Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

BENARKAH BERGESER TEMPAT SHALAT SUNNAH SETELAH SHALAT WAJIB ITU ADA DALILNYA?

BENARKAH BERGESER TEMPAT SHALAT SUNNAH SETELAH SHALAT WAJIB ITU ADA DALILNYA?

Benarkah bergeser tempat shalat sunnah setelah shalat wajib itu ada dalilnya - www.langitallah.com

Assalamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh

LangitAllah.com - Masih terdapat sejumlah orang dari saudara - saudara seiman kita yang masih belum memahami tentang ada atau tidaknya tuntunan Al Qur'an atau Hadits yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam untuk bergeser tempat shalat sunnah setelah shalat wajib atau shalat fardhu.

Kebiasaan umat islam ini memang terlihat bukan sesuatu yang mendasar, mengingat para jamaah di Indonesia umumnya melakukan hal demikan, yaitu berpindah tempat shalat antara shalat sunnah yang satu dengan shalat sunnah yang lain ketika selesai mengerjakan shalat wajib di masjid. Hal ini telah dilakukan oleh hampir semua jamaah masjid di setiap daerah di tanah air yang mayoritas muslim uni.

Lalu muncul sebuah pernyanyaan penting mengenai hal tersebut. Apakah bergeser tempat shalat sunnah setelah shalat wajib itu pernah dicontohkan dan dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam atau hanya kebiasaan jamaah yang diada-adakan saja?

Maka berhati-hatilah dalam mengamalkan amalan-amalan sunnah yang tak memiliki dalil langsung yang terhubung kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak kebiasaan orang tua kita sejak dulu telah diamalkannya dan dicontohkan secara turun temurun kepada anak dan cucu-cucu mereka, hingga pada akhirnya menjadikan banyak orang tak merasa perlu untuk mencari tahu dalil – dalil yang mendasari amalan – amalan tersebut. Sebab amalan yang dilakukan tanpa ilmu akan sia-sia.

Untuk menjawab hal tersebut, maka dibutuhkan pedoman yang kuat yang sumbernya dari Al Qur'an dan Hadits. Beberapa ulama mengatakan, dianjurkan untuk berpindah tempat bagi orang yang hendak melakukan shalat sunnah setelah shalat wajib. Baik dia imam maupun makmum. Ini merupakan keterangan dari Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Abu Said dan salah satu riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum.

Di antara dalil - dalil yang menunjukkan anjuran ini antara lain sebagai berikut :

Dalil PERTAMA


Allah berfirman tentang Firaun dan kaumnya yang dibinasakan,

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ

“Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh.” [QS. Ad-Dukhan: 29]

Dalam hal ini, Ibnu Abbas menafsirkan bahwa ketika seorang mukmin meninggal dunia, maka bumi yang dulu pernah dijadikan sebagai tempat ibadah, akan menangisinya. Langit yang dulu dilalui untuk naiknya amal yang dia lakukan, juga menangisinya. Sementara bagi kaumnya Firaun, karena mereka tidak memiliki amal saleh, dan tidak ada amalnya yang naik ke langit, bumi dan langit tidak menangisinya karena merasa kehilangan darinya. [Tafsir Ibn Katsir, 7:254].

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman di dalam surah Az Zalzalah :

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ

“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” [QS. Az-Zalzalah: 4]

Kedua ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa bumi akan menjadi saksi untuk setiap perbuatan yang dilakukan manusia. Perbuatan yang baik maupun yang buruk. Makna ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh asy-Syaukani dalam Nailul Authar. Beliau menyatakan:

Alasan dianjurkannya pindah tempat ketika shalat sunnah adalah memperbanyak tempat pelaksanaan ibadah. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Bukhari dan al-Baghawi. Karena tempat yang digunakan untuk sujud, akan menjadi saksi baginya, kelak.

Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ

“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya” [QS. Az Zalzalah: 4].

Maksudnya adalah (bumi akan) mengabarkan semua amalan yang dilakukan di atas bumi. [Nailul Authar, 3:235].


Dalil KEDUA


Hadits dari Nafi bin Jubair, bahwa beliau pernah shalat jumat bersama Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma. Setelah salam, Nafi bin Jubair langsung melaksanakan shalat sunah. Setelah selesai shalat, Muawiyah mengingatkan:


“Jangan kau ulangi perbuatan tadi. Jika kamu selesai shalat Jumat, jangan disambung dengan shalat yang lainnya, sampai berbicara atau keluar masjid. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal itu. Beliau bersabda:
“Jangan kalian sambung shalat wajib dengan shalat sunah, sampai kalian bicara atau keluar.”
[HR. Muslim 883, Abu Daud 1129].

Termasuk cakupan makna bicara dalam hadits ini adalah berdzikir setelah shalat. Hadis ini menunjukkan, hikmah seseorang berpindah tempat ketika hendak melakukan shalat sunah setelah shalat wajib adalah agar tidak termasuk menyambung shalat wajib dengan shalat sunnah.


Dalil KETIGA


Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apakah kalian kesulitan untuk maju atau mundur, atau geser ke kanan atau ke kiri ketika shalat.” Maksud beliau: “shalat sunah”. [HR. Abu Daud 1006, Ibn Majah 1427, Ibn Abi Syaibah 6011, dan dishahihkan al-Albani].

Hal ini juga dikuatkan dengan keterangan sahabat, dari Atha’ bahwa Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Abu said, dan Ibnu Umar mengatakan:

“Hendaknya tidak melakukan shalat sunah, sampai berpindah dari tempat yang digunakan untuk shalat wajib.” [HR. Ibnu Abi Syaibah 6012].

An-Nawawi juga mengatakan:

“Ulama madzhab kami mengatakan, jika seseorang tidak langsung pulang ke rumahnya setelah shalat wajib, dan ingin shalat sunah di masjid maka dianjurkan untuk bergeser sedikit dari tempat shalatnya, agar memperbanyak tempat sujudnya. Demikian alasan yang disampaikan Al-Baghawi dan yang lainnya. Jika dia tidak berpindah dari tempatnya maka hendaknya antara shalat wajib dan shalat sunah dia pisah dengan pembicaraan (termasuk cakupan makna bicara disini adalah berdzikir setelah shalat-pent).” [al-Majmu’, 3:491].

Wallahu a’lam bishshawab


Referensi: saaid.net/Warathah/Alkharashy/mm/37

==> Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits, melalui portal konsultasisyariah.com)


-----------------------------------------
Sahabat, jika anda seorang yang sedang mendalami ilmu agama dan hendak melakukan percepatan memperoleh ganjaran pahala yang banyak di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka jangan ragu untuk membagikan artikel ini kepada keluarga dan sahabat kita sejak saat ini. Semoga Allah menjadikan usaha kita ini sebagai ladang yang terus mengalirkan pahala bagi kita sebab ilmu yang bermanfaat. Ketahuilah, tak ada manusia yang tak memiliki dosa, dan kita butuh amalan yang mampu menghapus lautan dosa yang telah kita perbuat selama hidup kita ini. Namun Allah Yang Maha Pengampun telah memberikan jalan ampunan dan keridhaan-Nya bagi hamba-Nya yang gemar memohon ampun kepada-Nya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, jika kamu tidak pernah berbuat dosa, maka Allah akan mematikan kamu dan menggantikannya dengan suatu kaum yang berbuat dosa kemudian mereka meminta ampun kepada-Nya, kemudian Allah akan mengampuni mereka" [HR. Muslim no. 2749].
Wallahu a’lam bishshawab. [Tim Reaksi LangitAllah.com]


Demikian artikel bergeser tempat shalat sunnah setelah shalat wajib atau shalat fardhu yang kami beri judul Benarkah bergeser tempat shalat sunnah setelah shalat wajib itu ada dalilnya?


 
Label : Shalat, shalat sunnah, bergeser tempat shalat sunnah, al qur’an, hadits

Deskripsi :
Berhati-hatilah mengerjakan sunnah. Mungkin kita adalah salah satu yang belum mengetahui mengapa kebanyakan umat muslim ketika mengerjakan shalat sunnah di masjid selalu bergeser tempat antara shalat sunnah yang satu dengan shalat sunnah yang berikutnya. Apakah hal demikian ini terdapat anjuran dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau tidak?.