Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

DALIL ANCAMAN ORANG YANG MENYAKITI TETANGGANYA

Dalil Ancaman Orang Yang Menyakiti Tetangganya
Ilustrasi : Anak-anak bermain bersama tetangganya

Dalil Ancaman Orang Yang Menyakiti Tetangganya


Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

LANGITALLAH.com | Dalil Ancaman Orang Yang Menyakiti Tetangganya

Islam adalah agama rahmat, ‘Rahmatan Lil ‘Aalamiin’. Islam adalah agama yang penuh kasih sayang bagi seluruh alam. Islam sangat menekankan agar setiap umatnya memiliki sifat dan moral yang baik dalam hal bertetangga. Terciptanya kehidupan masyarakat yang aman, tenteram dan damai akan dapat terwujud jika akhlak manusia dalam bertetangga dan bermasyarakat dapat diperbaiki. Dan islam hadir untuk menjadi agen sentral dalam membentuk karakter dan sifat manusia dalam bingkai Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wilayah Batasan Tetangga Kita


Hingga saat ini masih banyak yang merasa kabur tentang batasan bertetangga. Siapakah dari orang-orang di sekitar rumahnya yang tergolong tetangganya menurut ajaran islam? adakah batasan-batasan yang memarjinalkan tetangga kita?.

Pertanyaan di atas memang butuh jawaban yang tepat, oleh karena besarnya hak tetangga bagi seorang muslim dan adanya hukum-hukum yang terkait dengannya.

Para ulama berbeda pendapat tentang batasan yang dimaksud dengan tetangga seorang muslim. Sebagian dari mereka mengatakan tetangga adalah ‘orang-orang yang shalat subuh bersamamu’, sebagian lagi mengatakan ’tetanggamu adalah 40 rumah dari setiap sisi’, namun sebagian lagi mengatakan ’tetanggamu adalah 40 rumah disekitarmu, 10 rumah dari tiap sisi’ dan terdapat beberapa pendapat lainnya lagi. [lihat Fathul Baari, 10 / 367].

Namun pendapat-pendapat tersebut dibangun atas riwayat-riwayat yang lemah. Oleh karena itu Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata:
“Semua riwayat dari Nabi Shallallahu ’alaihi was allam yang berbicara mengenai batasan tetangga adalah lemah tidak ada yang shahih. Maka zhahirnya, pembatasan yang benar adalah sesuai ‘urf [Silsilah Ahadits Dha’ifah, 1/446].
Sebagaimana kaidah fiqhiyyah yang berbunyi “al ‘urfu haddu maa lam yuhaddidu bihi asy syar’u” (adat kebiasaan adalah pembatas bagi hal-hal yang tidak dibatasi oleh syariat). Sehingga, yang tergolong tetangga bagi kita adalah setiap orang yang menurut adat kebiasaan setempat dianggap sebagai tetangga kita.


Memuliakan Tetangga


Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya” [HR. Bukhari no. 5589, dan Muslim no.70].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan untuk memperhatikan hak-hak tetangga kita, oleh karena besar dan pentingnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim.

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْـجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris” [HR. Bukhari no.6014, Muslim no.2625]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an Al-Kariim:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” [QS. An-Nisaa: 36]


Ancaman Bagi Yang Bersikap Buruk Terhadap Tetangganya


Syariat islam mengabarkan tentang adanya ancaman bagi seorang muslim yang bersikap buruk terhadap tetangganya dan tidak memperhatikan hak-hak dan pentingnya tetangga bagi seorang muslim.

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam menafikan keimanan dari orang yang lisannya kerap menyakiti tetangga.

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Demi Allah, tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Ada yang bertanya: ‘Siapa itu wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak aman dari bawa’iq-nya (kejahatannya)‘.” [HR. Bukhari no.6016, Muslim no.46]

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan tentang Bawa’iq :
“Bawa’iq maksudnya culas, khianat, zhalim dan jahat. Barangsiapa yang tetangganya tidak aman dari sifat itu, maka ia bukanlah seorang mukmin. Jika itu juga dilakukan dalam perbuatan, maka lebih parah lagi. Hadits ini juga dalil larangan menjahati tetangga, baik dengan perkataan atau perbuatan. Dalam bentuk perkataan, yaitu tetangga mendengar hal-hal yang membuatnya terganggu dan resah”.

Beliau juga berkata: ”Jadi, haram hukumnya mengganggu tetangga dengan segala bentuk gangguan. Jika seseorang melakukannya, maka ia bukanlah seorang mukmin, (artinya) ia tidak memiliki sifat sebagaimana sifat-sifat orang mukmin dalam masalah ini” [Syarh Riyadhis Shalihin, 3/178]

Dalam salah satu riwayat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggolongkan dosa besar bagi perbuatan yang mengganggu tetangga, dan diberikan ancaman neraka bagi pelakunya.

Ada seorang sahabat berkata :

يا رسول الله! إن فلانة تصلي الليل وتصوم النهار، وفي لسانها شيء تؤذي جيرانها. قال: لا خير فيها، هي في النار

“Wahai Rasulullah, si Fulanah sering shalat malam dan puasa. Namun lisannya pernah menyakiti tetangganya. Rasulullah bersabda: ‘Tidak ada kebaikan padanya, ia di neraka’.” [HR. Al-Hakim dalam Al Mustadrak no.7385, dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adabil Mufrad no.88]

Wallahu a’lam

Demikian risalah fiqih bertetangga yang diberi judul “Dalil Ancaman Orang Yang Menyakiti Tetangganya”, semoga dapat bermanfaat dan menambah khazanah pengetahuan kita tentang bagaimana memperlakukan tetangga dengan baik, sebab tetangga kita memiliki hak-hak yang harus dipenuhi oleh seorang muslim. Dan semoga Allah memberikan kita kemampuan untuk senantiasa dapat berbuat baik terhadap tetangga kita, dan utamanya orang tua kita.

_____
Label : Fiqih, Akhlak, Aqidah, Keluarga, Tetangga, Menyakiti Tetangga
Deskripsi : Agama Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam. Di dalamnya mengajarkan bagaimana kita hidup berdampingan dengan tetangga dan memperlihatkan akhlakul karimah sebagai seorang muslim. Begitu pentingnya akhlak bertetangga ini, sehingga Rasulullah memberikan ancaman bagi muslim yang berbuat buruk terhadap tetangganya.