Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SUBHANALLAH, Inilah Keutamaan Ayat Kursi dan Al-Ikhlas

SUBHANALLAH, Inilah Keutamaan Ayat Kursi dan Al-Ikhlas
gambar ilustrasi oleh http://www.langitallah.com "Inilah Keutamaan Ayat Kursi dan Al-Ikhlas"

SUBHANALLAH, Inilah Keutamaan Ayat Kursi dan Al-Ikhlas


Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh

Langitallah.com [SUBHANALLAH, Inilah Keutamaan Ayat Kursi dan Al-Ikhlas] Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang bertakwa yang dimaksud salah satunya adalah beriman kepada kitab Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Qur’an yang merupakan kitab yang paling sempurna dan memiliki banyak sekali keutamaan bagi siapa saja yang mau membaca dan menjadikannya petunjuk. Di dalamnya terdapat banyak sekali Doa - doa dan Dzikir yang dapat kita petik hikmah di baliknya.

Selain keutamaan Surah Al-Fatihah dari surah-surah yang lain, dan di antara ribuan ayat yang tersurat di dalam Al-Qur’an, ada satu ayat yang Allah berikan keutamaan melebihi ayat selainnya dalam Al-Qur’an. Ayat tersebut adalah Ayat Kursi. Ayat Kursi terletak di dalam Surah Al-Baqarah pada ayat ke 255.

Telah disebutkan melalui jalur yang Shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa ayat yang paling utama dalam Al-Qur'an adalah ayat Kursi. Dalam Shahih Muslim, dari hadits Ubay bin Kaab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Wahai Abu Mundzir, apakah engkau tahu, manakah ayat dari kitab Allah padamu yang lebih agung?”, aku berkata, “Aku katakan, ‘allahu laa ilaaha illa huwa al hayyu! qayyum' (Allah tidak ada sembahan yang haq selain Dia, Maha hidup dan Maha mengayomi)”. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menepuk dadaku dan bersabda, “Demi Allah, sungguh ilmu menenangkanmu wahai Abu Al-Mundzir. Yakni, jadilah ilmu sesuatu yang menyenangkan bagimu.” [HR. Muslim, No.810; Shahih]

Ayat yang mulia ini mendapatkan kedudukan demikian tinggi, hanyalah disebabkan karena keagungan kandungannya yang berupa tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, pengagungan-Nya, kebagusan pujian atas-Nya, serta penyebutan sifat-sifat keagungan dan kesempumaan-Nya. Ia mencakup nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak lima nama, memuat sifat-sifat yang melebihi dua puluh sifat bagi Rabb tabaraka wa ta'ala, sehingga ia telah memuat hal-hal tersebut yang tidak dikandung oleh satu pun ayat selainnya dalam Al-Qur‘an.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
“Tidak ada dalam Al-Qur'an satu ayat pun yang kandungannya seperti apa yang dikandung oleh ayat kursi. Hanya saja Allah Ta’ala menyebutkan di awal surah Al-Hadid dan surah Al-Hasyr sejumlah sifat namun dalam beberapa ayat dan bukan satu ayat saja.” [Jawaab Ahli Ilmi Wal lmaan, hal. 133]

Oleh karena itu, termasuk keutamaan surah yang mulia ini yaitu bahwa orang yang membacanya dalam satu malam niscaya senantiasa atasnya penjaga dari Allah swt, dia tidak didekati setan hingga shubuh. Keterangan ini terdapat dalam Shahih Bukhari dari hadits Abu Hurairah 435 dengan redaksi yang panjang. [Shahih Al-Bukhari, No. 2311]

Di antara keutamaannya, apa yang tercantum dalam Sunan An-Nasa‘i dan selainnya, dari hadits Abu Umamah ra, dari Nabi saw, sesungguhnya beliau bersabda:

“Barang siapa membaca ayat kursi di belakang setiap shalat fardhu, maka tidak ada yang mencegahnya untuk masuk surga kecuali dia meninggal. 118 Yakni, tidak ada antara dia dengan masuk surga kecuali kematian.” [As-Sunan Al-Kubra karya An-Nasa’i, 6/no.9928, dinyatakan Shahih oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Ash-Shahihah, no.972]

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata,
“Telah sampai kepadaku dari syaikh kami Abu Al-Abbas Ibnu Taimiyah, semoga Allah mensucikan ruhnya, bahwa beliau berkata, ‘Aku tidak pernah meninggalkannya di belakang setiap shalat.'”  [Zaadul Ma’ad, 1/304]

Dinukil pula melalui jalur Shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, tentang keutamaan surah Al-Ikhlas, bahwa ia setara dengan sepertiga Al-Qur‘an. Dalam riwayat Al-Bukhari, dari hadits Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki mendengar seseorang membaca 'qul huwallahu ahad' (katakanlah Dia-lah Allah yang Esa), lalu orang itu mengulang-ulangnya. Ketika pagi hari, lalu dia datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyebutkan hal itu, dan seakan dia meremehkannya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ia setara dengan sepertiga Al-Qur ‘an.” [HR. Al-Bukhari, no.5013; Shahih]

Imam Bukhari meriwayatkan pula dari Abu Said radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada sahabat-sahabatnya, “Apakah salah seorang kamu tidak mampu untuk membaca sepertiga AI-Qur‘an dalam satu malam?” Hal itu terasa berat bagi mereka, dan mereka berkata, “Siapa di antara kami yang mampu melakukan hal itu wahai Rasulullah? ” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Al-Waahid Ash-Shamad adalah sepertiga Al-Qur 'an”.” [HR. Al-Bukhari, no.5015; Shahih]

Para ahli ilmu telah membahas tinjauan sehingga surah ini menyamai sepertiga Al-Qur‘an. Mereka menyebutkan dalam hal itu beragam jawaban. Jawaban yang paling baik seperti disebutkan Syaikhul islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, adalah jawaban yang dikutip dari Abu Al-Abbas bin Suraij, di mana beliau berkata, “Maknanya, Al-Qur‘an diturunkan dalam tiga bagian; sepertiga pertamanya adalah hukum-hukum, sepertiga kedua adalah janji dan ancaman, dan sepertiga terakhir adalah nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara surah ini merangkum nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” [Jawaab Ahli Ilmi Wal Imaan, hal.113]

Syaikhul Islam berkata,
“Apabila ‘qul huwallahu ahad' setara sepertiga Al-Qur‘an, tidak menjadi kemestian ia lebih utama daripada surah Al-Fatihah, dan tidak berarti membacanya tiga kali sudah mencukupi membaca satu Qur’an. Bahkan ulama salaf tidak menyukai -ketika membaca Al-Qur‘an secara keseluruhan- membacanya kecuali satu kali seperti tertulis dalam mushhaf. Sebab Al-Qur‘an mesti dibaca seperti tertulis dalam mushhaf tanpa ditambah dan dikurangi... Akan tetapi jika ‘quI huwaIIahu ahad' dibaca tersendiri, boleh dibaca tiga kali atau lebih daripada itu, dan siapa membacanya niscaya baginya pahala yang setara dengan sepertiga Al-Qur‘an. Namun yang setara dengan sesuatu berasal dari bukan jenisnya.” [Jawaab Ahli Ilmi Wal Imaan, hal.133-134]

Kemudian, hadits-hadits yang memuat penyebutan keutamaan-keutamaan surah-surah dan ganjaran pembacanya, jumlahnya sangatlah banyak. Namun sebagian besar darinya tidak terhindar dari kelemahan. Bahkan di antaranya ada yang didustakan atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, menjadi suatu keharusan bagi setiap muslim untuk berusaha mengetahui yang Shahih di antara hadits-hadits tersebut, dengan bertanya kepada ahli ilmu, dan belajar dari para spesialis di bidangnya.

Al-Imam Ibnu Qayyim berkata dalam kitabnya AI-Manaar AI-Munif fii Ash-Shahih wa Adh-Dha'if,
“Di antaranya -yakni hadits-hadits lemah- penyebutan keutamaan-keutamaan surah-surah dan ganjaran bagi yang membaca surah tertentu niscaya pahalanya tertentu pula, dari awal Al-Qur’an hingga akhirnya, sebagaimana hal itu disebutkan Ats-Tsa'labi dan Al-Wahidi di awal setiap surah, dan Az-Zamakhsyari di akhir setiap surah. Abdullah bin Al-Mubarak berkata, “Aku kira orang-orang zindiq telah membuat-buatnya.'”

Adapun yang Shahih di antara hadits-hadits tentang keutamaan surah-surah, di antaranya hadits tentang surah Al-Fatihah, bahwa tidak diturunkan dalam Taurat, Injil, dan Zabur, yang sepertinya, hadits keutamaan surah Al-Baqarah dan Ali-lmran, bahwa keduanya adalah zahrawan (dua yang bercahaya), hadits tentang ayat kursi, bahwa ia penghulu ayat Al-Qur‘an, hadits tentang dua ayat di akhir surah Al-Baqarah, bahwa siapa membaca keduanya dalam satu malam niscaya mencukupi baginya, hadits surah Al-Baqarah, bahwa tidaklah ia dibacakan di satu rumah niscaya setan tak akan mendekatinya, hadits sepuluh ayat di awal surah Al-Kahfi, bahwa siapa membacanya niscaya dilindungi dari fitnah Dajjal, hadits ‘qul huwallahu ahad,’ bahwa ia setara dengan sepertiga Al-Qur‘an, dan tidak Shahih tentang keutamaan-keutamaan surah apa yang Shahih padanya, hadits tentang dua surah perlindungan, bahwa tidak ada sepertinya yang digunakan berlindung oleh orang-orang mohon perlindungan, serta sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :

“Diturunkan padaku beberapa ayat yang tidak dilihat yang sepertinya,” lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam membacakannya.

Berada di peringkat berikut dari hadits-hadits di atas, dengan tingkat ke-Shahih-an yang lebih rendah, adalah hadits tentang ‘idza zulzilat' menyamai setengah Al-Qur‘an, hadits ‘qul yaa ayyuhal kaafirun' menyamai seperempat Al-Qur‘an, dan hadits ‘tabarakal Iadzii biyadihil mulk,' sebagai surah penyelamat dari siksa kubur. Kemudian hadits-hadits lain sesudahnya, seperti sabdanya, 
“Barang siapa membaca surah ini maka pahalanya seperti ini”, maka semuanya adalah palsu, namun mengatas namakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena pembuatnya sendiri telah mengakuinya dan berkata, “Aku bermaksud menyibukkan manusia dengan Al-Qur‘an dan mengabaikan selainnya.”

Sebagian orang bodoh dari kalangan pembuat hadits palsu berkata mengenai hal ini, “Kami berdusta untuk (membela) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak berdusta untuk (merendahkan)nya.”.

Sungguh orang bodoh itu tidak mengetahui, barang siapa yang mengatakan sesuatu atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mengatakan hal itu, maka sungguh dia telah berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dia berhak mendapatkan ancaman yang keras.”. Demikian pernyataan lbnu Al-Qayyim rahimahullah. [Al-Manaar Al-Muniif, hal.115-117]

Di antara perkara yang patut diketahui dalam permasalahan ini adalah bahwa keutamaan membaca surah-surah ini dan selainnya, akan berbeda-beda sesuai perbedaan keadaan orang membaca terhadap surah-surah tersebut. Bacaan disertai tadabbur (perenungan) lebih utama daripada bacaan tanpa tadabbur.

Terkadang keadaan sebagian manusia dalam membaca sebagian surah dan apa yang menyertai mereka ketika membaca, berupa khusyu', tadabbur, pemahaman terhadap kalam Allah Ta’ala, dan tekad yang jujur untuk mengamalkannya, lebih baik dan utama dari keadaan selain mereka yang tidak seperti itu. Meski surah yang dibaca oleh mereka ini adalah surah yang lebih utama.

Bahkan seorang manusia saja bisa berbeda keadaannya. Terkadang seseorang mengerjakan satu amalan yang lebih rendah keutamaannya namun dengan bentuk sempurna, sehingga amalan itu lebih utama baginya dibandingkan amal-amalnya yang lain, meski amal-amal ini statusnya lebih utama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
“Dahulu ada sebagian syaikh meruqyah dengan membaca ‘qul huwallahu ahad,’ lalu mendatangkan berkah yang agung, kemudian surah itu digunakan meruqyah oleh selainnya, tapi tidak mendatangkan keberkahan tersebut, sehingga dia berkata, tidaklah ‘quI huwallahu ahad’ dari setiap orang dapat bermanfaat bagi setiap orang.” [Jawaab Ahli Ilmi wal Imaan, hal. 141]

Hanya saja pengaruh kedua bacaan ini mengalami perbedaan, meski yang dibaca hanya satu, disebabkan faktor dalam hati, berupa kejujuran, keikhlasan, tadabbur, keyakinan, motivasi, dan khusyu'.

Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja kita berharap untuk memberikan kita sekalian taufiq untuk merealisasikan dan melaksanakannya dengan baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala semata yang memberi taufiq kepada setiap kebaikan.

Wallahu a’lam bishshawab

Kesimpulan :

Keutamaan Ayat Kursi dan Surah Al-Ikhlas, antara lain :
  • Merupakan ayat yang paling utama di dalam Al-Qur’an, ayat Kursi adalah penghulu ayat Al-Qur’an, karena memiliki kandungan ketauhidan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Mencakup 5 (lima) nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengandung sifat-sifat yang melebihi 20 (dua puluh) sifat bagi Rabb tabaraka wa ta’ala, sehingga ayat kursi ini telah memuat hal-hal tersebut yang tidak terkandung di ayat manapun selainnya dalam Al-Qur’an.
  • Barang siapa yang membacanya dalam satu malam, Allah akan menurunkan penjaga baginya, dia tidak akan didekati setan hinga subuh. [HR. Bukhari, no.2311; Shahih]
  • Barang siapa yang membacanya setiap selepas shalat fardhu, maka tidak ada jarak antara dia dengan syurga, kecuali kematian. [As-Sunan Al-Kubra karya An-Nasa’i, 6/9928], dan dinyatakan Shahih oleh Al-Allamah Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no.972.
  • Surah Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur’an. [HR. Al-Bukhari, no.5013; Shahih]

Demikianlah, artikel tentang “Keutamaan Ayat Kursi dan Al-Ikhlas”, semoga bermanfaat bagi seluruh pembaca, dan bagi mereka yang mau menyampaikan pengetahuan ini kepada muslim yang lain semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya dan memberikan pahala amal Jariyyah di sisinya sebagai bekal investasinya nanti di akhirat kelak.

________________
Referensi : Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, Kitab Fiqih Do’a da Dzikir, Jilid.1, hal.112

Label : Doa, Dzikir, Tauhid, Ayat Kursi, Keutamaan Ayat Kursi dan Al-Ikhlas, Al-Ikhlas

Deskripsi : Inilah Keutamaan Ayat Kursi dan Surah Al-Ikhlas yang perlu anda ketahui, SUBHANALLAH, sungguh Allah Ta'ala telah menjadikan AYat Kursi sebagai ayat yang paling utama di dalam Al-Qur'an.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa terhadap Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang (yang) fasik." [QS Al-Hasyr : 19]