah Presiden RI, pemimpin ratusan juta rakyat Indonesia, malah salah menyebutkan Surah Al-Fatihah menjadi Al-Fateka dengan tidak memperhatikan Makhrijul Hurufnya, yang tentunya akan memunculkan makna yang berbeda dari makna asalnya. Bayangkan, seorang pemimpin beragama islam sampai tidak memahami pengucapan huruf hijjaiyyah, di masa kepemimpinannya di mana telah lahir ratusan hafizh-hafizhah cilik yang usianya relatif masih sangat muda yang mampu melafazhkan dan menghafalkan 30 Juz Al-Qur’an dengan tajwid yang sangat baik.

Lalu apakah dengan pengucapan Al-Fatihah menjadi Al-Fateka sebagaimana yang diucapkan oleh Presiden RI ini memang memiliki makna dan arti yang berbeda dengan makna seharusnya?.

Bercermin dari keadaan di atas, mari kita simak apakah benar Al-Fatihah itu memiliki makna yang berbeda dengan Al-Fateka? Atau hanya penyebutannya saja yang berbeda (akibat perbedaan dialeg) namun memiliki makna yang sama?


AL-FATIHAH Bolehkah Dibaca AL-FATEKA?


Pengucapan huruf-huruf atau lebih akrab disebut makhrijul huruf, memang merupakan perkara yang penting untuk sama-sama difahami hukumnya. Termasuk apakah tajwid memiliki hukum yang sama dengan kaidah-kaidah makhrijul huruf ini?


Definisi Ilmu Tajwid


Definisi Tajwid secara bahasa adalah mashdar dari jawwada-yujawwidu, yang artinya membaguskan.

Sedangkan Imam Ibnul Jazari menjelaskan definisi tajwid secara istilah,bahwa :
“tajwid adalah membaca dengan membaguskan pelafalannya, yang terhindar dari keburukan pelafalan dan keburukan maknanya, serta membaca dengan maksimal tingkat kebenarannya dan kebagusannya” [An Nasyr fil Qira’at Al ‘Asyr, 1/210].

Beliau (Imam Ibnul Jazari) juga menjelaskan hakekat dari ilmu tajwid,
“maka tajwid itu merupakan penghias bacaan, yaitu dengan memberikan hak-hak, urutan dan tingkatan yang benar kepada setiap huruf, dan mengembalikan setiap huruf pada tempat keluarnya dan pada asalnya, dan menyesuaikan huruf-huruf tersebut pada setiap keadaannya, dan membenarkan lafadznya dan memperindah pelafalannya pada setiap konteks,  menyempurnakan bentuknya. tanpa berlebihan, dan tanpa meremehkan” [An Nasyr fil Qira’at Al ‘Asyr, 1/212].


Hukum Ilmu Tajwid


Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah ditanya, “apakah seorang Muslim boleh membaca Al Qur’an tanpa berpegangan pada kaidah-kaidah tajwid?”.
 
Beliau kemudian menjawab :

“Ya, itu  dibolehkan. Selama tidak terjadi lahn (kesalahan bacaan) di dalamnya. Jika terjadi lahn maka wajib untuk memperbaik lahn-nya tersebut. Adapun tajwid, hukumnya tidak wajib. Tajwid itu untuk memperbagus pelafalan saja, dan untuk memperbagus bacaan Al Qur’an. Tidak diragukan bahwa tajwid itu baik, dan lebih sempurna dalam membaca Al Qur’an. Namun kalau kita katakan ‘barangsiapa yang tidak membaca Al Qur’an dengan tajwid maka berdosa‘ ini adalah perkataan yang tidak ada dalilnya. Bahkan dalil-dalil menunjukkan hal yang berseberangan dengan itu.

Yaitu bahwasanya Al Qur’an diturunkan dalam 7 huruf, hingga setiap manusia membacanya dengan gaya bahasa mereka sendiri. Sampai suatu ketika, dikhawatirkan terjadi perselisihan dan persengketaan di antara kaum Muslimin, maka disatukanlah kaum Muslimin dalam satu qira’ah dengan gaya bahasa Qura’isy di zaman Khalifah Utsman bin ‘Affan radhiallahu ’anhu. Dan ini merupakan salah satu keutamaan beliau (Utsman), dan jasa beliau, serta bukti perhatian besar beliau dalam masa kekhalifahannya untuk mempersatukan umat dalam satu qira’ah. Agar tidak terjadi perselisihan di tengah umat.

Kesimpulannya, membaca Al Qur’an dengan tajwid tidaklah wajib. Yang wajib adalah membaca harakat dan mengucapkan huruf sesuai yang sebagaimana mestinya. Misalnya, tidak mengganti huruf ra’
(ر) dengan lam (ل), atau huruf dzal (ذ) diganti zay (ز), atau semisal itu yang merupakan perkara yang terlarang”. [Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 5/2, Asy Syamilah].

Masih ingat kisah kemarahan Sayyidina Umar bin Khattab terhadap orang yang sembarangan dalam menyebutkan lafal Al-Qur'an, beliau marah menegur seraya ingin memukulnya.

Soal aksen kita tidak boleh saling menghujat dan hina, tapi soal ketepatan makhrijul huruf dan ketepatan melafadzkan huruf itu wajib diluruskan dan wajib belajar untuk mengucapkan
lafal yang tepat dan benar. Apa pasalnya?
Sebab bahasa Arab merupakan bahasa yang paling kaya makna dan paling sensitif terhadap pergeseran makna. Artinya, kesalahan mengucapkan berakibat pada kesalahan makna.

Contohnya:
 
Lafadz "Qalbu" (قلب) bermakna "Hati", namun jika dibaca "Kalbu" (كلب) berubah menjadi "Anjing".

Kosakata "Katala" (كتل) bermaknan"Menawan", tapi jika dibaca "Qatala" (قتل) berarti "Membunuh".

Kata "Sakin" (سكين) dengan fathah bermakna "Ketenangan" bisa berubah menjadi "Pisau" jika dibaca "Sikin" dengan Kasrah.

 
Sehingga berangkat dari sinilah seharusnya kita belajar dan terus belajar memperbaiki bacaan makhrijul huruf kita, sebab kesalahan dalam pengucapan makhraj huruf akan berakibat pada kesalahan-kesalahan bacaan al-Qur'an selanjutnya sehingga maknanya pun berbeda-beda.

Baiklah, sampai pada pembahasan ini, silakan disimpulkan sendiri. Apakah pengucapan (lafazh) Al-Fatihah menjadi Al-Fateka seperti yang diucapkan oleh Presiden Jokowi itu salah berdasarkan hukum tajwid atau harakat huruf sebagaimana mestinya? Atau ada pendapat lain?. Jika masih membutuhkan referensi, silakan baca penjelasan tambahan berikut ini.

 

PERGESERAN MAKNA

 
Sekarang mari kita perhatikan pergeseran makna dari "Al-Fatihah" menjadi "Al-Fateka", menurut Al-Mu'jam al-Wasith kamus yang menjadi rujukan bahasa Arab yang sangat repesentatif saat ini. 
 
Apakah pengucapan "Al-Fatihah" menjadi "Al-Fateka" merubah makna atau tidak?

Al-Fatihah bermakna : "Pembuka"
Al-Fatika / Al-Fateka bermakna : "Kesewenangan", "Membunuh", dan "Kekerasan."


Maka, dapat disimpulkan bahwa budaya dan aksen atau dialek bahasa daerah tidak bisa dijadikan justifikasi atas kesalahan pengucapan makharijul huruf bahasa Arab dan menganggapnya sebagai perkara yang sepele.

Terdapat penjelasan yang bagus dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah :

ذَهَبَ الْمُتَأَخِّرُونَ إِلَى التَّفْصِيل بَيْنَ مَا هُوَ (وَاجِبٌ شَرْعِيٌّ) مِنْ مَسَائِل التَّجْوِيدِ، وَهُوَ مَا يُؤَدِّي تَرْكُهُ إِلَى تَغْيِيرِ الْمَبْنَى أَوْ فَسَادِ الْمَعْنَى، وَبَيْنَ مَا هُوَ (وَاجِبٌ صِنَاعِيٌّ) أَيْ أَوْجَبَهُ أَهْل ذَلِكَ الْعِلْمِ لِتَمَامِ إِتْقَانِ الْقِرَاءَةِ، وَهُوَ مَا ذَكَرَهُ الْعُلَمَاءُ فِي كُتُبِ التَّجْوِيدِ مِنْ مَسَائِل لَيْسَتْ كَذَلِكَ، كَالإِْدْغَامِ وَالإِْخْفَاءِ إِلَخْ. فَهَذَا النَّوْعُ لاَ يَأْثَمُ تَارِكُهُ عِنْدَهُمْ.
قَال الشَّيْخُ عَلِيٌّ الْقَارِيُّ بَعْدَ بَيَانِهِ أَنَّ مَخَارِجَ الْحُرُوفِ وَصِفَاتِهَا، وَمُتَعَلِّقَاتِهَا مُعْتَبَرَةٌ فِي لُغَةِ الْعَرَبِ: فَيَنْبَغِي أَنْ تُرَاعَى جَمِيعُ قَوَاعِدِهِمْ وُجُوبًا فِيمَا يَتَغَيَّرُ بِهِ الْمَبْنَى وَيَفْسُدُ الْمَعْنَى، وَاسْتِحْبَابًا فِيمَا يَحْسُنُ بِهِ اللَّفْظُ وَيُسْتَحْسَنُ بِهِ النُّطْقُ حَال الأَْدَاءِ

“para ulama muta’akhirin merinci antara wajib syar’i dengan wajib shina’i dalam masalah tajwid. Wajib syar’i (kewajiban yang dituntut oleh syariat) adalah yang jika meninggalkannya dapat menjerumuskan pada perubahan struktur kalimat atau makna yang rusak. Dan wajib shina’i adalah hal-hal yang diwajibkan para ulama qiraat untuk menyempurnakan kebagusan bacaan.

Maka apa yang disebutkan pada ulama qiraat dalam kitab-kitab ilmu tajwid mengenai wajibnya berbagai hukum tajwid, bukanlah demikian memahaminya. Seperti idgham, ikhfa’, dan seterusnya, ini adalah hal-hal yang tidak berdosa jika meninggalkannya menurut mereka.

Asy Syaikh Ali Al Qari setelah beliau menjelaskan bahwa makharijul huruf berserta sifat-sifat dan hal-hal yang terkait dengannya itu adalah hal yang berpengaruh dalam bahasa arab, beliau berkata: ‘hendaknya setiap orang memperhatikan semua kaidah-kaidah makharijul huruf ini. Wajib hukumnya dalam kadar yang bisa menyebabkan perubahan struktur kalimat dan kerusakan makna. Sunnah hukumnya dalam kadar yang bisa memperbagus pelafalan dan pengucapan ketika membacanya'”
[Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 10/179].

Wallahu Ta’ala a’lam bishshawab.

Demikian materi tentang “Haruskah AL-FATIHAH Bukan AL-FATEKA”. Semoga dengan penjelasan di atas dapat memahamkan kita tentang pentingnya memahami ilmu tajwid yang melengkapi kesempurnaan pengucapan (lafazh) huruf per huruf (makhrijul huruf), oleh karena ada bahaya perbedaan makna yang mengintai serta akan meminta pertanggung jawaban kita di akhirat kelak.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita sekalian dalam memahami Al-Qur’an Al-Kariim.


Label : Al-Qur’an, Al-Fatihah, Al-Fateka, Jokowi salah mengucapka Al-Fateka, Ilmu Tajwid, Hukum Ilmu Tajwid
Deskripsi : Baru-baru ini kita dihebohkan oleh kesalahan pengucapan Al-Fatihah menjadi Al-Fateka oleh Presiden RI bapak Joko Widodo. Bagaimana hukum ilmu tajwid menjawab perkara ini? Ayo kita simak bersama.