Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dalil-dalil Terkait POLIGAMI Dalam Islam | Para Suami WAJIB Tau

Dalil-dalil Terkait Poligami Dalam Islam
Ilustrasi : Lukisan Jari Terkait Poligami

Dalil-dalil Terkait Poligami Dalam Islam



Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

LANGITALLAH.com | Dalil-dalil Terkait Poligami Dalam Islam
Poligami secara sederhana dapat diartikan seorang lelaki yang memiliki istri sah lebih dari satu orang. Poligami adalah sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yg bersamaan. Dalam antropologi sosial, poligami merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari satu suami atau istri (sesuai dengan jenis kelamin orang bersangkutan). Hal ini berlawanan dengan praktik monogami yang hanya memiliki satu suami atau istri. [Wikipedia]

Dalam sebuah keluarga terkadang terjadi sebuah kesalahfahaman akibat kekurangfahaman suami dan juga istri dalam persoalan keluarga yang disyariatkan dalam ajaran islam. Poligami seringkali dikonotasikan dengan hal-hal yang buruk, merusak rumah tangga, dan menelantarkan anak-anak. Pemahaman ini akan kita tinjau dari dalil-dalil dasar yang terkait dengan poligami dari sudut pandang islam, Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Baca juga : Syarat-syarat Poligami Dalam Islam]


DALIL-DALIL POLIGAMI DALAM ISLAM


Dalil Al-Qur’an

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” [QS. An-Nisaa’ : 3]

Sebab turunnya ayat 3 pada surah An-Nisaa’ di atas adalah :

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Urwah bin az-Zubair, ia menuturkan: “Aku bertanya kepada ‘Aisyah (radhiyallahu ‘anha) tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, (وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى ) “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya),” ia menjawab, ‘Wahai keponakanku, anak perempuan yatim ini berada dalam pemeliharaan walinya, sedangkan harta perempuan yatim ini bercampur dengan harta walinya. Rupanya, harta dan kecantikannya mengagumkan walinya, sehingga walinya berhasrat untuk menikahinya dengan tanpa berlaku adil dalam memberikan mahar kepadanya sebagaimana yang diberikan kepada selainnya. Karena itu, mereka dilarang menikahi perempuan yatim itu, kecuali bila berlaku adil kepada mereka dan memberikan kepada mereka mahar yang layak, serta mereka diperintahkan supaya menikahi wanita-wanita yang mereka senangi selain mereka (wanita-wanita yatim yang berada dalam perwaliannya).’”

‘Urwah bin Az-Zubair menuturkan bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Orang-orang meminta fatwa kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah ayat ini (turun), lalu turunlah firman Allah Ta’ala : (وَيَسْتَفْتُونَكَ فِي النِّسَاءِ) ‘Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang para wanita…’ [QS. An-Nisaa’ : 127]. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga melanjutkan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam ayat lain : (وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ) ‘Sedang kamu ingin mengawini mereka… ‘ [QS. An-Nisaa’ : 127].
Karena salah seorang dari kalian tidak suka menikahi wanita yatim yang menjadi perwaliannya jika hartanya sedikit dan kecantikannya kurang. Oleh karena itu, mereka dilarang menikahi wanita yatim yang mereka sukai harta dan kecantikannya kecuali dengan adil, karena mereka tidak menyukai wanita yatim jika hartanya sedikit dan kecantikannya kurang.”
[HR. Al-Bukhari no.2494, Muslim no.3018, an-Nasa’i no.3346, Abu Dawud no.2068]

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Makna firman Allah: ( مَثْنَـى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ ) ‘Dua, tiga atau empat.’ [QS. An-Nisaa’ : 127], yakni nikahilah wanita-wanita yang kalian sukai selain mereka; jika salah seorang dari kalian suka, silahkan menikah dengan dua wanita dan jika suka, silahkan menikah dengan empat wanita.” [Tafsiir Ibnu Katsir I/598]

Al-Fakhrur Razi berkata, “Dibolehkan menikahi dua wanita jika suka, tiga wanita jika suka dan empat wanita jika suka. Dibolehkan menikahi sejumlah ini bagi siapa yang suka. Jika dia takut tidak dapat berbuat adil, cukuplah dengan dua orang wanita. Dan jika dia masih takut tidak dapat berbuat adil di antara kedua-nya, maka cukupklah menikahi satu wanita saja.”


