Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tata Cara Wudhu Yang Benar Sesuai Sunnah Nabi SAW

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sahabat LangitAllah.com, kali ini kita akan melanjutkan pembahasan yang lalu kita tentang Thaharah (pada artikel - Hukum Thaharah Yang WAJIB Anda Ketahui) dan Berwudhu (pada artikel - Dahsyatnya Keutamaan wudhu untuk kita ketahui). Banyak saudara kita seiman dan seaqidah yang masih belum memahami persoalan Tata Cara Wudhu Yang Benar Sesuai Sunnah Nabi SAW. Sementara target kita dalam mengerjakan ibadah shalat adalah dengan mencapai kesempurnaan shalat. Dan yang menjadi langkah awal dalam ibadah shalat adalah wudhu. Namun apakah tata cara wudhu kita selama ini sudah sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam?

Tata Cara Wudhu Yang Benar Sesuai Sunnah Nabi SAW

 Tata Cara Wudhu Yang Benar Sesuai Sunnah Nabi SAW (langitallah.com)
Gambar ilustrasi -  Tata Cara Wudhu Yang Benar Sesuai Sunnah Nabi SAW

Ternyata sebagian besar umat muslim masih mempertanyakan apakah tata cara wudhunya sudah sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi kita atau belum. Kebimbangan dalam diri dan tanpa upaya untuk mencari tahu adalah sebuah kesalahan fatal yang telah kita biarkan selama ini. Tidak kahawatikah kita dengan shalat kita nanti? Ketika kita diperhadapkn pada Persidangan Allah Subhanahu Wata'ala?

Wudhu adalah bagian dari bab pembahasan Thaharah, sebab pentingnya wudhu untuk mensucikan diri kita, maka kami tim sahabat LangitAllah.com berupaya untuk saling ingat mengingatkan dalam kebaikan dan taqwa.

Berikut ini akan kita uraikan satu persatu, tentang Tata Cara Wudhu Yang Benar Sesuai Sunnah Nabi SAW.

WUDHU


A. Tata caranya:

Dari Humran bekas budak ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu :

أَنَّ عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوْءٍ فَتَوَضَّأَ: فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذلِكَ، ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِ هذَا ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِ هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيْهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“’Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu minta diambilkan air wudhu lalu berwudhu. Dia basuh kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung lalu mengeluarkannya. Lalu membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh tangan kanannya hingga ke siku tiga kali, begitupula dengan tangan kirinya. Setelah itu, ia usap kepalanya lantas membasuh kaki kanannya hingga ke mata kaki tiga kali, begitupula dengan kaki kirinya. Dia kemudian berkata, ‘Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu sebagaimana wudhuku ini, kemudian Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua raka’at dan tidak berkata-kata dalam hati [1] dalam kedua raka’at tadi, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.’”

[1] : Tentang urusan-urusan dunia, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Syarh Muslim.-ed.
Ibnu Syihab mengatakan bahwa ulama-ulama kita berkata, “Wudhu ini adalah wudhu paling sempurna yang dilakukan seseorang untuk shalat.” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/204 no. 226)], ini adalah lafazhnya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/266 no. 164), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/180 no. 106), dan Sunan an-Nasa-i (I/64).

B. Syarat sahnya


1. Berwudhu diawali dengan Niat

Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.

“Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niat.”
[Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/9 no. 1)], Shahiih Muslim (III/1515 no. 1907), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (VI/284 no. 2186), Sunan at-Tirmidzi (III/100 no. 1698), Sunan Ibni Majah (II/1413 no. 4227), dan Sunan an-Nasa-i (I/59).

Tidak disyari’atkan mengucapkannya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengerjakannya.

2. Mengucap Basmalah

Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ، وَلاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ.

“Tidak sah shalat seseorang tanpa wudhu. Dan tidak ada wudhu untuk seseorang yang tidak menyebut nama Allah.” [Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 320)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/174 no. 101), dan Sunan Ibni Majah (I/140 no. 399).

3. Berkesinambungan (tidak terputus)

Berdasarkan pada hadits Khalid bin Ma’dan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلاً يُصَلِّي وَفِيْ ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةً قَدْرَ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُعِيْدَ الْوُضُوْءَ وَالصَّلاَةَ.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki sedang melakukan shalat, sedangkan pada punggung telapak kakinya ada bagian sebesar uang dirham yang tidak terkena air. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menyuruhnya mengulang wudhu dan shalatnya.” [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 161)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/296 no. 173).


C. Rukun-rukun Wudhu


  1. 1, 2. Membasuh wajah, termasuk berkumur dan menghirup air melalui hidung.
  2. 3. Membasuh kedua tangan hingga siku. [6]
  3. 4, 5. Mengusap seluruh kepala. Dan telinga termasuk kepala.
  4. 6. Membasuh kedua kaki hingga mata kaki.

[6] Imam asy-Syafi’i berkata dalam al-Umm (I/25), “Membasuh kedua tangan tidaklah cukup kecuali dengan membasuh antara ujung-ujung jemari hingga siku. Dan tidaklah cukup kecuali dengan membasuh sisi luar, dalam, dan samping kedua tangan, hingga sempurnalah membasuh keduanya. Jika meninggalkan sedikit saja dari bagian ini, maka tidak boleh".

Allah Subhanahu wata'ala berfirman di dalam Al Qur'an, Surah Al-Maaidah ayat 6, yang berbunyi :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki…” [QS. Al-Maa-idah: 6]

Perihal berkumur-kumur serta menghirup air ke dalam hidung, maka disebabkan keduanya masih termasuk (membasuh) wajah, hingga wajiblah hukum keduanya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan membasuhnya dalam Kitab-Nya yang mulia. Dan telah jelas tanpa pertentangan di dalamnya bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya dalam wudhu secara terus-menerus. Semua yang meriwayatkan serta menjelaskan tata cara wudhu beliau (Shallallahu ‘alaihi wa sallam) juga menyebutkannya. Itu semua menunjukkan bahwa membasuh wajah yang diperintahkan dalam al-Qur-an adalah dengan berkumur dan menghirup air ke dalam hidung. [As-Sailuul Jarraar [(I/81)].

Dalam hadits yang lain dengan substansi Serup, juga terdapat perintah mengerjakan keduanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فِي أَنْفِهِ مَاءً ثُمَّ لِيَسْتَنْثِرْ.

“Jika salah seorang di antara kalian berwudhu, jadikanlah (hiruplah) air ke dalam hidungnya, lalu semburkanlah.” [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 443)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/234 no. 140), dan Sunan an-Nasa-i (I/66).
Serta dalam hadita yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga menyebutkan dalam sabdanya

وَبَالِغْ فِي اْلاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا.

“Hiruplah air ke hidung dengan sangat, kecuali jika kau sedang berpuasa.” [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 129, 131)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/236 no. 142, 144)

Dan juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :

إِذَا تَوَضَّأْتَ فَمَضْمِضْ.

“Jika engkau berwudhu, maka berkumurlah.” [Ibid.]

Dalam berwudhu, mengusap kepala dilakukan merata dengan hukum wajib. Karena perintah mengusap dalam al Qur'an masih bersifat global, maka penjelasan lebih rinci dikembalikan kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Disebutkan dalam Ash-Shahihain dan yang lainnya bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kepala beliau secara merata. Di sini terdapat dalil atas hukum wajibnya mengusap kepala secara sempurna saat melakukan wudhu.

Dalam sebuah kasus, jika suatu saat ada yang bertanya, “bagaimana dengan penyataan dalam hadits al-Mughirah disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap ubun-ubun dan bagian atas sorban beliau?”

Maka jawabannya adalah, “Beliau mencukupkan mengusap ubun-ubun saja karena membasuh sisa kepala telah sempurna dengan mengusap bagian atas sorban. Inilah pendapat kami. Bukan berarti ini adalah dalil atas bolehnya mencukupkan mengusap ubun-ubun atau sebagian kepala tanpa menyempurnakannya dengan mengusap bagian atas sorban.” [Tafsiir Ibni Katsiir [(II/24)], dengan pengubahan.
Sehingga dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, wajib mengusap kepala secara merata. Dan orang yang mengusap, jika suka, dia boleh mengusap kepala saja, atau bagian atas sorban saja, atau boleh juga kepala dan bagian atas sorban. Semuanya benar dan ada dalilnya.

Sesangkan kedua telinga kita merupakan bagian yabg tidak terpisah dari kepala. Maka wajib hukum mengusap keduanya. Dasarnya adalah sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang berbunyi :

اَلأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ.

“Kedua telinga adalah bagian dari kepala.” [Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 357)] dan Sunan Ibni Majah (I/152 no. 443).

7. Berwudhu dwngan menyela-nyela jenggot

Berdasarkan hadits Anas bin Malik Radhiyallahu anhu : “Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu, beliau ambil segenggam air lalu memasukkannya ke bawah dagunya. Dengan air itu beliau sela-selai jenggotnya. Beliau lantas bersabda:

هكَذَا أَمَرَنِي رَبِّيعز عزوجل .

“Begitulah Rabb-ku Azza wa Jalla memerintahku.” [Shahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 92)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/243/ no. 145), dan al-Baihaqi (I/54).


8. Berwudhu dengan menyela-nyelai jari-jemari kedua tangan dan kaki

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu :

أَسْبِغِ الْوُضُوْءَ، وَخَلِّلْ بَيْنَ اْلأَصَابِعِ، وَبَالِغْ فِي اْلاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا.

“Sempurnakanlah wudhu, sela-selai jari-jemari, dan hiruplah air ke dalam hidung dengan kuat, kecuali jika engkau sedang berpuasa.”


D. Sunnah-Sunnah Wudhu

1. Bersiwak (menggosok atau membersihkan mulut dan gigi)

Dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

لَوْ لاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ َلأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ الْوُضُوْءِ.

“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya kuperintahkan mereka bersiwak tiap kali berwudhu.”

2. Membasuh kedua telapak tangan tiga kali pada awal wudhu

Hal ini didasarkan pada riwayat dari ‘Utsman Radhiyallahu anhu dalam ceritanya tentang tata cara wudhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Beliau membasuh kedua telapak tangannya tiga kali.”

3. Menggabungkan berkumur dan menghirup air ke dalam hidung dengan segenggam air sebanyak tiga kali.


Hal ini bersasarkan pada hadits ‘Abdullah bin Zaid saat dia mengajarkan wudhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salla : “Beliau berkumur dan menghirup air ke dalam hidung dari satu genggam tangan. Dan beliau melakukannya sebanyak tiga kali.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 125)] dan Shahiih Muslim (I/210 no. 235).

4. Melakukan keduanya dengan kuat dan bersamaan bagi yang tidak puasa.
Hal ini berdasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :

وَبَالِغْ فِي اْلاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا.

“Hiruplah air ke dalam hidung dengan kuat, kecuali jika engkau sedang puasa.”

5. Mendahulukan anggota tubuh yang kanan daripada yang kiri
Hal ini berdasarkan pada hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma (istri dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam) :

كَـانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ التَّيَـامُنُ فِيْ تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطَهُوْرِهِ وَفِيْ شَأْنِهِ كُلِّهِ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam suka mendahulukan bagian kanan saat memakai sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam semua hal.” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/269/168)], Shahiih Muslim (I/226 no. 268), (XI/199 no. 4122), dan Sunan an-Nasa-i (I/78).

Perihal ini juga didasarkan pada kisah ‘Utsman saat menceritakan tata cara wudhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam : “Beliau membasuh bagian kanan kemudian bagian kiri.”

6. Menggosok-gosok

Hal ini berdasarkan pada hadits ‘Abdullah bin Zaid: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi tiga mudd air. Beliau lalu berwudhu dan menggosok kedua tangannya.”[Sanadnya shahih: [Shahiih Ibni Khuzaimah (I/62 no. 118)].

7. Membasuh anggota tubuh sebanyak tiga kali

Hal ini berdasarkan pada hadits ‘Utsman Radhiyallahu anhu : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wudhu dengan membasuh tiga kali.”

Ada juga dalil dengan sanad yang shahih yang menyatakan bahwa beliau, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah wudhu dengan membasuh sekali atau dua kali. [Hasan Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 124)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/258 no. 158), dari hadits ‘Abdullah bin Zaid. Diriwayatkan juga dalam Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/230 no. 136), Sunan at-Tirmidzi (I/31 no. 43), dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.

Disunnahkan juga mengulang usapan kepala secara kadang-kadang atau tidak dilakukan tiap kali ber wudhu.

Hal ini berdasarkan riwayat shahih dari ‘Utsman. Bahwa dia berwudhu lalu mengusap kepala tiga kali. Dia kemudian berkata: “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti ini.” [Hasan Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 101)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/188 no. 110).

8. Dilakukan Berurutan

Dan begitulah adanya kebanyakan wudhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana dikisahkan oleh orang yang menceritakan tata cara berwudhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun terdapat riwayat shahih dari al-Miqdam bin Ma’dikarib:

“Dia membawakan air wudhu untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau lantas berwudhu dan membasuh kedua telapak tangannya tiga kali. Membasuh wajahnya tiga kali, lalu membasuh kedua tangannya tiga kali. Beliau kemudian berkumur dan (menghirup air ke dalam hidung lalu) menyemburkannya. Setelah itu mengusap kepala dan kedua telinganya…” [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 112)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/211 no. 121).

9. Berdo’a setelah selesai berwudhu

Hal ini berdasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam : “Tidaklah seorang di antara kalian berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian berdo’a:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak dibadahi dengan benar kecuali Allah. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Melainkan dibukakan baginya delapan pintu Surga. Dia memasukinya dari arah mana saja yang ia kehendaki.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 143)] dan Shahiih Muslim (I/209 no. 234).

At-Tirmidzi juga menambahkan:

اَللّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ.

“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci.” [Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 48)] dan Sunan at-Tirmidzi (I/38 no. 55).

Dari Abu Sa’id, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berwudhu lalu mengucap:

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.

“Mahasuci dan Terpuji Engkau ya Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.” Niscaya ditulislah dalam lembaran putih, lalu dicap dengan sebuah stempel yang tidak akan rusak hingga hari Kiamat.” [Shahih: [At-Targhiib (no. 220)], Mustadrak al-Hakim (I/564). Tidak ada riwayat yang shahih tentang berdo’a ketika wudhu (pada saat membasuh tiap-tiap anggota wudhu.’-pent.)

10. Mengerjakan Shalat dua raka’at setelahnya
Hal ini berdasarkan pada hadits ‘Utsman Radhiyallahu anhu setelah mengajari mereka tata cara wudhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu sebagaimana wudhuku ini. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوُ وُضُوْئِـي هذَا، ثُمَّ قَـامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيْهِمَا نَفْسُهُ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Barangsiapa berwudhu sebagaimana wudhuku ini, lalu shalat dua raka’at, sedang dia tidak berkata-kata dalam hati (tentang urusan dunia) ketika melakukannya, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.”

Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Bilal ketika hendak shalat Shubuh, “Wahai Bilal, beritahulah aku amalan yang paling engkau harapkan (pahalanya) yang engkau kerjakan dalam Islam. Karena sesungguhnya aku mendengar suara kedua sandalmu di hadapanku di Surga.” Dia menjawab, “Tidaklah aku melakukan amalan yang paling aku harapkan (pahalanya). Hanya saja, aku tidaklah bersuci, baik saat petang maupun siang, melainkan aku shalat (sunnah) dengannya apa-apa yang sudah dituliskan (ditakdir-kan) tentang shalatku.” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/34 no. 1149)] dan Shahiih Muslim (IV/1910 no. 2458).

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]

Sahabat, demi kelangsungan ibadah dakwah, tentunya kami sangat berharap peran kita semua untuk jangan hanya kita saja yang memahami arti penting dari thaharah sebagai landasan ibadah kita ini. Mari kita bagikan dan teruskan berita gembira ini kepada sahabat seiman kita yang mungkin saja masih banyak yang belum memahami arti pentingnya thaharah ini. Allah berfirman di dalam Al Qur’an pada Surah Al Ashr :

“Demi Masa (1); Sesungguhnya Manusia itu benar-benar dalam kerugian, (2); kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3).” [QS. Al Ashr : 1-3].

Semoga kita tidak tergolong dalam golongan manusia yang rugi sebagaimana ayat 1 dalam surah Al Ashr di atas. Wallahu A’lam Bishshawab. [Tim Redaksi LangitAllah.com]

Sumber: almanhaj.or.id