HUKUM SHALAT DI ANTARA TIANG MASJID

Hukum Shalat Di Antara Tiang Masjid
Ilustrasi : Tiang-tiang di dalam Masjid

Hukum Shalat Di Antara Tiang Masjid


Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

LANGITALLAH.com | Hukum Shalat Di Antara Tiang Masjid
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan agar mengerjakan shalat di masjid bagi kaum laki-laki, namun tidak membebankan hal serupa terhadap wanita. Para ulama bersepakat bahwa mengerjakan shalat di masjid merupakan ibadah yang agung, meski dalam hukum wajib tidaknya mereka masih berselisih pendapat akan hal itu.

Di antara pendapat tersebut, ada yang menyebutkan bahwa laki-laki wajib hukumnya mengerjakan shalat berjamaah di masjid apabila tidak ada uzur syar’i yang mencegahnya untuk mengerjakan shalat berjamaah di masjid. Ulama yang berpendapat wajibnya laki-laki mengerjakan shalat berjamaah di masjid jika tak ada uzur yang mencegahnya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah dan Ibnul Qayyim Rahimahullah, termasuk pendapat ini juga dipilih oleh mazhab Zahiruyah dan dirajihkan oleh Ibnu Hazm. Dalil tentang hukum shalat fardhu bagi laki-laki dapat dibaca pada artikel “Wajibnya Laki-laki Shalat Berjamaah di Masjid”.

Shalat di masjid sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa merupakan ibadah teragung, namun dalam suatu kondisi dimana masjid memiliki banyak pilar-pilar atau tiang-tiang yang menopang bangunan masjid, apakah sah shalat seseorang yang mengerjakan shalat berjamaah dan membuat shaf-shaf di antara tiang-tiang masjid?.

Keadaan ini banyak kita jumpai di bebagai masjid yang bertebaran di daerah kita. Seringkali terlihat jamaah shalat fardhu membuat shaf-shaf di antara tiang-tiang masjid. Apakah ini dibenarkan oleh hukum agama atau apakah itu justru termasuk memakruhkan shalat berjamaah kita?

Hal senada pernah dipertanyakan oleh seorang pelajar yang merasa khawatir dengan kesempurnaan shalat berjamaahnya di masjid. Berikut pertanyaan tersebut :
“saya pernah mendengar sebaiknya atau mutlak (wallahu a'lam mana yang benar) jangan membuat shaf di tempat yang terputus oleh tiang-tiang masjid misalnya. Pertanyaan saya, apakah hal itu mutlak tidak bisa?, dan apabila kita masbuk, terus yang tersisa adalah shaf yang terputus di antara tiang masjid, sebaiknya bagaimana afdalnya? Apakah saya harus membuat shaf yang baru ataukah boleh menyambung shaf yang sudah ada meski dihalangi oleh tiang masjid?”

Hukum Shalat Berjamaah di antara Tiang Masjid


Hukum Asal membuat shaf di dalam sholat berjamaah adalah tidak boleh terputus-putus. Ada banyak sekali dalil yang memerintahkan agar tidak memutuskan shaf, diantaranya,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

(أقيموا الصفوف و حاذوا بين المناكب و سدو الخلل)

“Rapikanlah/luruskanlah shaf-shaf (dalam shalat) dan sejajarkanlah bahu-bahu kalian dan dan tutuplah celah-celah (tidak boleh terputus-putus).” [Sunan Abu Dawud, dalam kitab Ash-Shalaah no.666]

Hadits tersebut di atas menunjukkah hukum asal shaf di dalam shalat berjamaah. Akan tetapi jika terdapat uzur syar'i di dalamnya, seperti misalnya jamaah terlalu banyak sementara kapasitas masjid menampung jamaah shalat cukup kecil sehingga mengharuskan untuk di isi shaf-shaf di antara tiang-tiang masjid,maka hal ini tidak mengapa.

Makmum dilarang membuat shaf (barisan) di dalam shalat berjamaah di antara dua tiang. Larangan ini ditunjukkan oleh hadits di bawah ini :

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ قُرَّةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنَّا نُنْهَى أَنْ نَصُفَّ بَيْنَ السَّوَارِي عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنُطْرَدُ عَنْهَا طَرْدًا

Dari Mu’awiyah bin Qurrah, dari bapaknya, dia berkata: “Kami dahulu, pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dilarang membuat shaf di antara tiang-tiang, dan kami dijauhkan dari tiang-tiang itu”. [HR Ibnu Majah, no. 1002; Ibnu Khuzaimah, no. 1567; Ibnu Hibban, no. 2219; al Hakim 1/218. Dihasankan oleh Syaikh al Albani di dalam Tsamar Mustathab, hlm. 410]

Para sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mentaati hal ini, sebagaimana disebutkan dalam riwayat :

عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ مَحْمُودٍ قَالَ كُنَّا مَعَ أَنَسٍ فَصَلَّيْنَا مَعَ أَمِيرٍ مِنْ الْأُمَرَاءِ فَدَفَعُونَا حَتَّى قُمْنَا وَصَلَّيْنَا بَيْنَ السَّارِيَتَيْنِ فَجَعَلَ أَنَسٌ يَتَأَخَّرُ وَقَالَ قَدْ كُنَّا نَتَّقِي هَذَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abdul Hamid bin Mahmud, dia berkata: “Kami dahulu bersama Anas bin Malik, lalu kami melakukan shalat di belakang seorang gubernur. Lalu mereka (makmum) mendorong kami sehingga kami berdiri dan shalat di antara dua tiang. Maka Anas mulai mundur dan mengatakan (yakni setelah selesai shalat),‘Kami dahulu pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhi ini (yakni shalat di antara dua tiang)’.” [HR Abu Dawud, no. 673; Tirmidzi, no. 229; Ahmad 3/131; al Hakim 1/210, 218; an Nasa-i 2/93, dan ini lafazh Imam Nasa-i. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Tsamar Mustathab, hlm. 410]

Setelah membawakan hadits di atas, Imam Tirmidzi rahimahullah berkata :
“Sebagian kalangan ulama membenci dibuatnya shaf di antara tiang-tiang. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dan Ishaq. Namun sebagian ulama memberikan keringanan tentang hal itu”. [Sunan Tirmidzi, hadits no. 229].
Yang terkuat adalah pendapat yang pertama berdasarkan dalil-dalil di atas. Adapun jika keadaan terpaksa harus membuat shaf-shaf di antara tiang masjid, seperti karena sempitnya ruang shalat, maka hal ini tidak mengapa.

Imam Abu Dawud rahimahullah berkata: “Aku mendengar (Imam) Ahmad ditanya tentang shalat di antara tiang-tiang, beliau menjawab,’Sesungguhnya dibencinya itu karena memutuskan shaf. Jika shaf jauh di antara dua tiang, maka berharap (tidak mengapa)’.” [Masail Abu Dawud, hlm. 47, dinukil dari Tsamar Mustathab, hlm. 413]

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

(فاتقوا الله ما استطعتم)

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu...” [QS. At-Taghabun : 16]

Wallahu a’lam bishshawab


Demikian ulasan tentang “Hukum Shalat Di Antara Tiang Masjid”, semoga bermanfaat serta dapat menambah khazanah pengetahuan kita tentang shalat berjamaah di masjid, sehingga kita juga dapat terhindar dari perbedaan pendapat dan perdebatan tentang hal ini.

____
Lebel : Shalat, Fiqih, Hukum shalat berjamaah di anatar tiang masjid
Deskripsi : Perihal membuat shaf di antara tiang masjid menjadi perkara yang diperdebatkan oleh banyak orang. Apakah hukumnya makruh atau haram? Dan apakah ada larangan tentang hal ini? Mari kita melihat dalil-dalil terkait hukum membuat shaf diantara tiang masjid.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel