Mendahulukan Qurban Tanpa Melunasi Hutang?

Mendahulukan Qurban Tanpa Melunasi Hutang?
gambar ilustrasi Mendahulukan Qurban Tanpa Melunasi Hutan - http://www.langitallah.com


Mendahulukan Qurban Tanpa Melunasi Hutang?


Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bismillahi washshalatu wassalam ‘alaa Rasulillah, waba’du



Langitallah.com – [Mendahulukan Qurban Tanpa Melunasi Hutang?] – Sebuah pertanyaan yang mewakili kebiasaan sebagian orang yang berhutang. Bolehkah mendahulukan berqurban dari pada membayar hutang?. Pertanyaan ini menjadi dilematis ketika seorang muslim berada diantara hari raya qurban sementara ia masih memiliki tanggungan hutang yang harus ia lunasi segera.

Lalu bagaimana pendapat para ulama dalam hal mendahulukan qurban daripada melunasi hutang?. Apakah dibolehkan menyembelih hewan qurban baginya jika ia masih dalam beban hutang yang belum terlunasi?

Hukum Terkait Qurban dan Hutang


Hukum Qurban
 

Telah disepakati oleh Jumhur Ulama bahwa ibadah qurban hukumnya Sunnah Muakkadah.

Namun beberapa Ulama berpandangan bahwa quban hukumnya wajib jika memenuhi syarat tertentu. Salah stu ulama yang memberikan hukum wajib atas qurban dengan syarat tertentu adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Kewajiban Qurban disyaratkan memiliki kemampuan dan punya kelebihan dari kebutuhannya yang asasi, seperti halnya sedekah fitrah".

Sedangkan Jumhur Ulama dari kalangan madzhab Asy-Syafi’iyyah, Malikiyyah dan Hanabilah berpendapat hukum qurban adalah Sunnah Muakkadah. Pendapat para ulama di sini bahkan dengan sangat tegas menyebutkan hukum bagi orang yang tidak ber-qurban padahal ia mampu untuk menyembelih hewan qurban,

“orang yang mampu berqurban akan tetapi tidak berqurban, maka hukumnya makruh”. [Al-Muhadzdzab:1/317, Bidayah Al-Mujtahid:2/413, Al-Mughni:13/360].

Imam Ibnu Hazm bahkan mengatakan : “Tidak sah dari seorang sahabat pun bahwa ber-qurban hukumnya wajib”. [Al-Muhalla : 7/355]

Dan pendapat dari Imam Ibnu Hazm ini disetujui oleh Syaikh Abdul ‘Azis bin Baz. [Fatawa Lajnah Da’imah 11/449 fatwa no.9563].

Sehingga pendapat yang terkuat terkait pertanyaan hukum qurban apakah wajib atau sunnah, adalah pendapat para Jumhur Ulama, bahwa qurban hukumnya Sunnah Muakkadah (Sunnah yang ditekankan). Namun di sini diingatkan agar lebih memilih sifat kehati-hatian bagi seorang muslim agar tidak meninggalkan qurban jika ia memiliki kemampuan untuk melakukan ibadah qurban. Sebab dengan mengerjakan ibadah qurban, maka ia akan terbebas dari tanggungan dosa, dan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala limpahan nikmat yang diberikan.

Hukum Hutang 

Tak ada satu mazhab pun yang membantah hukum atas kewajiban melunasi hutang, sehingga atas keutamaan itu maka hukum melunasi hutang itu wajib.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” [HR. Tirmidzi, no.1078. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini Shahih].

Dalam hadits yang lain, dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

”Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni, kecuali hutang.” [HR. Muslim, no.1886].

Dengan demikian, maka dapat difahami bahwa hukum qurban dan hukum melunasi hutang masing-masing berbeda. Qurban hukumnya Sunnah Muakkadah, sementara Melunasi Hutang itu hukumnya Wajib.

Kesimpulan

Sehingga melunasi hutang lebih utama dibanding menyembelih hewan qurban. Berikut beberapa simpulan yang dapat terhimpun atas perkara boleh atau tidaknya mendahulukan qurban tanpa melunasi hutang :
  • Melunasi hutang itu hukumnya Wajib, sedangkan berqurban itu Sunnah Muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan). Perkara amalan wajib harus lebih didahulukan dibandingkan dengan amalan yang sunnah, meski itu sunnah yang sangat ditekankan.


  • Oleh karena pentingnya pembebasan dari hutang, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berdoa dalam shalatnya agar terlindung dari hutang.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa di akhir shalat (sebelum salam) : ‘Allahumma Inni a’udzubika minal ma’tsami wal maghram’ (Yaa Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan hutang). Lalu ada yang bertanya kepada beliau Sahallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘mengapa engkau selalu meminta perlindungan dari hutang?’. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jiia orang yang berhutang berkata, ia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari’.” [HR. Bukhari, no. 2397]

Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dijamin syurganya saja masih takut atas keburukan hutang, bagaimana kita ummatnya bisa merasa aman dari hutang?.

Wallahu a’lam bishshawab

Demikian artikel “Mendahulukan Qurban Tanpa Melunasi Hutang”, semoga dapat bermanfaat. Semoga menjadi amal jariyyah bagi akhi dan ukhty yang turut berperan serta menyebarluaskan ilmu yang sangat bermanfaat ini. Dalam sebuah hadits Imam Muslim menyebutkan,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” [HR. Muslim].

_________
Referensi : hadits-hadits

Label : Qurban, hutang, mendahulukan qurban tanpa melunasi hutang

Deskripsi : Banyak ummat yang gagal faham tentang keutamaan qurban yang seakan-akan dianggap lebih utama dan harus segera dilaksanakan mengingat waktu kedatangannya hanya setahun sekali, tanpa memperhatikan apakan dirinya masih terbebani atas hutang. Berikut penjelasan berdasarkan dalil-dalil hadits shahih

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel