Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Aqiqah Dulu Atau Qurban Dulu?

Aqiqah Dulu Atau Qurban Dulu ?
ilustrasi gambar : http://www.langitallah.com - aqiqah dulu atau qurban dulu?


AQIQAH Dulu Atau QURBAN Dulu?


Assalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh

Bismillahi washshalatu wassalamu ‘alaa Rasulillah, wa ba’du,

Langitallah.com [Aqiqah Dulu Atau Qurban Dulu?] Sebuah pertanyaan singkat, mana yang lebih didahulukan, apakah aqiqah dulu atau qurban dulu?. Pertanyaan ini terlihat simpel, namun sungguh membuat beberapa penafsiran makna. Sehingga pertanyaan di atas dapat menjadi “apakah boleh berqurban sementara anaknya yang baru lahir belum di aqiqah?”, yang kedua bisa saja maksudnya “bolehkah melakukan qurban sementara dulu waktu kecil belum diaqiqahi orang tua?”, atau juga bisa “bolehkah saya mendahulukan qurban meskipun saya belum beraqiqah?”.


Pertama :

Pada kemungkinan pertanyaan pertama yaitu “apakah boleh berqurban sementara anaknya yang baru lahir belum di aqiqah?”, jawabannya adalah mayoritas ulama berpendapat bahwa kedua-duanya, baik aqiqah maupun qurban sama-sama memiliki hukum sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat ditekankan.

Di dalam hadits riwayat Imam Muslim, dari sahabat Ummu Salamah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda :

“Apabila kalian melihat hilal bulan dzulhijjah dan kalian hendak berqurban, maka jangan menyentuh (memotong) rambut dan kukunya.” [HR. Muslim]

Dalil diatas terdapat kalimat ‘hendak berqurban’, yang menunjukkan bahwa kalimat ‘hendak berqurban’ yang dimaksud adalah jika memiliki keinginan atau kemauan atau kelapangan harta. Sehingga diberi hukum Sunnah yang sangat ditekankan, maka menjadilah Sunnah Muakkadah.

Berdasarkan hal ini, maka keputusan terbaik adalah melaksanakan kedua sunnah tersebut (baik aqiqah maupun qurban) secara bersamaan. Sebab kedua-duanya dianjurkan untuk dilaksanakan (sunnah muakkadah).

Dalam Kondisi Tertentu :

# Jika aqiqahnya bertepatan dengan hari raya qurban namun tidak mampu untuk menyembelih sejumlah kambing untuk aqiqah dan qurban, maka sebaiknya mengambil pendapat ulama yang lebih kuat yang membolehkan menggabungkan aqiqah dan qurban. Tetapi jika mampu untuk menyembelih sejumlah kambing, maka sebaiknya jangan menggabungkannya.

# Untuk waktu aqiqah yang berbeda di selain dari hari qurban, maka sebaiknya mendahulukan waktu yang lebih awal pelaksanaannya. [Fatwa Syabakah Islamiyyah, dalam bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih, fatwa no.44768]

Sehingga dari dalil tersebut diatas, maka jawaban atas pertanyaan “apakah boleh berqurban sementara anaknya yang baru lahir belum di aqiqah?” adalah diperbolehkan. Kembali melihat mana yang waktunya datang lebih awal. Jika waktu qurban lebih awal, maka dia bisa qurban terlebih dahulu kemudian aqiqah. Dan begitu pula sebaliknya, jika waktu aqiqah datang lebih awal dari hari qurban maka yang terbaik mendahulukan aqiqah dulu kemudian qurban.


Kedua :

Lalu pada kemungkinan maksud pertanyaan kedua yaitu “bolehkah melakukan qurban sementara dulu waktu kecil belum diaqiqahi orang tua?”, atau “bolehkah saya mendahulukan qurban meskipun saya belum beraqiqah?”.

Sebuah pemahaman yang mahsyur di tengah-tengah masyarakat, ada yang beranggapan bahwa menyembelih hewan qurban (berqurban) sebelum melaksanakan aqiqah itu status qurbannya dianggap tidak sah. Pemahaman ini yang membuat masyarakat resah dan bimbang untuk melaksanakan ibadah qurban. Allahu a’lam, sungguh kami tidak pernah mengetahui, asal usul munculnya pemahaman seperti ini.

Beberapa catatan untuk menjawab hukum berqurban bagi orang yang belum diaqiqahi oleh orang tuanya sewaktu masih kecil, yaitu :

# 1
Berqurban dan aqiqah adalah dua kewajiban yang berbeda. Dan keduanya tidak memiliki hubungan sebab akibat. Dalam arti, aqiqah bukan syarat sah qurban, dan demikian pula sebaliknya, qurban bukan syarat sah nya aqiqah.

Tentu aqiqah dan qurban tidak boleh disamakan sengan ibadah shalat dan wudhu. Wudhu dan Shalat merupakan ibadah yang terpisah, namun wudhu menjadi syarat sah shalat. Dalilnya didasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Tidak ada shalat kecuali dengan thoharoh”. [HR. Muslim, no.224]

Analoginya, adalah bahwa untuk menyebut bahwa sebuah amalan merupakan syarat dari amalan yang lain itu harus memiliki sandaran dalil yang kuat dan shahih. Sementara pada ibadah aqiqah dan qurban tidak ditemukan adanya dalil yang menyebabkan kedua ibadah ini menjadi syarat sah dari ibadah yang lain.

# 2
Penanggung jawab kedua ibadah ini (aqiqah dan qurban), masing-masing berbeda. Aqiqah merupakan tanggung jawab seorang ayah kepada anaknya. Sedangkan qurban, merupakan tanggung jawab pribadi mereka yang hendak melakukan qurban.

Al-Khallal meriwayatkan dari Ismail bin Said as-Syalinji, beliau mengatakan,

“Saya bertanya kepada Imam Ahmad tentang seseorang yang diberi-tahu orang tuanya, bahwa dirinya belum diaqiqahi. Bolehkah orang ini mengaqiqahi dirinya sendiri? Kata Ahmad, ‘Itu tanggung jawab ayahnya.’” [Tuhfatul Maudud, hal. 58].

# 3
Sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang waktu kecilnya belum diaqiqah oleh orang tuanya, kemudian ketika dewasa dia hendak berqurban, maka sembelihan qurban yang ia lakukan, sudah mencakup aqiqah untuk dirinya.

Al-Khallal menyebutkan riwayat keterangan dari Imam Ahmad,

Imam Ahmad menyebutkan bahwa sebagian ulama mengatakan, “Jika ada orang yang berqurban, maka sudah bisa mewakili aqiqah.”

Kami mendapatkan berita dari Ishmah bin Isham, dari Hambal (keponakan Imam Ahmad), bahwa Imam Ahmad pernah mengatakan, “Saya berharap, semoga qurban bisa mewakili aqiqah, Insyaa Allah, bagi orang yang belum diaqiqahi.” [Tuhfatul Maudud, hal. 58].

Maka berdasar dari penjelasan para ulama di atas, maka bukanlah sebuah masalah ketika orang yang belum diaqiqah sewaktu kecil oleh orang tuanya, boleh melakukan qurban. Karena aqiqah bukan syarat sah qurban.

Wallahu a’lam bishshawab

Referensi : Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Label : Ibadah, Aqiqah, Qurban, aqiqah dulu atau qurban dulu

Deskripsi : Silang pendapat ditengah masyarakat tentang yang mana harus didahulukan antara Aqiqah dan Qurban memang menjadi pembahasan yang perlu diluruskan. Kemiskinan ilmu dari seorang muslim bisa membawanya ke dala kekufuran. Na’udzubillahi minzalik.