Dalil Bantahan Mitos Larangan Menikah di Bulan Muharram

Dalil Bantahan Mitos Larangan Menikah di Bulan Muharram
Ilustrasi : Al-Qur'an Surah Ar-Ruum Ayat 21

Dalil Bantahan Mitos Larangan Menikah di Bulan Muharram


Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Menikah adalah salah satu impian setiap pemuda di dunia ini. Dengan menikah berarti menghalalkan yang sebelumnya tidak halal, yang sebelumnya tidak serumah akhirnya bisa serumah seatap membina rumah tangga dan keluarga yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pernikahan adalah prosesi mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang semua orang berharap hanya terjadi sekali dalam seumur hidupnya. Sebagaimana ibadah yang mengandung perintah yang lainnya, menikah tentunya memiliki banyak sekali manfaat. Baik manfaat bagi suami, isteri, dan juga keluarga dan kerabat sekitar kita. Dengan menikah, akan menjaga kehormatan dan kemaluan manisia dari berbuat zina. Menikah juga akan menjaga garis keturunan dan memaksimalkan peran laki-laki, dan masih banyak manfaat lain ketika menikah. [Baca : 7 Manfaat Menikah Dalam Pandangan Islam]

Dalam melangsungkan pernikahan, sebagian masyarakat Indonesia meyakini adanya larangan melangsungkan pernikahan pada bulan Muharram. Entah apakah hal itu memiliki dalil yang kuat ataukah hanya mitos yang tak berdasar belaka yang sengaja dibuat oleh orang-orang terdahulu yang khawatir akan musibah tertentu jika hal ini dilanggar.


Menikah Pada Bulan Muharram. Katanya Tidak Boleh. Benarkah?


Muharram adalah bulan awal pada tahun Hijriyah. Sesungguhnya tidak mengapa melangsungkan pernikahan atau meminang seseorang pada bulan Muharram, hal tersebut bukanlah termasuk perkara yang hukumnya makruh atau diharamkan oleh syari’at agama islam,

Banyak dalil-dalil yang dapat menjadi dasar pemikiran kita, tentang bolehnya melangsungkan pernikahan pada bulan Muharram atau bulan apa saja pada tahun hijriyah.

Berikut ini akan disajikan banyak dalil sanggahan atau bantahan dari mitos yang menyebutkan adanya larangan meminang atau menikah di bulan Muharram.

Dalil Pertama :


Hukum asalnya boleh yang tidak ada dalil yang merubahnya, kaidah syar’i yang disepakati oleh para ulama adalah:

أن الأصل في العادات والأفعال الإباحة

“Hukum asal dalam kebiasaan dan perbuatan adalah boleh”.

Oleh karena tidak ada penjelasan baik dalam Al-Qur’an, Hadits, ijma’ dan qiyas ataupun atsar yang menunjukkan bahwa menikah pada bulan Muharram itu adalah dilarang, baik itu yang menghukuminya makruh ataupun yang mengharamkannya, maka yang seharusnya menjadi dasar dari amal dan fatwa dalam perkara ini adalah dikembalikan ke hukum asalnya yakni Boleh.


Dalil Kedua :


Hukum yang membolehkan meminang atau menikah pada bulan Muharram merupakan hasil ijma’ dari para ulama, paling tidak dengan ijma’ sukuti (tampak kesepakatan semua ulama malalui diamnya mereka), dan tidak ditemukan seorang pun dari para ulama dahulu maupun ulama sekarang, baik ulama dari kalangan para sahabat, ulama dari kalangan tabi’in, para imam yang diridhai Allah, bahkan para pengikut mereka sampai pada masa sekarang ini yang memakruhkan atau sampai mengharamkan meminang, melamar atau menikah pada bulan Muharram. Ini menunjukkan kebolehan melaksanakan perintah agama yang satu ini, yaitu menikah, meski pada bulan Muharram.


Dalil Ketiga :


Allah Subhanahu wa Ta'ala memilih bulan Muharram sebagai bulan Allah yang diagungkan dan dimuliakan. Keutamaannya telah disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

( أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ ) رواه مسلم (1163)

“Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram”. [HR. Muslim 1163]

Muharram, bulan yang Allah pilih dan menyandarkannya pada diri-Nya dan menjadikan ibadah puasa pada bulan tersebut pahalanya lebih agung dari puasa pada bulan lain, maka selayaknya untuk ditingkatkan ibadah sembari mengharapkan berkah dan keutamaannya, BUKAN malah bersedih apalagi sampai hawatir untuk melangsungkan pernikahan pada bulan Muharram itu, atau tidak malah menjadikan sesuatu sebagai tanda baik dan buruk tanpa didasari dengan dalil, seperti yang oleh orang-orang jahiliyah dahulu kerjakan.


