Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Inilah Akibat Meninggalkan Shalat Ber- Jamaah

Inilah Akibat Meninggalkan Shalat Berjamaah
gambar ilustrasi : Akibat Meninggalkan Shalat Ber- Jamaah - http://www.langitallah.com

Inilah Akibat Meninggalkan Shalat Ber- Jamaah


Assalamu ‘alaium warahmatullahi wabarakatuh

Langitallah.com [Inilah Akibat Meninggalkan Shalat Ber- jamaah] – Adalah kewajiban utama bagi setiap muslim untuk mendirikan shalat. Kewajiban shalat yang dimaksudkan adalah shalat fardhu yang hukumnya wajib, dan tidak termasuk di dalamnya shalat sunnah yang memang hukum asalnya sunnah. Shalat merupakan tiang agama, dan akan menjadi objek hisab pertama kali pada hari kiamat nanti. Shalat juga tentunya jika dilaksanakan dengan benar sesuai sunnah Rasululah akan dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Allah Subhanahu w Ta’ala berfirman :

“...dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah (kamu) dari perbuatan keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).” [QS. Al Ankabut : 45]

Maka sudah semestinya jika seorang muslim meniru dan mencontohi tata cara shalat dan sifat-sifat shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Shalatlah kamu sekalian, sebagaimana kalian melihatku shalat.” [HR. Bukhari no.628, no.7246, dan Muslim no.1533]

Tentu saja karena telah diwajibkannya shalat lima waktu bagi umat islam, maka akan ada akibatnya jika seorang hamba Allah dengan sengaja meninggalkan shalatnya. Namun sebelum kita membahas tentang akibat meninggalkan shalat ber- jamaah, tidak ada salahnya jika kita membahas terlebih dahulu tentang apa itu shalat?”, bagaimana hukum shalat ber- jamaah”, lalu apakah shalat harus dilaksanakan secara ber- jamaah?, dan terakhir akan kita uraikan apa akibat jika seorang hamba, khususnya kaum laki-laki jika ia dengan sengaja meninggalkan shalat ber- jamaah.

Apa Itu Shalat?

Dalam wikipedia 
Secara bahasa shalat berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti, doa. Sedangkan, menurut istilah, shalat bermakna serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin [dalam Majmuu’ Fataawaa wa Rasaail beliau rahimahullah, 12/150-153], ia berkata :

Shalat adalah rukun Islam yang kedua. Shalat adalah rukun yang paling ditekankan setelah dua kalimat syahadat.

Shalat adalah sarana komunikasi antara seorang hamba dengan Rabbnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya apabila salah seorang di antara kalian menunaikan shalat, maka dia sedang bermunajat (berbisik) kepada Rabbnya.” [HR. Al-Bukhâri, Kitab Mawaaqiitus Shalaah]

Hukum Shalat

Shalat berjamaah dan shalat sendiri tentu saja berbeda. Bagi kaum wanita shalat ber- jamaah tidak diwajibkan dilaksanakan di masjid, sedangkan bagi kaum laki-laki maka shalat ber- jamaah di masjid itu (jika tidak ada udzur) maka hukumnya wajib.

Dalam banyak hadits yang membahas tentang hukum shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan peringatan yang cukup keras bagi siapa saja dari seorang muslim yang dengan sengaja meninggalkan shalat fardhunya.

Dalam sebuah hadits, orang yang dengan sengaja meninggalkan shalatnya akan dihukumi menjadi kafir dan pada hari kiamat nanti mereka yang meninggalkan shalat akan berkumpul bersama dengan orang-orang seperti Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Perjanjian yang memisahkan kita (umat muslim) dengan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkan shalat, maka berarti dia telah kafir.” [HR. Imam Ahmad dan Tirmidzi]

Dalam hadits riwayat Imam Ahmad dan yang lainnya menyatakan kekafiran orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Barang siapa yang menjaga shalat maka ia (-shalatnya-) akan menjadi cahaya, (sebagai) bukti dan keselamatan baginya pada hari kiamat. Dan barang siapa yang tidak menjaga (shalat)nya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, (sebagai) bukti keselamatan. Dan pada hari kiamat ia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubay bin Khalaf.” [HR. Imam Ahmad, At-Thabrani dan Ibnu Hibban; sanad hadits Shahih]

Apakah Shalat Mesti Dilaksanakan Secara Ber- jamaah?


Shalat ber- jamaah sebaik-baiknya dilaksanakan di masjid, pelaksanaannya berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka”. [QS. An-Nisaa’ : 102]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, seorang laki-laki buta mendatangi Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, dan ia berkata,
”Wahai Rasulullah, saya  tidak memiliki penunjuk jalan yang dapat mendampingi saya untuk mendatangi masjid.” Maka ia meminta keringanan kepada Rasulullah untuk tidak shalat ber- jamaah dan agar diperbolehkan shalat di rumahnya. Kemudian Rasulullah memberikan keringanan kepadanya. Namun  ketika lelaki itu hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya lagi dan bertanya,“Apakah kamu mendengar adzan?” Ia menjawab,”Ya”. Rasulullah bersabda,”Penuhilah seruan (adzan) itu.” [HR. Muslim: 6]

Dalam hadits di atas, laki-laki buta yang mendatangi Rasulullah ini tidak dibolehkan mengerjakan shalat (fardhu) di rumahnya jika ia mendengar lantunan suara adzan. Hal ini menunjukkan bahwa memenuhi seruan adzan adalah wajib, dengan mendatangi masjid untuk shalat ber- jamaah.

Kewajiban shalat fardhu ber- jamaah ini ditegaskan kembali di dalam hadits Ibnu Ummi Maktum. Ibnu Ummi Maktum berkata:

““Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mendengar seruan adzan hayya ‘alash shalah, hayya ‘alal falah? Jika iya, penuhilah seruan adzan tersebut”.” [HR. Abu Daud :2]. Dan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Dalam dua riwayat hadits di atas, seseorang memiliki beberapa udzur:
  1. Laki-laki itu adalah seorang yang buta,
  2. Laki-laki itu tidak punya teman sebagai penunjuk jalan untuk menemani,
  3. DI daerahnya banyak sekali tanaman, dan
  4. Banyak binatang buas.

Akan tetapi telinganya mendengar seruan adzan berkumandang, maka tetap diwajibkan menghadiri shalat ber- jamaah di masjid. Meski orang tersebut memiliki banyak udzur, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan dia untuk memenuhi panggilan adzan yaitu melaksanakan shalat ber- jamaah di masjid.
Lalu, bagaimana dengan mereka tidak memiliki udzur sama sekali, mereka yang masih diberi nikmat penglihatan, pendengaran, badan sehat dan bertubuh kuat?

Inilah Akibat Meninggalkan Shalat Ber- jamaah Di Masjid (bagi laki-laki)

Sebelum menyimpulkan akibat meninggalkan shalat, berikut akan dibahas tentang keutamaan shalat ber- jamaah itu sendiri. Hal ini penting, untuk memotivasi kaum muslimin utamanya kaum laki-laki agar terketuk hatinya ‘atas nama Allah’ untuk kembali mendirikan shalat ber- jamaah di masjid, mengingat belakangan ini sering sekali terlihat di berbagai masjid yang sudah semakin menjamur, namun sangat sedikit sekali yang jamaah yang mengisi shaf-shafnya.

Pertama: Shalat BerJamaah Memiliki Pahala Lebih Banyak daripada Shalat Sendirian

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Shalat jamaah lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak 27 derajat.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Dari Abu Sa’id Al Khudri, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Shalat jamaah itu senilai dengan 25 shalat. Jika seseorang mengerjakan shalat ketika dia bersafar, lalu dia menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, maka shalatnya tersebut bisa mencapai pahala 50 shalat.” [HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]

Ibnu Baththal rahimahullah mengatakan, “Kadang keutamaan shalat jamaah disebutkan sebanyak 27 derajat, kadang pula disebut 25 kali lipat, dan kadang juga disebut 25 bagian. Ini semua menunjukkan berlipatnya pahala shalat jamaah dibanding dengan shalat sendirian dengan kelipatan sebagaimana yang disebutkan.” [Syarh Shahih Al Bukhari li Ibni Baththal, 2/271, Maktabah Ar Rusyd]

Kedua: Dengan Shalat Jamaah Akan Mendapat Pengampunan Dosa

Dari ‘Utsman bin ‘Affan, beliau berkata bahwa saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa berwudhu untuk shalat, lalu dia menyempurnakan wudhunya, kemudian dia berjalan untuk menunaikan shalat wajib yaitu dia melaksanakan shalat bersama manusia atau bersama jamaah atau melaksanakan shalat di masjid, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” [HR. Muslim, Kitab Ath Thoharoh, Bab Keutamaan Wudhu dan Shalat Sesudahnya]

Ketiga: Setiap Langkah Menuju Masjid akan Meninggikan Derajatnya dan Menghapuskan Dosanya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Shalat seseorang dalam jamaah memiliki nilai lebih 20 sekian derajat daripada shalat seseorang di rumahnya, juga melebihi shalatnya di pasar. Oleh karena itu, jika salah seorang di antara mereka berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian mendatangi masjid, tidaklah mendorong melakukan hal ini selain untuk melaksanakan shalat; maka salah satu langkahnya akan meninggikan derajatnya, sedangkan langkah lainnya akan menghapuskan kesalahannya. Ganjaran ini semua diperoleh sampai dia memasuki masjid. Jika dia memasuki masjid, dia berarti dalam keadaan shalat selama dia menunggu shalat.  Malaikat pun akan mendo’akan salah seorang di antara mereka selama dia berada di tempat dia shalat. Malaikat tersebut nantinya akan mengatakan: Ya Allah, rahmatilah dia. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah taubatnya. Hal ini akan berlangsung selama dia tidak menyakiti orang lain (dengan perkataan atau perbuatannya) dan selama dia dalam keadaan tidak berhadats.” [HR. Bukhari, Kitab Al Jamaah wal Imamah dan Muslim, Kitab Al Masajid]

Keempat: Shalat BerJamaah Berarti Menjalankan Sunnah Nabi, Meninggalkannya Berarti Meninggalkan Sunnahnya

Terdapat sebuah atsar dari dari ‘Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata,
“Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat ini (yakni shalat jamaah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyari’atkan bagi nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan shalat jamaah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi). Seandainya kalian shalat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” [HR. Muslim, Kitab Al Masajid]

Ibnu ‘Allan Asy Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata,
“Jika kalian melaksanakan shalat di rumah kalian yaitu melaksanakan shalat wajib sendirian atau melaksanakan shalat jamaah namun di rumah (bukan di masjid) sehingga tidak nampaklah syi’ar Islam, sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang yang betul-betul meremehkannya , maka kalian berarti telah meninggalkan ajaran Nabi kalian yang memerintahkan untuk menampakkan syi’ar shalat ber- jamaah. Jika kalian melakukan seperti ini, niscaya kalian akan sesat. Sesat adalah lawan dari mendapat petunjuk.” [Dalil Al Falihin Li Thuruqi Riyadhis Shalihin, 6/402, Asy Syamilah]

Kesimpulan

Hukum Shalat ber-jamaah (di masjid) adalah wajib (fardhu ‘ain) sebagaimana ini merupakan pendapat ‘Atha’ bin Abi Rabbah, Al Hasan Al Bashri, Abu ‘Amr Al Awza’i, Abu Tsaur, Al Imam Ahmad (yang nampak dari pendapatnya) dan pendapat Imam Asy Syafi’i dalam Mukhtashar Al Muzanniy. Imam Asy Syafi’i mengatakan:

“Adapun shalat jamaah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.” [Lihat Ash Shalah wa Hukmu Tarikiha, hal. 107]. Pendapat Imam Asy Syafi’i ini sangat berbeda dengan ulama-ulama Syafi’iyah.

Menurut Hanafiyyah -yang benar dari pendapat mereka- dan ini juga merupakan pendapat dari mayoritas Malikiyah, dan juga pendapat Syafi’iyah, bahwa shalat ber- jamaah 5 waktu adalah sunnah mu’akkad. Namun sunnah mu’akkad menurut Hanafiyyah adalah mendekati wajib yaitu nantinya akan mendapat dosa. Dan ada sebagian mereka (Hanafiyyah) yang menegaskan bahwa hukum shalat ber- jamaah adalah wajib.

Lalu pendapat yang paling kuat dari Syaf’iyah, shalat ber- jamaah pada 5 waktu shalat hukumnya adalah fardhu kifayah. Pendapat ini juga merupakan pendapat sebagian ulama Hanafiyah seperti Al Karkhiy dan Ath Thahawiy.

Sebagian ulama Malikiyah memberi rincian. Hukum shalat ber- jamaah menurut ulama Malikiyah adalah fardhu kifayah bagi suatu negeri. Jika di negeri tersebut tidak ada yang melaksanakan shalat ber- jamaah, maka mereka harus diperangi. Namun menurut mereka, hukum shalat ber- jamaah pada 5 waktu shalat fadhu adalah sunnah di setiap masjid yang ada dan merupakan keutamaan bagi laki-laki.

Akan tetapi menurut ulama Hanabilah, juga merupakan salah satu pendapat ulama Hanafiyyah dan Syafi’iyyah bahwa hukum shalat ber- jamaah adalah wajib, namun bukan syarat sah shalat. [Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/165-167, Wizaratul Awqaf wasy Syu’un Al Islamiyah Al Kuwait]

Sahabat, demikianlah perbedaan pendapat di antara ulama 4 mazhab, ada yang menghukuminya fardhu ‘ain, fardhu kifayah, dan ada juga yang mengatakan sunnah mu’akkad. Namun perbedaan pendapat dikalangan ulama tidak menjadikan mereka saling salah menyalahkan. Namun semua itu dikembalikan kepada bagaimana kita memahami shalat sebagai kewajiban kita sebagai umat muslim kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan sebaik-baik muslim adalah mereka yang tidak pernah surut semangatnya untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid dan sekaligus menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Perjanjian yang memisahkan kita (umat muslim) dengan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkan shalat, maka berarti dia telah kafir.” [HR. Imam Ahmad dan Tirmidzi]

Imam Ahmad dan yang lainnya meriwayatkan hadits, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Barang siapa yang menjaga shalat maka ia (-shalatnya-) akan menjadi cahaya, (sebagai) bukti dan keselamatan baginya pada hari kiamat. Dan barang siapa yang tidak menjaga (shalat)nya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, (sebagai) bukti keselamatan. Dan pada hari kiamat ia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubay bin Khalaf.” [HR. Imam Ahmad, At-Thabrani dan Ibnu Hibban; sanad hadits Shahih]

Semoga kita dapat terhindar dari digolongkan sebagai orang-orang yang kafir yang kelak di hari kiamat akan bersama dengan orang-orang kafir ternama seperti Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubay bin Khalaf. Na’udzubillahi minzalik.

Wallahu a’lam bishshawab
_______________
Referensi : Almanhaj.or.id =>  https://almanhaj.or.id/5609-arti-shalat-bagi-seorang-muslim.html
                    Muslim.or.id =>  https://muslim.or.id
                   Rumaysho.com => https://rumaysho.com

Label : Hukum, Shalat, Apa Itu Shalat, Akibat Meninggalkan shalat, Akibat Melalaikan Shalat, Akibat Meninggalkan shalat ber- jamaah, hukum shalat berjamaah di masjid

Deskripsi : Perkara meninggalkan kewajiban shalat saat ini sudah sangat terlihat jelas pada sebahagian umat islam. Banyak mAsjid yang berdiri namun sedikit sekali yang senantiasa berupaya untuk meramaikannya. Bahkan sunnah Rasulullah pun banyak yang meninggalkannya. Ulasan perkara kelalaian shalat dan akibat meninggalkan shalat ber jamaah hampir tidak pernah lagi terdengar di masjid-masjid.