Dalil-dalil Sunnah

Imam Ahmad meriwayatkan dari Salim, dari ayahnya, bahwa Ghailan bin Salamah ats-Tsaqafi masuk Islam dalam keadaan memiliki 10 isteri, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Pilihlah empat orang dari mereka.” Ketika pada masa ‘Umar, dia menceraikan isteri-isterinya dan membagi-bagikan hartanya di antara anak-anak-nya. Ketika hal itu sampai kepada ‘Umar, maka beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku benar-benar menduga bahwa syaitan pada apa yang dicurinya dari langit telah mendengar kematianmu lalu melontarkannya ke dalam hatimu, dan mungkin engkau hanya tinggal sebentar. Demi Allah, engkau benar-benar merujuk isteri-isterimu dan engkau menarik hartamu, atau aku benar-benar mengambilnya darimu dan aku memerintahkan supaya menguburkanmu untuk dirajam sebagaimana dirajamnya kubur Abu Raghal.” [HR. Ahmad no.4617, Ibnu Majah no.1953, At-Tirmidzi no.1128, Malik no.1071]

Abu Dawud meriwayatkan dari al-Harits bin Qais bin ‘Umairah al-Asadi, ia mengatakan, “Aku masuk Islam, sedangkan aku mempunyai delapan isteri. Lalu aku menyebutkan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, “Pilihlah empat di antara mereka.” [HR. Abu Dawud no.1914, Ibnu Majah no.1953. Ibnu Katsir berkata dalam Tafsir al-Qur’an I/599 : “Sanadnya bagus”]

Imam Asy-Syafi’i meriwayatkan dalam Musnadnya dari Naufal bin Mu’awiyah ad-Daili, ia mengatakan, “Aku masuk Islam, sedangkan aku mempunyai lima isteri, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Pilihlah empat, mana di antara mereka yang engkau sukai, dan ceraikanlah yang lainnya.’ Lalu aku mendatangi wanita yang paling lama menjadi pendamping, yang sudah tua lagi mandul, bersamaku sejak 60 tahunan, lalu aku menceraikannya.” [HR. Asy-Syafi’i dalam Musnadnya]


Adapun makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“… Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki…” [QS. An-Nisaa’ : 3].


Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yakni, jika kalian takut bila melakukan poligami tidak dapat berbuat adil di antara mereka, maka cukupkanlah satu saja atau para hamba sahaya. Sebab pembagian jatah di antara mereka (hamba sahaya) tidaklah wajib, tetapi dianjurkan. Barangsiapa yang melakukannya, maka itu bernilai baik dan barangsiapa yang tidak melakukannya, maka tidak berdosa.” [Tafsiir Ibni Katsir (I/598)]


Sedangkan makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada isteri yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung…” [QS. An-Nisaa’ : 129].

Para ulama mengatakan, “Mereka tidak akan dapat berlaku adil di antara para isteri berkenaan dengan apa yang terdapat dalam hati dan Allah memaafkannya. Dan mewajibkan keadilan dalam perkataan dan perbuatan. Jika dia condong dengan suatu ucapan atau perbuatan, maka itulah kecenderungan (ketidakadilan).” [Limaadzal Hujuum ‘alaa Ta’addud az-Zaujaat, hal. 18]

Korelasi di antara kedua ayat tersebut diatas, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membolehkan seorang lelaki menikahi empat orang wanita, dengan syarat wajib berlaku adil dalam perbuatan dan perkataan. Adapun perlakuan adil dalam hal cinta di antara mereka (wanita), maka (sesungguhnya) kalian tidak akan mampu berbuat adil meskipun kalian sangat menginginkannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi jatah dan berbuat adil, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

اَللَّهُمَّ، هَذَا قَسْمِيْ فِيْمَا أَمْلِكُ، فَلاَ تَلُمْنِيْ فِيْمَا تَمْلِكُ وَلاَ أَمْلِكَ.

“Ya Allah, inilah pembagianku pada apa yang aku miliki. Maka janganlah Engkau mencelaku pada apa yang Engkau miliki, sedangkan aku tidak memiliki.”

Adapun makna dari ucapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, bahwa beliau tidak memiliki apa yang ada dalam hatinya berupa cinta kepada sebagian isteri yang lebih daripada cintanya kepada sebagian yang lain. Sebab perkara hati adalah milik Allah Ta’ala; Dia membolak-balikkannya sebagaimana yang Dia sukai.

Adapun dalam perkara jika tidak dapat berbuat adil dalam menjatah giliran malam, atau berlaku adli dalam perkara harta dan selainnya, maka sebaiknya -bahkan seharusnya- dia mencukupkan satu wanita saja untuk dijadikan istrinya. Jika tidak demikian, maka dia termasuk ke dalam golongan manusia yang telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ، يَمِيْلُ لأَحَدِهِمَا عَلَى اْلأُخْرَى جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَجُرُّ أَحَدَ شِقَّيْهِ سَاقِطًا أَوْ مَائِلاً.

“Barangsiapa yang mempunyai dua orang isteri lalu cenderung kepada salah satu dari keduanya dibandingkan yang lainnya, maka dia datang pada hari Kiamat dengan menarik salah satu dari kedua pundaknya dalam keadaan jatuh atau condong.” [HR. At-Tirmidzi no.1141, an-Nasaai no.3942, Abu Dawud no.2133, Ibnu Majah no.1969, Ahmad no.9740, ad-Darimi no.2206]

At-Tirmidzi dalam kitab An-Nikaah mengatakan: “Aku tidak mengetahui hadits ini marfu’ kecuali dari hadits Hammam, dan Hammam adalah perawi tsiqat dan hafizh.” Semua perawinya tsiqat (terpercaya).


Demikianlah bentuk-bentuk perlakuan adil Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap isteri-isteri beliau.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia menuturkan,
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melebihkan sebagian kami atas sebagian lainnya dalam hal menjatah untuk tinggal di sisi kami. Terkadang beliau mengelilingi kami semua, lalu beliau mendekati setiap isterinya tanpa persetubuhan, hingga beliau sampai kepada isterinya yang mendapat giliran pada hari itu lalu tinggal di sisinya.” [HR. Abu Dawud no.2135, Ahmad no.24244]

Jabir bin Zaid berkata, “Aku mempunyai dua isteri dan aku berlaku adil di antara keduanya hingga dalam masalah ciuman.”

Mujahid berkata, “Mereka menganjurkan supaya berbuat adil di antara para isteri hingga dalam masalah wewangian; ia memakai wewangian untuk yang ini sebagaimana memakai wewangian untuk yang lainnya.”

Ibnu Sirin berkata, “Makruh suami berwudhu’ di rumah salah seorang isterinya tetapi tidak melakukan hal yang sama di rumah isterinya yang lain.”

Abul Qasim berkata, “Cukuplah bagimu apa yang telah lewat dari perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya mengenai hal ini. Aku tidak mendapat kabar dari salah seorang di antara mereka bahwa dia menjatah (menggilir), kecuali sehari di sini dan sehari di sana.”

Ibnu Qudamah berkata, “Seseorang membagi di antara isteri-isterinya satu malam satu malam. Sedangkan pada siang harinya untuk mata pencahariannya dan menyelesaikan hak-hak orang lain, kecuali bila mata pencahariannya pada malam hari, seperti penjaga, maka dia menggilirnya pada siang hari, dan malamnya seperti siang harinya.”

Wallahu a’lam bishshawab

Demikianlah risalah tentang “Dalil-dalil Terkait Poligami Dalam Islam”, semoga dapat bermanfaat dan menambah khazanah pengetahuan kita tentang poligami sebelum memutuskan untuk melaksanakannya. Oleh karena sesungguhnya keadlian yang haq ada pada sisi-Nya saja.

[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq. Edisi Indonesia Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penerjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir – Bogor]

____
Label : Fiqih, Poligami, dalil poligami, Keluarga
Deskripsi : Dalam sebuah keluarga terkadang terjadi sebuah kesalahfahaman akibat kekurangfahaman suami dan juga istri dalam persoalan keluarga yang disyariatkan dalam ajaran islam. Poligami seringkali dikonotasikan dengan hal-hal yang buruk, merusak rumah tangga, dan menelantarkan anak-anak. Pemahaman ini akan kita tinjau dari dalil-dalil dasar yang terkait dengan poligami dari sudut pandang islam, Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.