Beraktivitas Padahal Belum Mandi Junub, Anda Perlu Tahu Hukumnya


Beraktivitas Padahal Belum Mandi Junub, Anda Perlu Tahu Hukumnya (langitallah.com)
Beraktivitas Padahal Belum Mandi Junub, Anda Perlu Tahu Hukumnya (ilustrasi)

Beraktivitas Padahal Belum Mandi Junub, Anda Perlu Tahu Hukumnya


Assalamu ‘alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh
LangitAllah.com Pertanyaan – pertanyaan seputar Mandi Junub atau Mandi Wajib, yang kadangkala juga disebut Mandi Besar, memang seakan tak ada habisnya. Berbagai persoalan dengan kondisi berbeda – beda menjadi bagian yang terkadang membuat seseorang merasa ragu dengan hukum – hukumnya. Salah satu kekhawatiran muncul melalui sebuah pertanyaan penting dari seorang ikhwan, ia mempertanyakan, apa hukumnya melakukan aktifitas sementara kita masih dalam kondisi junub (baik junub akibat aktifitas suami istri, karena mimipi basah maupun akibat disengaja).

Kita tidak menyebutkan semua contoh kasus terkait aktifitas yang dimaksudkan diatas, namun dalam kajian ini kami akan mencoba menampilkan contoh aktifitas yang pernah terjadi di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Berikut akan dijelaskan contoh aktifitas yang dilakukan dalam keadaan junub, atau dengan kata lain, kita akan menyebutkan hukum melakukan aktifitas padahal belum mandi junub.


Makan Sesuatu Padahal Belum Mandi Junub

Ada juga yang mempertanyakan, apakah diperbolehkan seseorang muslim itu makan dalam keadaan junub? Apakah perbuatan ini dihukumi haram atau tidak apa - apa?. Maksud dalam keadaan junub ini akibat semua hal yang mengakibatkan seseorang itu junub. Baik itu sesudah melakukan aktifitas hubungan suami istri, atau keluarnya mani seseorang saat mengalami mimpi basah.

Perlu difahami bahwa setiap orang yang dalam kondisi junub (baik karena telah mengalami mimpi basah, atau sesudah melakukan aktifitas hubungan suami istri, atau dikarenakan oleh sebab – sebab yang lainnya), diperbolehkan melakukan aktivitas apapun, kecuali perbuatan – perbuatan yang dipersyaratkan harus suci dari hadats besar, seperti melakukan thawaf, shalat, berdiam di dalam masjid, atau menyentuh mushaf Al Qur’an, semua itu dilarang sebelum membersihkan hadats tersebut dengan melakukan mandi junub atau mandi wajib.

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah sedang dalam kondisi junub berpapasan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di suatu jalan. Kemduian beliau (Abu Hurairah) langsung menyelinap pergi dan mandi. Setelah selesai mandi, beliau (Abu Hurairah) menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia pun ditanya, mengapa tadi saat berpapasan malah langsung menghilang. Beliau menjawab, “Tadi saya junub, dan saya malu duduk bersama Anda, sementara saya tidak suci.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Subhaanallah, sesungguhnya seorang muslim tidak najis.” [HR. Bukhari 279 dan Muslim 371].

Saat menjelaskan hadits ini, al-hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

“Hadits ini dalil bolehnya mengakhirkan mandi junub dari awal waktunya,.. dan bolehnya orang yang junub melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhannya.” [Fathul Bari, 1:391].


Disyariatkan Wudhu Saat Dalam Keadaan Junub dan Hendak Beraktifitas

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki hamba-Nya mengalami masalah dalam beribadah, dan tidak juga memberatkannya. Bagi seorang muslim yang dalam keadaan junub namun hendak melakukan aktifitas lain (karena pentingnya), maka dianjurkan untuk melakukan wudhu terlebih dahulu. Namun perlu diperhatikan bahwa Wudhu ini hukumnya tidak wajib, dan tidak bisa menghilangkan hadats besar atau sebagai pengganti mandi junub atau mandi wajib, namun sifatnya sebatas sedikit meringankan hadats kita.

Sebuah hadits dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan,

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam kondisi junub, kemudian beliau ingin makan atau tidur, beliau berwudhu sebagaimana wudhu ketika hendak shalat.” [HR. Muslim, no. 305]

Hadits yang bermakna serupa juga diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Umar bin Khatab pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bolehkah seseorang tidur dalam kondisi junub? Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“Ya boleh, apabila kalian telah berwudhu, silahkan tidur dalam kondisi junub.” [HR. Bukhari 283 dan Muslim 306].

Nah, berdasarkan dari hadits ini, maka sebagian para ulama menegaskan bahwa seseorang yang tidur dalam kondisi junub sementara dia belum wudhu, hukumnya Makruh. [Lihat Majmu’ Fatawa, 21:343]. Wallahu a’lam Bishshawab.


Sahabat LangitAllah.com, demikianlah artikel "Beraktivitas Padahal Belum Mandi Junub, Anda Perlu Tahu Hukumnya". Kami berharap semoga artikel ini bermanfaat bagi sahabat sekalian. Dan demi kelangsungan ibadah dakwah, tentunya kami sangat berharap peran kita semua agar jangan hanya kita saja yang memahami ilmu dan ajaran Islam ini. Mari kita bagikan dan teruskan ilmu ini kepada sahabat seiman kita yang mungkin saja masih banyak yang belum memahami ilmu ini. Semoga dengan usaha kecil dan ringan ini dapat menjadi sumber pahala Jariyah bagi kita semua.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman di dalam Al Qur’an pada Surah Al Ashr :

“Demi Masa (1); Sesungguhnya Manusia itu benar-benar dalam kerugian, (2); kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3).” [QS. Al Ashr : 1-3].

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala membalasnya dengan pahala Jariyah serta kita tidak tergolong ke dalam golongan manusia yang merugi, sebagaimana kandungan surah Al Ashr di atas. Wallahu A’lam Bishshawab. [Tim Redaksi LangitAllah.com]

Sumber : berbagai sumber

Label : Fiqih, Junub, Mandi Junub, Hukum beraktifitas sebelum mandi junub

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel