Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Thaharah Dan Air Dalam Ibadah Seorang Hamba, Penting Untuk Diketahui

Thaharah Dan Air Dalam Ibadah Seorang Hamba, Penting Untuk Diketahui (langitallah.com)
Thaharah Dan Air Dalam Ibadah Seorang Hamba, Penting Untuk Diketahui (ilustrasi)

Thaharah Dan Air Dalam Ibadah Seorang Hamba, Penting Untuk Diketahui



Assalamu ‘alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh

LangitALLAH.com Keadaan sebagian umat muslim dewasa ini kian hari kian menunjukkan perilaku yang jauh dari agama. Meski ada yang tergerak untuk beribadah, namun tak jarang yang belum memahami arti pentingnya thaharah dan air dalam ibadah kita. Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan bahwa kesucian adalah kunci dari ibadah shalat.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Rasulullah, Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau telah bersabda :

“Kunci shalat adalah bersuci. Shalat diawali dengan membaca takbir dan diakhiri dengan membaca salam” [Hadits ini diriwayatkan oleh ‘Lima Periwayat Hadits’ kecuali Nasa’i]

Inilah salah satu hadits yang mendasar arti pentingnya thaharah dan air yang digunakan untuk bersuci bagi seorang hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Pengertian Thaharah


Pengertian thaharah di bagi menjadi 2 (dau) bagian :
  1. Pengertian Thaharah secara bahasa, thaharah  berarti bersih dari kotoran yang tampak / konkret dan kotoran yang tidak tampak / abstrak (oleh mata manusia).
  2. Pengertian Thaharah secara syar’i, thaharah berarti menghilangkan hadats dan hilangnya najis.

Pembagian Thaharah


Dalam pembagian jenis thaharah, para ulama bersepakat membagi thaharah menjadi dua, yaitu :

1. Thaharah Maknawiyah (yang abstrak)

Yang dimaksud dengan thaharah maknawiyah yaitu membersihkan diri dari kotoran dan najisnya perbuatan syirik (menyekutukkan Allah), kekufuran, kenifaqkan, begitu juga membersihkan diri kita dari perbuatan bid’ah dan kemaksiatan.

Dalil tentang thaharah maknawiyah ini adalah firman Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an :

“Ambilah shadaqah (zakat) dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka.” [Qs. At Taubah : 103]

2. Thaharah Hissiyyah (yang konkret)

Thaharah Hissiyyah terbagi menjadi dua bagian, yaitu :

  1. Membersihkan dari hadats, baik hadats kecil maupun hadats besar.
  2. Membersihkan dari najis.

Adapun jenis thaharah yang dibahas para ulama dalam kitab-kitab fiqih mereka adalah jenis thaharah yang kedua, yaitu thaharah hissiyyah.

Kita perlu berhati-hati dalam mengartikan najis. Beberapa sahabat kami suatu waktu telah keliru mengartikan najis. Najis yang mereka maksud ternyata adalah hadats dalam pandangan agama Islam. Hadats dan najis sangat berbeda. Namun untuk memudahkan dalam hal membersihkannya (thaharah) antara hadats dan najis itu berbeda dari niat, perlu diniatkan atau tidak. Untuk menghilangkan atau membersihkan hadats, seorang muslim harus memiliki niat. Sedangkan hilangnya najis sah tanpa niat, yang penting hilang najisnya. Jadi, untuk membersihkan atau menghilangkan hadats, wajib dengan niat. Sedangkan untuk membersihkan atau menghilangkan najis, tidak perlu dengan niat.


Air


Air Muthlaq

Yang dimaksud dengan Air muthlaq adalah air yang masih dalam bentuk penciptaan aslinya, contohnya: air hujan, salju, embun, air sumur, air sungai, air laut, dan sebagainya.


Air Muthlaq Suci Dan Mensucikan

Dalil yang menjelaskan tentang sucinya air muthlaq adalah firman Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an :

“ Dan Kami menurunkan dari langit air yang amat suci.“ [Qs. Al Furqaan : 48]

Dan dalam sebuah hadits, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang air laut dan juga air sumur :

“Ia (air laut itu) suci airnya (dan) halal bangkainya.” [HR. Ibnu Majah, Imam Malik, Abu Dawud dan selain mereka]

“Sesungguhnya air (sumur) itu suci, tidak bisa dinajiskan oleh sesuatupun “ [HR. Tirmidzi, An Nasai, dishahihkan oleh Syaikh al Albani].


Air Muqayyad

Yang dimaksud dengan Air Muqayyad adalah Air yang sudah terikat karena sudah bercampur dengan benda atau dzat lain. Contohnya : air sabun, air gula, air teh, air susu, dan sebagainya yang serupa dengan itu. Jadi secara umum air yang disifatkan sebagai maa’ thahur (air yang suci) adalah air muthlaq dan dianggap sebagai maa’ thahur dan apa yang berada di atas makna ini, maka itulah air muthlaq.

Dalam keadaan tertentu, jika didapati kondisi demana air muthlaq berubah rasa, warna, atau bau disebabkan oleh najis maka air tersebut tidak boleh (tak sah) untuk digunakan bersuci dan ini ijma’ (kesepakatan ulama). Adapun jika berubahnya karna materi suci dan tidak dominan maka dalam dalam kondisi seperti ini, pendapat yang yang lebih kuat adalah sah untuk thaharah (ada perbedaan di kalangan ulama dalam hal ini), misal: air yang terkena tanah atau sabun, jika air yang dominan dan benda ini masih disebut air maka sah untuk bersuci.

Namun, jika materi pencampur yang lebih dominan maka air tersebut sudah tidak disebut air (suci) lagi, contohnya jika sabun yang lebih dominan maka sudah tidak disebut air tapi disebut sabun yang kecampuran air.


Air Musta’mal

Yang dimaksud dengan Air musta’mal adalah air yang sudah digunakan untuk berwudhu -misal-, lalu sebagian dari air bekas wudhu itu jatuh lagi ke dalam wadah air yang digunakan untuk ber-wudhu, dan inilah definisi yang digambarkan menurut para fuqoha.

Air musta’mal adalah air yang suci dan mensucikan. Dan pendapat inilah yang lebih kuat dan dikuatkan oleh banyak ulama, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syaikh Al Utsaimin, Syaikh bin Baaz, dan selainnya.

Dalil-dalil Air Musta’mal

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak berwudhu’, maka para sahabat hampir saja berperang untuk memperebutkan air bekas wudhu nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga dikalangan mereka tidak ada yang namanya istilah air musta’mal.

Dalil berikutnya bahwa, telah sah dalam Shahih Muslim, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai air mandi yang dipakai mandi istrinya, yaitu Maimunah binti Al-Harits Al-Hilaliyah.

Kemudian dalam Kitab As-Sunan disebutkan bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi, sebagian istri beliau berkata, “Wahai, Rasulullah tadinya saya junub dan mandi dengan air itu.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Air itu tidak memindahkan junub. Jika saya junub, maka air tersebut tidak junub.”

Dalil diatas menunjukkan air musta’mal tidak dianggap atau tidak memberikan pengaruh hukum dari air itu sendiri, sehingga air tersebut tetap suci karena ada dalil mengenai air muthlaq, yaitu yang sepanjang masih ada sifat-sifat airnya, walaupun sudah digunakan, air itu tetap dihukumi thahur (suci dan mensucikan).

Jadi, kesimpulannya adalah air musta’mal itu suci dan mensucikan (thahur).

Thaharah baik untuk menghilangkan hadats besar maupun kecil pada umumnya menggunakan air, bisa diganti dengan debu atau tanah jika:
– Air tidak ada atau sulit diperoleh (di jarak sekitar yang wajar), misalnya pada daerah yang kering, tandus, atau sementara dalam perjalanan udara (pesawat).

– Orang tersebut tidak mampu menggunakan air, misalnya karna cuaca sangat dingin atau karna sakit


Jenis-jenis Air ditinjau dari kesucian dan boleh tidaknya digunakan untuk bersuci, dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Air Thahur.
Ait Thahur adalah air yang suci dan bisa digunakan untuk bersuci. misalnya: air sungai, air sumur, air hujan, salju, dan lain semisalnya.

2. Air Najis.
Air Najis adalah air yang terkena najis dan tidak bisa digunakan untuk bersuci. misalnya: air kencing, air susu, air kopi, air teh, dan lain semisalnya.


Sahabat LangitALLAH.com, demikianlah artikel "Thaharah Dan Air Dalam Ibadah Seorang Hamba, Penting Untuk Diketahui". Kami berharap semoga artikel ini bermanfaat bagi sahabat sekalian. Dan demi kelangsungan ibadah dakwah, tentunya kami sangat berharap peran kita semua agar jangan hanya kita saja yang memahami ilmu dan ajaran Islam ini. Mari kita bagikan dan teruskan ilmu ini kepada sahabat seiman kita yang mungkin saja masih banyak yang belum memahami ilmu ini. Semoga dengan usaha kecil dan ringan ini dapat menjadi sumber pahala Jariyah bagi kita semua.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman di dalam Al Qur’an pada Surah Al Ashr :

“Demi Masa (1); Sesungguhnya Manusia itu benar-benar dalam kerugian, (2); kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3).” [QS. Al Ashr : 1-3].

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala membalasnya dengan pahala Jariyah serta kita tidak tergolong ke dalam golongan manusia yang merugi, sebagaimana ayat 2 dalam surah Al Ashr di atas. Wallahu A’lam Bishshawab. [Tim Redaksi LangitAllah.com]


sumber: (berbagai sumber)