Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Inilah Adab Mendengar Khutbah Jum’at

Inilah Adab Mendengar Khutbah Jum’at, Jum’at, Khutbah, Adab Mendengarkan Khutbah Jum’at - langitallah.com
ilustrasi : Ustadz Adi Hidayat, Lc, MA - Adab Mendengarkan Khutbah Jum'at

Inilah Adab Mendengar Khutbah Jum’at


Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

LangitAllah.com Hari Jum’at adalah hari istimewa bagi ummat islam. Hari jum’at telah Allah berikan kepada ummat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penghulu hari dalam setiap pekannya. Namun, tak sedikit ummat muslim yang kurang memahami keutamaan-keutamaan adab - adab yang perlu senantiasa dipelihara pada hari jum’at. Salah satu adab yang perlu diperhatikan ketika hari jum’at adalah adab mendengarkan Khutbah Jum’at.

Tak jarang kita perhatikan, ketika seorang Khatib Jum’at telah berdiri di atas mimbar menyampaikan pesan – pesan ketauhidan masih banyak jamaah yang pada sibuk dengan aktifitas handphone juga beberapa terlihat saling membicarakan persoalan dunia yang seharusnya tidak dilakuka ketika Khatib telah berada di atas mimbar Jum’at.

Lalu, bagaimanakah adab mendengar khutbah Jum’at itu ?


Ketika seorang Khatib Jum’at sedang menyampaikan khutbah Jum’at, seorang muslim yang baik tentunya dilarang untuk menyibukkan diri dengan hal-hal yang sia-sia yang dapat membuatnya lalai dalam menyimak pesan – pesan khatib melalui khutbah tersebut. Sebagaimana larangan ini telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

“Jika kamu berkata kepada temanmu, “Diamlah”, sementara imam sedang berkhutbah di hari Jum’at, sungguh ia telah berbuat sia-sia.”
[Muttafaqun ‘alaihi]

Hadits tersebut di atas telah jelas menunjukkan adanya larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak berkata-kata apapun ketika imam khatib menyampaikan khutbah ju’mat. Jangankan melakukannya, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang kita untuk mencegah orang lain untuk berbicara dengan juga menyampaikannya dengan ucapan. Seruan kepada orang lain supaya diam di saat imam khatib sedang ber- khutbah merupakan bentuk amar ma’ruf nahi munkar. Namun oleh karena dilakukan pada saat yang tidak tepat, maka perbuatan tersebut menjadi tidak berpahala. Bahkan justru berdampak buruk bagi pelakunya. Karena telah sangat jelas di akhir hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “...sungguh kamu telah berbuat sia-sia.” Terlebih terkait pembicaraan yang hukum asalnya mubah. Tentu hal ini lebih terlarang lagi berdasarkan hadits tersebut di atas.

Maksud sabda Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam -faqad laghauta- artinya “..sungguh ia telah berbuat sia-sia.”, dalam hadits di atas adalah ia terluputkan dari pahala shalat Jum’at.

Dalam riwayat Tirmidzi terdapat kalimat tambahan:

“…barangsiapa berbuat sia-sia, maka tidak ada pahala shalat Jum’at untuknya.” [Imam Tirmidzi berkata: hadits ini hasan shahih. Para ulama hadits lainnya menilai hadits ini dha’if, namun maknanya benar].

Dalam riwayat yang lain disebutkan,

“Dan barangsiapa yang berbuat sia-sia dan melangkahi pundak-pundak manusia, maka Jum’atannya itu hanya bernilai salat Zhuhur.” [HR. Abu Dawud, no. 347. Dihasankan oleh Al-albani dalam Shahih Abi Dawud]

Hal ini bukan berarti shalat Jum’atnya batal. Shalatnya tetap sah, hanya saja ia terluput dari pahala shalat Jum’at. Dan cukuplah ini kerugian yang besar bagi seorang mukmin.

Ada pengecualian di sini, yaitu dibolehkan bagi khatib untuk berinteraksi dengan jama’ah, bila memang diperlukan. Begitu pula sebaliknya; seorang jamaah boleh berinteraksi dengan Sang Khatib. Namun ini sebatas kebutuhan saja. Artinya jangan sampai menyebabkan konsentrasi jamaah yang lain terganggu.

Seperti ini pernah terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau sedang khutbah, salah seorang sahabat masuk ke masjid kemudian langsung duduk. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dia supaya berdiri untuk shalat tahiyyatul masjid. (Lihat Shahih Al-bukhari, hadits no. 931)

Dalam kesempatan yang lain, ketika Madinah sedang ditimpa paceklik, salah seorang sahabat meminta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya mendoakan turun hujan. Saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang khutbah Jum’at. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan beliau, sejajar dengan wajah beliau serambi berdoa,

(Allahummas Qinaa) “Ya Alllah, turunkan hujan kepada kami.”
Hujan pun turun ketika itu juga sampai hari Jum’at yang berikutnya. (Lihat Sunan An-Nasa’i, hadits no. 1515)

Diperbolehkan pula bagi makmum untuk melakukan hal-hal yang ada kaitannya dengan khutbah. Seperti mengamini doa khatib dan bershalalawat kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Adapun hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan khutbah: seperti mencatat faidah-faidah khutbah, menjawab salam (-menjawabnya cukup dengan isyarat-), men-tasymit orang yang bersin (mengucapkan yarhamukallah saat saudaranya mengucapkan alhamdulillah ketika bersin) dan lain-lain, maka hal ini tidak diperbolehkan.

Ada hadits lain yang menjelaskan tentang adab ketika khatib sedang khutbah Jum’at, berikut ini haditsnya:

“Barangsiapa yang berwudhu lalu memperbagus wudhunya kemudian dia mendatangi shalat Jum’at, dia mendengarkan khutbah dan diam, maka akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at ini dengan Jum’at yang akan datang, ditambah tiga hari. Dan barangsiapa yang bermain kerikil, sungguh ia telah berbuat sia-sia.” [HR. Muslim]

Hadits kedua ini menjelaskan tentang larangan yang berkaitan dengan perbuatan. Adapun hadits pertama tadi menjelaskan tentang larangan yang berkaitan dengan ucapan.

Jadi, kesimpulannya bahwa, di saat khatib jum’at sedang menyampaikan pesan – pesan khutbah, seorang makmum atau jamaah sebaiknya tidak boleh menyibukkan diri dengan hal - hal yang dapat mengganggu kosentrasinya dari mendengarkan dan menyimak isi pesan khutbah Jum’at tersebut. Baik hal yang berkaitan dengan ucapan maupun yang bersangkut paut dengan perbuatan.

Lalu, Bagaimana Dengan Orang Yang Bermain Handphone Ketika Khutbah Jum’at Berlangsung?


Telah jelas dalam hadits di atas bahwa semua aktifitas yang dapat melalaikan dari menyimak pesan khutbah sang khatib adalah tidak boleh atau dilarang, termasuk perkara bermain handphone di saat khatib sedang berkhutbah tentunya juga tidak boleh. Hukumnya sama dengan orang yang bermain kerikil yang disinggung dalam hadits di atas. Jadi seorang yang sibuk bermain handphone ketika khatib sedang khutbah, ia juga terluputkan dari kesempurnaan pahala shalat jum’at.

Bagaimana bila seorang ingin merekam khutbah jum’at dengan menggunakan handphone?

Untuk aktifitas merekam khutbah shalat jum’at adalah tergantung bagaimana ia saat melakukan perekaman. Jika aktifitas merekam dilakukan pada saat khatib sedang menyampaikan pesan khutbah, maka hukumnya sama dengan orang yang bermain kerikil yang disinggung dalam hadits di atas, yaitu terlarang oleh Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun hukumnya menjadi boleh jika ia melakukan perekaman dengan mempersiapkannya sebelum khatib memulai khutbah. Seperti saat khatib sedang naik mimbar atau sejak sebelumnya. Dengan catatan sepanjang khatib belum memulai khutbah, maka dibolehkan bagi yang hendak mempersiapkan handphone untuk merekam. Karena konteks haditsnya berbunyi: “Jika kamu berkata kepada temanmu, “Diamlah” sementara imam sedang berkhutbah di hari Jum’at, sungguh ia telah berbuat sia-sia.” [Muttafaqun ‘alaihi].

(Tulisan ini adalah rangkuman faidah dari kajian Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad hafizhahullah, saat membahas Kitab Al-Jum’ah dari Shahih Muslim, di Masjid Nabawi Asy- Syarif)


Referensi : sebagian dikutip dari Muslim. Or.Id

-----------------------------------------
Sahabat, jika anda seorang yang sedang mendalami ilmu agama dan hendak melakukan percepatan memperoleh ganjaran pahala yang banyak di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka jangan ragu untuk membagikan artikel ini kepada keluarga dan sahabat kita sejak saat ini. Semoga Allah menjadikan usaha kita ini sebagai ladang yang terus mengalirkan pahala bagi kita sebab ilmu yang bermanfaat. Ketahuilah, tak ada manusia yang tak memiliki dosa, dan kita butuh amalan yang mampu menghapus lautan dosa yang telah kita perbuat selama hidup kita ini. Namun Allah Yang Maha Pengampun telah memberikan jalan ampunan dan keridhaan-Nya bagi hamba-Nya yang gemar memohon ampun kepada-Nya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, jika kamu tidak pernah berbuat dosa, maka Allah akan mematikan kamu dan menggantikannya dengan suatu kaum yang berbuat dosa kemudian mereka meminta ampun kepada-Nya, kemudian Allah akan mengampuni mereka" [HR. Muslim no. 2749].

Dalam sebuah hadits juga disebutkan :
“Menuntut ilmu agama merupakan kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan”. [HR. Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]. [Tim Reaksi LangitAllah.com]

_______________
Label : Jum’at, Khutbah, Hadits, Adab Mendengarkan Khutbah Jum’at

Deskripsi : Adab apa yang harus kita lakukan saat khatib menyampaikan khutbah jum’at? Inilah adab mendengarkan khutbah sesuai hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam