Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hukum Berhubungan Suami Istri setelah Haid Berhenti, Namun Belum Mandi Wajib (Bersuci)


Hukum Berhubungan Suami-Istri setelah Haid Berhenti, Namun Belum Mandi Wajib (Bersuci) - langitallah.com
Hukum Berhubungan Suami-Istri setelah Haid Berhenti, Namun Belum Mandi Wajib (Bersuci) - Ilustrasi

Hukum Berhubungan Suami Istri setelah Haid Berhenti, Namun Belum Mandi Wajib (Bersuci)


Assalamu ‘alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh
LangitALLAH.com - Islam telah menjadi agama yang paling benar dan diridhai Allah subhanahu wa Ta’ala. Salah satu ciri kebenaran Islam ini adalah ajaran yang ada di dalam Islam. Setiap yang kita lakukan mulai tidur, bangun, beraktifitas hingga tidur kembali, semua telah diatur oleh ajaran Islam agar dapat bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Termasuk ibadah mandi. Mandi junub atau mandi wajib atau juga sering disebut mandi besar adalah termasuk salah satu ibadah yang diwajibkan kepada pasangan suami Istri yang telah berhubungan badan maupun setelah mengalami mimpi basah. Bahkan bagi yang belum memiliki pasangan hidup atau seorang jomblo, dalam kondisi tertentu. Mandi junub berbeda dengan mandi biasa, mulai dari niat maupun tata caranya, semuanya berbeda. Nyatanya, dalam kehidupan kita sehari-hari tak jarang kita temui orang yang sedang mendiskusikan perihal tata cara mandi Junub sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Perkara Junub dan Tata Cara Mandi Junub serta hukum yang mengikutinya merupakan perkara yang kompleks namun wajib untuk diketahui dan difahami oleh setiap muslim yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga, perkara Junub akan terus diulas dan dibahas oleh karena pentingnya dan masih banyaknya umat muslim yang awam dengan junub dan tata cara mandi junub yang benar sesuai yang diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebuah pertanyaan muncul, apa hukum ketika hukum berhubungan suami-istri setelah haid berhenti, namun belum melakukan mandi wajib atau mandi junub (bersuci)?. Pertanyaan ini terlihat sepele namun substansinya membutuhkan jawaban yang tepat sesuai dalil agama Islam.


Pengertian Mandi Junub atau Mandi Wajib

Dalam kamus Wikipedia, Mandi besar atau mandi wajib (Arab: ?????, translit. al-gusl?) adalah mandi atau menuangkan air ke seluruh badan dengan tata cara tertentu untuk menghilangkan hadats besar.[1] Hal itu adalah pengertian dalam syariat Islam. Arti al-gusl secara etimologi adalah menuangkan air pada sesuatu.

Secara umum pengertian Mandi Junub, mandi besar atau Mandi Wajib adalah mandi dengan menggunakan air suci dan bersih (air muthlaq) yang mensucikan dengan mengalirkan air tersebut ke seluruh tubuh mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tujuan mandi junub atau mandi wajib atau juga kadang disebut mandi besar adalah untuk menghilangkan hadas besar yang harus dihilangkan sebelum melakukan ibadah sholat atau ibadah yang lainnya yang disyariatkan.

Beberapa sebab atau alasan seorang muslim Harus Mandi Junub / Mandi Besar / Mandi Wajib, diantaranya adalah sebab :

1. Mengeluarkan air mani baik disengaja maupun tidak sengaja
2. Melakukan hubungan seks atau hubungan intim atau bersetubuh
3. Selesai haid atau menstruasi (bagi wanita)
4. Melahirkan (wiladah) dan pasca melahirkan (nifas) bagi wanita
5. Meninggal dunia yang bukan mati syahid.

Berdasarkan beberapa sebab yang disebutkan di atas, maka bagi siapa saja yang mengalami hal-hal yang disebutkan maka muslim tersebut berarti telah mendapatkan hadas besar yang harus dibersihkan. Sehingga bagi mereka yang mengalaminya, diwajibkan untuk segera disucikan dengan mandi junub atau wajib.

Dalam beberapa perkara sejenis, muncul sebuah pertanyaan yang terkait dengan Mandi Junub atau mandi wajib ini. Apakah ibadah seseorang akan tertolak jika berhubungan suami-istri setelah haid berhenti, namun belum mandi wajib? Apakah ada dalil yang dapat menjelaskan hukum tentang ini?

Maka ketahuilah, melakukan hubungan dengan istri yang sedang haid di tempat keluarnya darah haid merupakan perbuatan yang haram. Berdasarkan firman Allah di dalam Al Qur’an :

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu kotoran. Karena itu, jauhilah wanita di tempat keluarnya darah haid (kemaluan). Janganlah kalian mendekatinya (jima’) sampai dia suci. Apabila dia (istrimu) telah mandi maka datangilah dia dari tempat sesuai dengan yang Allah perintahkan ….’ ” [Q.S. Al-Baqarah: 222]

Berdasarkan ayat di atas, maka barang siapa yang melakukannya maka dia wajib bertaubat dan membayar kafarah berupa sedekah dengan satu atau setengah dinar. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah, yang dinilai sahih oleh Al-Albani; dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa orang yang mendatangi istrinya ketika haid bersedekah satu dinar atau setengahnya.

Sedangkan perkara jumlah dinar yang pasti untuk dikeluarkan, apakah satu ataukah setengah dinar, ini dapat dilihat dari masa haid ketika orang ini melakukan hubungan. Ketika seseorang melakukan hubungan di saat darah yang keluar masih deras atau banyak maka dia bersedekah satu dinar. Akan tetapi, jika hubungan itu terjadi ketika darah yang keluar sedikit atau tidak terlalu banyak maka dia bersedekah setengah dinar.

Sementara pertanyaan yang disebutkan tentang orang yang melakukan hubungan suami istri setelah putus darah haid, namun belum mandi junub atau mandi wajib, pendapat yang paling kuat adalah hukumnya terlarang dan pelakunya berdosa. Pendapat ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas, yang artinya, “... .Janganlah kalian mendekatinya (jima’) sampai dia suci. Apabila dia (istrimu) telah mandi maka datangilah dia dari tempat sesuai dengan yang Allah perintahkan ….’ ” [Q.S. Al-Baqarah: 222]

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengizinkan seseorang muslim untuk melakukan hubungan dengan istri yang sedang haid, sampai dia bersih dan melakukan mandi junub atau mandi wajib. Namun jika hal itu terjadi, maka pelakunya harus bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu membayar kafarah dengan ber-sedekah sebanyak setengah dinar atau satu dinar.

Sedangkan nilai satu dinar berdasarkan simpulan dari Fatwa islam pada sesi tanya jawab di bawah bimbingan Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid menyebutkan 1 Dinar senilai dengan 4,25 gram emas. Wallahu a’lam bishshawab.

Sahabat LangitALLAH.com, demikianlah artikel "Hukum Berhubungan Suami-Istri setelah Haid Berhenti, Namun Belum Mandi Wajib (Bersuci)". Kami berharap semoga artikel ini bermanfaat bagi sahabat sekalian. Dan demi kelangsungan ibadah dakwah, tentunya kami sangat berharap peran kita semua agar jangan hanya kita saja yang memahami ilmu dan ajaran Islam ini. Mari kita bagikan dan teruskan ilmu ini kepada sahabat seiman kita yang mungkin saja masih banyak yang belum memahami ilmu ini. Semoga dengan usaha kecil dan ringan ini dapat menjadi sumber pahala Jariyah bagi kita semua.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman di dalam Al Qur’an pada Surah Al Ashr :

“Demi Masa (1); Sesungguhnya Manusia itu benar-benar dalam kerugian, (2); kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3).” [QS. Al Ashr : 1-3].

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala membalasnya dengan pahala Jariyah serta kita tidak tergolong ke dalam golongan manusia yang merugi, sebagaimana ayat 2 dalam surah Al Ashr di atas. Wallahu A’lam Bishshawab. [Tim Redaksi LangitAllah.com]