Hukum Memakai Cincin Menurut Pendapat Ulama

Hukum Memakai Cincin Menurut Pendapat Ulama
Ilustrasi : Hukum Memakai Cincin
 

Hukum Memakai Cincin Menurut Pendapat Ulama



Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

LANGITALLAH.com | Hukum Memakai Cincin Menurut Pendapat Para Ulama
Telah diuraikan pada artikel risalah fiqih sebelumnya, tentang Cara Memakai Cincin yang disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahwa telah terdapat perbedaan pendapat para ulama seputar memakai cincin di tangan kiri atau di tangan kanan. Dan apakah ada dalil yang menyebutkan anjuran memakainya di jari kelingking?.

Dan pendapat yang paling kuat adalah kedua-duanya benar. Sunnah cincin dipakai di tangan kiri, begitu juga sunnah cincin dipakai di tangan kanan.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Semua hadits-hadits tersebut (baik hadits yang berpendapat cincin dipakai di tangan kanan maupun juga yang berpendapat di tangan kiri,-pen) sanadnya shahih” [Zaadul Ma’aad 1/139].

Syaikh Al-‘Utsaimin berkata, “Yang benar adalah sunnah menggunakan cincin di tangan kanan dan juga di tangan kiri” [Asy-Syarh Al-Mumti’ 6/110].

Dalil-dalil hadits yang mendukung pendapat dari Ibnul Qayyim dan Syaikh Al-‘Utsaimin di atas diantaranya adalah :

Hadits yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik. Anas bin Malik berkata :

كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي هَذِهِ وَأَشَارَ إِلىَ الْخِنْصِرِ مِنْ يَدِهِ الْيُسْرَى

“Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (itu) di sini –Anas mengisyaratkan ke jari kelingking dari tangan kirinya” [HR Muslim no 2095]

Anas bin Malik juga berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ خَاتَمَ فِضَّةٍ فِي يَمِينِهِ فِيهِ فَصٌّ حَبَشِيٌّ كَانَ يَجْعَلُ فَصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai cincin perak di tangan kanan beliau, ada mata cincinnya terbuat dari batu habasyah (Etiopia), beliau menjadikan mata cincinnya di bagian telapak tangannya” [HR Muslim no 2094]

 
Imam An-Nawawi menegaskan,

وَأَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ جَعْلُ خَاتَمِ الرَّجُلِ فِي الْخِنْصَرِ وَأَمَّا الْمَرْأَةُ فَإِنَّهَا تَتَّخِذُ خَوَاتِيمَ فِي أَصَابِعَ

"Kaum muslimin sepakat bahwa yang sesuai sunah, lelaki memasang cincinnya di (jari) kelingking. Sementara wanita boleh memakai cincinnya jari manapun." [Syarh Shahih Muslim, 14/71]

Kedua hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik di atas menandakan bahwa disunnahkan memakai cincin di tangan kiri, dan juga boleh memakainya di tangan kanan. Hadits di atas juga membolehkan untuk memakai cincin pada jari kelingking pada tangan kiri.

Namun, pertanyaan kemudian muncul. Apakah hukumnya memakai cincin dan apakah hukum memakai cincin itu kemudian dapat berlakuk bagi laki-laki dan juga wanita?


Hukum Memakai Cincin


Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu berkata :

اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ وَجَعَلَ فُصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ فَاتَّخَذَهُ النَّاسُ فَرَمَى بِهِ وَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ أَوْ فِضَّةٍ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai cincin dari emas, beliau menjadikan mata cincinnya bagian dalam ke arah telapak tangan, maka orang-orangpun memakai cincin. Lalu Nabi membuang cincin tersebut dan memakai cincin dari perak” [HR. Al-Bukhari no.5865]


Beliau (Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu) juga berkata :

اتخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتما من ورق وكان في يده ثم كان بعد في يد أبي بكر ثم كان بعد في يد عمر ثم كان بعد في يد عثمان حتى وقع بعد في بئر أريس نقشه محمد رسول الله

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai cincin dari perak, cincin tersebut berada di tangan Nabi, lalu setelah itu berpindah ke tangan Abu Bakar, setelah itu berpindah ke tangan Umar, setelah itu berpindah ke tangan Utsman, hingga akhirnya cincin tersebut jatuh di sumur Ariis. Cincin tersebut terpahatkan Muhammad Rasulullah” [HR. Al-Bukhari no.5873]


Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata :

لما أراد النبي صلى الله عليه وسلم أن يكتب إلى الروم قيل له إنهم لن يقرءوا كتابك إذا لم يكن مختوما فاتخذ خاتما من فضة ونقشه محمد رسول الله

“Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak memerintahkan (menulis) surat kepada Romawi, maka dikatakan kepada beliau : ‘Sesungguhnya mereka (kaum Romawi) tidak akan membaca tulisanmu jika tidak distempel’. Maka Nabipun memakai cincin dari perak yang terpahat ‘Muhammad Rasulullah’” [HR. Al-Bukhari no.5875]


Terdapat perbedaan pendapat dari kalangan ulama tentang hukum memakai cincin itu sunnah atau diperbolehkan (mubah). Sebagaian dari mereka berpendapat yang berpendapat hukum memakai cincin itu sunnah, terbagi lagi menjadi dua bagian. Ada yang menyatakan hukum memakai cincin itu sunnah secara mutlak dan ada sebagian lagi yang berpendapat memakai cincin itu hukumnya sunnah bagi para raja dan sultan yang membutuhkan stempel cincin sebagaimana kondisi Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan cincin tersebut untuk suatu keperluan dan bukan untuk berhias.

Adapun bagi selain para raja dan sultan maka sebagian ulama berpendapat bahwa hukum memakai cincin bagi mereka adalah mubah (diperbolehkan. Akan tetapi sebagian ulama lagi memandang hukum memakai cincin bagi selain raja dan sultan adalah makruh, apalagi lagi jika dipakai untuk berhias.


Ibnu Abdil Barr, berkata :

“Yang merupakan pendapat mayoritas ulama dari kalangan ulama terdahulu dan yang sekarang yaitu bolehnya memakai cincin perak bagi sultan dan juga yang selainnya. Dan tatkala Imam Malik mengetahui sebagian orang memandang makruh hal ini, maka beliaupun menyebutkan dalam kitab Al-Muwattha’ beliau… dari Sadaqah bin Yasaar ia berkata,
“Aku bertanya kepada Sa’id ibn Al-Musayyib tentang memakai cincin, maka beliau berkata : Pakailah dan kabarkan kepada orang-orang bahwasanya aku telah berfatwa kepadamu akan hal ini”…
Tatkala sampai kepada Imam Ahmad tentang hal ini (yaitu bahwasanya memakai cincin bagi selain sultan hukumnya makruh, maka Imam Ahmad pun terheran”
[At-Tamhiid 17/101]


Dalam perkara ini, pendapat yang dimana hati lebih condong kepadanya adalah pendapat yang menyatakan hukum memakai cincin itu sunnah secara mutlak. Dimana para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengenakan cincin mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara para sahabat bukanlah seorang raja dan bukan pula seorang sultan.

Wallahu a’lam.

Demikian risalah fiqih tentang “Hukum Memakai Cincin Menurut Pendapat Ulama”. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita sehingga kita dapat mengetahui hukum memakai cincin yang telah dijelaskan oleh para ulama.


___
Label : Fiqih, hukum memakai cincin
Deskripsi : Memakai cincin ternyata memiliki aturan-aturan yang telah dijelaskan melalui banyak hadits. Namun sayangnya banyak manusia tidak lagi menyandarkan segala perkara yang dianggapnya biasa kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan keduanya adalah pedoman hidup dunia akhirat kita.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel