Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Syahadat Butuh Pembuktian. Lakukan Ini Agar Syahadat Anda Diterima

Syahadat Butuh Pembuktian. Lakukan Ini Agar Syahadat Anda Diterima ( www.langitallah.com )
Syahadat Butuh Pembuktian. Lakukan Ini Agar Syahadat Anda Diterima ( ilustrasi oleh www.langitallah.com )

Syahadat Butuh Pembuktian. Lakukan Ini Agar Syahadat Anda Diterima


LangitAllah.com Sudah benarkah syahadat kita? Sebab syahadat merupakan pembeda antara Muslim dan kafir. Sebaiknya setiap muslim berhati-hati dengan syahadatnya, jangan sampai kita terjerumus ke dalam siksa yang pedih akibat salah dalam syahadat kita. Na’udzubillahi minzalik.

Dalam hadits muttafaqun ‘alaih, dari ‘Itban bin Malik bin ‘Amr bin Al ‘Ajlan Al Anshori, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . يَبْتَغِى بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan dari neraka, bagi siapa yang mengucapkan laa ilaha illallah (tiada sesembahan yang benar disembah selain Allah) yang dengannya mengharap wajah Allah” [HR. Bukhari no. 425 dan Muslim no. 33].


Hadits di atas menyebutkanbahwa barang siapa yang pernah mengucapkan di dalam hidupnya di dunia ini “Laa Ilaaha Illallaah” (Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) dan ia katakan dengan ikhlas, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan baginya Neraka.

Dalam hadits tersebut di atas memiliki maksud bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada umatnya bahwa barangsiapa mengucapkan kalimat “laa ilaaha illallaah” dengan ikhlas dan disertai dengan melaksanakan konsekuensinya menjauhi perbuatan – perbuatan syirik dan mampu mengamalkan kalimat “laa ilaaha illallaah” secara lahir dan juga secara batin, lalu ia wafat dalam keadaan demikian, maka neraka tidak akan menyentuhnya pada hari kiamat kelak. Demikian kata Syaikhuna Dr. Sholih Al Fauzan dalam kitab beliau Mulakhos fii Syarh Kitab Tauhid.

Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim Al Hambali berkata, “Hadits ini menunjukkan hakikat makna “laa ilaaha illallaah”. Barangsiapa yang mengucapkan kalimat tersebut dengan mengharap wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perjumpaannya di hari kiamat kelak, maka ia harus mengamalkan konsekuensi kalimat “laa ilaaha illallaah” tersebut dengan mentauhidkan Allah dan menjauhi perbuatan – perbuatan syirik. Balasannya bisa diperoleh jika terpenuhinya syarat dan terlepasnya halangan.” [Hasyiyah Kitab Tauhid].

Namun perlu dipahami secara lebih terperinci, sehingga kita terhindar dari penafsiran yang keliru yang mengantarkan kita ke lembah kebinasaan. Seseorang yang mengucapkan kalimat syahadat (2 kalimat syahadat) yaitu “Asyhadu Anlaa Ilaaha Illallaah, wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullaah” (saya bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah). Pada saat mengucapkan kalimat ini sesungguhnya posisi kita baru dinilai mengucapkan kalimat ibadah, belum sampai kepada inti pengakuan seorang hamba. Lalu bagaimana melihat ukuran benar kalimat syahadat itu? Apakah hanya di lisan saja atau sampai ke hati kita? Maka biasanya semua kalimat ibadah akan ditunjukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam sebuah pembuktian, apakah benar tekadnya itu ataukaah hanya sekedar di lisannya saja.

Apa pembuktiannya? Maka diturunkanlah kemudian amal shaleh untuk mengujinya. Perhatikan baik-baik kalimat syahadat yang sering kita ucapkan,

“Asyhadu Anlaa Ilaaha Illallaah, wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullaah”

Dalam kalimat “Laa Ilaaha” (Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan), tidak hanya mengandung arti “Ilah” (Tuhan) saja, namun kata “Ilah” di sini mengandung arti Tuhan Yang Layak Disembah. Sehingga “laa Ilaaha illallaah” mengandung arti “Tiada Tuhan Yang Layak Disembah atau diibadahi Kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala” saja. Lalu bagaimana membuktikan kalimat ini? Maka Allah menurunkan ibadah (amal shaleh) untuk menguji seberapa benar tekad kita mengikrarkan diri dalam syahadat yang kita persaksikan tersebut.

Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah, jenis amal shaleh yang bagaimana yang harusnya seorang hamba lakukan sebagai pembuktian syahadatnya itu sudah benar?. Maka jawaban yang paling tepat adalah ikutilah cara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga kalimat pertama diikuti dengan “wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullaah” yang artinya “dan saya bersaksi bahwa (Nabi) Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah Rasul Allah”.

Apakah hanya sampai di kalimat itu saja?. Tidak. Ada syarat pembuktian yang wajib bagi seorang hamba yang bersyahadat lakukan. Syarat yang di maksud adalah sebuah amal shaleh yang diperintahkan secara khusus bagi seorang hamba Allah yang mengaku umat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang juga telah dilakukan oleh umat – umat terdahulu meski dengan cara yang berbeda.

Ingatlah ketika Nabi Musa ‘alaihissalam diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang bagaimana membuktikan syahadatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an Al Kariim :

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Innanii anallaahu Laa Ilaaha Illaa Ana fa’buduunii wa aqimishshalaata lidzikrii”

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yah hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” [QS. Taahaa : 14]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Qul Inkuntum Tuhibbunallaaha, Fattabi’uunii, yuhbibkumullaahu wa yaghfirlakum dzunuubakum. Wallaahu ghafururrahiim”

“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang”. [QS. Ali Imran ; 31]

Surah di atas menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan kepada kita semua hamba-hamba-Nya yaitu jalan yang hendaknya ditempuh untuk membuktikan kecintaan kita kepada Allah Subhanhu wa Ta’ala. “Fattabu’uunii” (maka ikutilah aku”, siapa yang di maksud aku?. Yang dimaksud disini adalah ikutilah Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika seorang muslim mengaku telah mengucapkan kalimat syahadat, lalu ia mengatakan kalimat itu bukan hanya sekedar di lisannya, maka perlu dilihat lagi, apakah ia telah mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau jangan-jangan belum. Kalimat syahadat ini memang terkesan gampang dilisan, namun sesungguhnya sulit dalam aplikasinya. Wallahu a’lam bishshawab.

Demikianlah kajian berjudul “Syahadat Butuh Pembuktian. Lakukan Ini Agar Syahadat Anda Diterima”. Jika berkenan silakan mengunjungi artikel – artikel kami yang terkait lainnya. Insya Allah di sana akan kita jumpai berbagai ilmu yang bermanfaat untuk diri kita maupun untuk kepentingan dakwah kepada keluarga, sahabat dan orang lain. Sebab berbagi tidak harus berupa materi atau harta benda saja, seperti uang, makanan dan lainnya. Kita juga bisa berbagi kebaikan dan kebahagian berupa tenaga, ilmu, pikiran, doa dan dengan hal kecil yaitu dengan menunjukkan senyum indah di hadapan saudara-saudara kita. Berbagi adalah bentuk lain dari ungkapan rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berbagilah dengan sesama tanpa mengharapkan imbalan apapun dari makhluk-Nya. Simpanlah imbalan itu di langit, kelak akan kita tuai sebagai amal jariyah yang akan menyelamatkan kita dari siksa kubur. [Tim Redaksi LangitAllah.com]

Label : Aqidah, akidah, Tauhid, syahadat, laa ilaaha illallah