Dalil Keempat :


Ada kelompok tertentu yang memang melarang untuk melangsungkan pernikahan di bulan Muharram dengan alasan bahwa yang menjadi dasar dari larangan tersebut adalah syahidnya cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhu sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang-orang Rafidhah.

Bantahan atas pendapat kelompok di atas, adalah :

Tidak ada yang meragukannya, bahwa pada hari syahidnya Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhu adalah hari yang menyedihkan dalam sejarah Islam, akan tetapi hal tersebut tidak menjadi dasar mewajibkan untuk berfatwa akan haramnya melamar atau menikah pada bulan Muharram, dan tidak pernah ada dalam syari’at islam untuk setiap tahunnya memperbarui kesedihan dengan sebuah peringatan, sampai melarang untuk menampakkan kebahagiaan.

Jika tidak demikian, maka telah menjadi hak kita untuk kembali bertanya kepada kelompok yang berpendapat demikian,
Bukankah hari dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat adalah sebesar-besarnya musibah yang menimpa umat Islam?, maka kenapa tidak dilarang juga menikah pada bulan dimana beliau wafat yaitu bulan Rabi’ul Awal?, dan mengapa pengharaman dan hukum makruh tersebut tidak diriwayatkan oleh para sahabat atau keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama setelah mereka?.

Sebagian ahli sejarah muslim telah menyebutkan bahwa yang pertama kali mengatakan pendapat seperti itu dan menganjurkan memperbarui kesedihan pada awal bulan Muharram adalah Asy-Syah Ismail Ash-Shofwi (907-930 H), sebagaimana yang disebutkan oleh DR. Ali Al Wardi dalam “Lamahat Ijtma’iyyah min Tarikh Iraq” 1/59 :

“Asy-Syah Ismail tidak cukup dengan hanya menyebarkan teror saja untuk menyebarkan paham syi’ah bahkan sengaja juga mengambil sarana lain, yaitu; dengan cara publikasi dan mendatangkan kepuasan diri, ia telah menyuruh untuk mengkoordinir peringatan terbunuhnya Husain seperti yang dirayakan sampai saat ini. Perayaan tersebut dilakukan sejak era al-Buwaihiyyun di Baghdad pada abad 14 H. Namun setelah era tersebut mulai ditinggalkan. Kemudian datanglah Asy-Syah Ismail yang mengembangkannya dan menambahkan majelis takziyah dengan tujuan agar kuat pengaruhnya pada hati pengikutnya. Maka menjadi benar bahwa hal tersebut adalah menjadi sarana terpenting untuk menyebarkan faham syi’ah di Iran; karena menampakkan kesedihan dan ratapan yang diiringi dengan irama gendang dan panji-panji dan lain sebagainya, dengan demikian maka akan menjadi akidah yang menancap pada jiwa”.


Meskipun ada beberapa pendapat lain dalam masalah ini, namun yang menjadi dasar ialah tidak satupun di antara para ulama mengingkari pernikahan pada bulan Muharram, bahkan barang siapa yang menikah pada bulan tersebut maka ada contohnya dari Amirull Mukminin Ali bin Abi Thalib dan istrinya Fatimah binti Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wallahu a’lam bishshawab
Demikian risalah tentang “Dalil Bantahan Mitos Larangan Menikah di Bulan Muharram”, semoga bermanfaat dan dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan kita serta untuk meluruskan aqidah kaum muslimin di manapun berada, sehingga semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari segala jenis perkara bid’ah yang sama sekali tidak ada dalil yang mendasarinya.


______
Label : Aqidah, Keluarga, Dalil Bantahan Mitos Larangan Menikah di Bulan Muharram
Deskripsi : Semua orang mengetahui tentang adanya mitos larangan menikah di bulan Muharram. Lalu apakah itu memiliki dalil yang kuat sementara Allah telah memilih Muharram sebagai bulan Allah yang agung dan dimuliakan?

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel