Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketika Calon Mertua Tak Setujui Pernikahan, Apa Solusinya?

Assalamu ’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Sahabat LangitAllah.com.... Pernikahan adalah sebuah ikatan suci yang tak bisa dihadapi dengan ilmu yang seadanya. Banyak di antara kalangan pemuda yang menghabiskan masa mudanya dengan hal-hal yang sia-sia, sehingga melupakan untuk memperdalam ilmu agamanya, khususnya ilmu tentang keluarga, bagaimana membangun sebuah keluarga yang sesuai ajaran agama, dan lebih utama lagi bagaimana nanti cara memilih pasangan hidup yang akan mendampinginya seumur hidup. Dan tak jarang di antara mereka harus menghadapi benturan hebat ketika hendak melepas masa lajangnya.

Bukan hanya para pemuda, terkadang orang tua juga tak jarang yang kurang memahami konsep berkeluarga yang baik sesuai ajaran agama. Bagaimana mempersiapkan anak-anaknya untuk menghadapi dunia pernikahan, memilih pasangan hidup serta bagaimana membangun keluarga dan mengurus rumah tangga agar menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.

Sebuah pertanyaan besar yang kerap dihadapi oleh seoarang muslim ataupun muslimah, bagaimana Ketika Calon Mertua Tak Setujui Pernikahan, Apa Solusinya? Hal ini senada dengan pertanyaan seorang hamba Allah di saat ia hendak melepas masa lajangnya menuju sebuah pernikahan yang ia harapkan. Dalam kajian ini kami sengaja mengganti nama penanya yang sebenarnya dengan nama lain, untuk menjamin privasi saudara kita, sebab tujuan kita adalah materi pertanyaannya, bukan orang yang mengalaminya. Mari kita mencari tahu jawabannya.

Ketika Calon Mertua Tak Setujui Pernikahan, Apa Solusinya?


Ketika Calon Mertua Tak Setujui Pernikahan, Apa Solusinya? (langitallah.com)
Ilustrasi Cincin Pernikahan - Ketika Calon Mertua Tak Setujui Pernikahan, Apa Solusinya?
Ketika Calon Mertua Tak Setujui Pernikahan, Apa Solusinya? (langitallah.com)
Pertanyaan:
Saya Ukhti dari Makassar, Sulawesi Selatan, Umur saya kurang lebih sudah berjalan 24 tahunan. Langsung saja, saya ingin menanyakan bagaimana hukumnya menjalin hubungan akan tetapi terbentur permasalahan, karena saya dan pasangan saya berbeda suku. Saya ingin bercerita sedikit, mengenai hal ini, karena saya masih terlalu awam dalam mengkaji ilmu-ilmu (agama) Islam.

Saat itu, saya dan pasangan saya (Akhi), pertama kali dikenalkan oleh teman sepekerjaan saya. Dari awal teman saya sudah berkata, “Ukhti, mau engga di kenalkan dengan laki-laki, dia ilmu agamanya bagus, rajin sholat, pokoknya dia laki-laki yang insya Allah baik, tapi dia punya sifat pemalu dan minderan. Dan maaf, dia termasuk orang yang tidak mampu. Saat ini dia memang sedang tidak kerja, tapi dia sedang ikut kursus bahasa Jepang, karena dia sangat ingin memperbaiki keuangan keluarganya dan Insya Allah ingin mencari rejeki di sana. Bagaimana Ukhti, apa ukhti mau di kenalkan dengan beliau?”.
Awalnya, saya ragu, karena pasti keluarga saya akan mempermasalahkan ini nantinya. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, saya mencoba memantapkan hati untuk mengenal beliau bukan karena siapa dia, tapi lebih kepada karena agamanya yang bagus.

Akhirnya saya menyetujui untuk mengenal Akhi, perkenalan kami dimulai dari BBM. Kami tinggal di sebuah kota yang sama, yaitu di kota Makassar. Setelah mengenal satu sama lain, ternyata dia sebenarnya (menurut saya) termasuk orang yang suka bercanda dan periang. Singkat cerita, setelah satu setengah bulan pasca perkenalan kami, teman kami mempertemukan kami di sekitar tempat kerja saya. Dan komunikasi kami pun berjalan, sampai pada akhirnya, kami bertemu di pertemuan kedua sebulan setelah itu. Pada pertemuan kedua ini, saya mengungkapkan kepada beliau bahwa saya punya keturunan yang berasal dari Padang, dari ibu saya, karena ibu saya orang Padang, sedangkan ayah saya adalah orang Jawa. Namun beliau (Akhi) tidak mempermasalahkan soal suku kedua orang tua saya.

Normalnya sebuah hubungan, tentunya komunikasi kami juga pernah diisi dengan kesalahpahaman, bercanda, saling mendukung aktivitas kami masing-masing. Dan berselang satu bulan dari pertemuan kami yang kedua itu, kami bertemu kembali, dan kami masing-masing mulai terbuka untuk mengenal satu sama lain, terutama ingin mengetahui tentang keluarga masing-masing. Kami berdua sama-sama yatim. Akhi anak ke - 6 dari 12 bersaudara, dan saya anak ke - 5 dari 5 bersaudara (bungsu). Setelah pertemuan kami yang ketiga, kami saling memantapkan untuk menjalin hubungan yang serius untuk membina keluarga. Selang beberapa minggu, beliau menyatakan ingin serius menjalin silaturahmi dengan saya dan keluarga. Akan tetapi dia masih merasa malu dan minder untuk bertemu dengan ibu saya, karena takut ditanyai mengenai pekerjaannya (yang memang saat itu belum ada). Padahal dari awal saya mengenal beliau, saya sudah bercerita tentang beliau kepada ibu saya, jadi ibu saya sudah mengerti dan memahami akan keadaan beliau. Ibu saya hanya ingin tahu, sosok laki-laki yang bagaimana yang sedang dekat dengan anaknya ini. Tapi Akhi kayaknya berfikiran bahwa, “sepertinya aku belum pantas untuk bertemu ibu kamu, jangan berfikiran negatif dulu, nanti akan ada waktunya aku akan menemui ibu kamu, aku malu, aku orang miskin dan belum punya pekerjaan.”

Akhirnya, tiba masa ujian untuk perekrutan tenaga kerja ke Jepang. Tak henti di setiap doa saya, terselip doa untuk beliau. Sampai pada akhirnya, satu hari sebelum hasil pengumuman beliau mengabari saya. Hari itu benar-benar membuat hati saya sedih. Beliau berkata, “Maafkan aku yang kurang peduli terhadapmu beberapa hari terakhir, aku mau menyampaikan sesuatu, tapi aku harus bilang karena pada akhirnya kamu akan tahu. Aku takut ketika kita menjalin hubungan, dan aku sudah berangkat jauh meninggalkan kamu, kita menjalankan hubungan komunikasi jarak jauh, aku takut, kita sudah lama saling kenal dan dekat akan tetapi aku dan kamu tidak berjodoh.” Kata Akhi.

Kemudian aku pun menjawab, “Apa kamu sayang aku? apa kamu mau serius ngejalin hubungan ini?”
“Iya, Insya Allah aku sayang kamu, dan Insya Allah aku ingin hubungan ini jauh lebih serius. Akan tetapi bukan masalah ini saja, bahwa ibu dan keluarga kurang menyetujui hubungan kita.” Jawab Akhi jujur.
“Boleh aku tau apa alasannya?” tanyaku kemudian
Beliau menjawab, “Ibu dan keluarga aku, kurang setuju, jika aku dapat orang (keturunan) Padang”
“Kenapa? dan apa alasannya?”
Dia menjawab, “Entah apa yang ada di fikiran mereka, aku sudah menceritakan tentang kamu seperti apa kepada keluarga, aku benar-benar minta maaf atas sikap keluargaku, rasanya aku sudah ingin pergi jauh saja, rasanya sudah tidak ingin tinggal di sini” jawabnya.

Seiring berjalannya waktu, aku tetap mendukung dia, dan pada hari dimana pengumuman hasil ujian ke Jepang itu keluar, aku masih berusaha untuk mendukung dia. Dan ternyata dia tidak lulus. Dia semakin terpuruk, selain karena hubungan kami tidak mendapat restu, ditambah beliau tidak lulus ujian untuk menjadi tenaga kerja ke Jepang. Kerja keras dia selama ini sia-sia, selama satu tahun dia tidak bekerja demi pekerjaan ini. Pada awalnya, aku merasa kenapa dia begitu takabur atas perkataan dia sebelumnya mengenai hubungan ini. Dan aku juga pernah bilang ke dia sebelumnya, bahwa apa pun hasilnya, kamu harus tetap sabar, mungkin ini jalan terbaik yang Allah berikan untuk kamu. Sekeras apapun kamu berusaha, seandainya Allah berkehendak lain, maka kamu tidak akan mendapatkannya, jadi pasrahkan dan ikhlaskan saja, serahkan segalanya kepada Allah.

Akhi merasa sangat terpuruk sampai sempat terbesit niatan untuk bunuh diri, akan tetapi aku terus berusaha untuk menenangkan pikiran dan perasaan dia. Ini benar-benar cobaan di bulan puasa bagi saya dan dia. Aku terus mencari referensi mengenai apa salah menikah antara beda suku? Aku selalu berkata, “Bisakah keluarga kamu tidak menilai siapa kami berdasarkan dari mana kami berasal? Bolehkan aku mengenal keluarga kamu dan kamu mengenal keluarga aku, agar masing-masing di antara kita mengetahui seluk beluk keluarga kita bukan dari kata orang di luar sana? Apa salah aku dan keluarga aku?..” fikirku.

Sebenarnya, aku ingin sekali menunjukan kepada keluarga dia, bahwa (Insya Allah) aku ingin membahagiakan dia. Aku ingin sekali menepis kabar tidak baik mengenai tidak semua orang Padang itu tabiatnya sama. Aku ingin sekali meyakinkan dia, dan dia juga bisa meyakinkan keluarganya. Tapi dia begitu takut, hal ini terjadi lagi, ketika sebelumnya dia dekat dengan orang Sunda, dan sudah berusaha untuk meyakinkan keluarga akan tetapi sia-sia. Prinsip dia, “aku belum pernah membawa wanita ke rumah, kecuali aku mau nikah dengan wanita tersebut”. Aku tersadar, bahwa prinsip dia adalah salah, bagaimana keluarganya tahu siapa pasangannya, sifat dan sikapnya seperti apa, sedangkan untuk mengenalkan saja tidak mau. Salahkah sikap saya terhadap dia? aku masih menjalin silahturahmi dengan dia, aku masih terus meminta pendapat dari orang-orang sekitar, dan teman yang mengalami hal yang sama dengan saya. Intinya adalah “Jika dia cinta kamu, dia akan mempertahankan kamu, dan berusaha untuk terus dan terus meyakinkan keluarganya”. Akan tetapi untuk kesekian kali, dia berkata “Bukankah restu orang tua adalah (juga) restu Allah? Biarlah aku sendiri sampai aku tidak tau kapan aku menikah, hanya bisa berharap jika Allah memberi umur panjang untuk aku”.

Saat ini Akhi begitu terasa jauh dari saya, setiap saya tanya baik-baik, dia terkadang emosi, saya tidak tahu apakah dia berharap supaya saya benci dia dengan sikap dia seperti itu. Sepertinya dia melakukan ini karena keadaan yang membuat kita seperti ini. Apa yang harus saya lakukan, ketika dibenci, saya tidak ingin membalas membenci, karena saya sayang dia. Sampai saat ini pun, setiap diajak ketemu susah, karena dia sengaja membuat hubungan kita menjadi tidak baik. Saya hanya bisa berdoa, berharap diberi kesabaran, keikhlasan dalam menghadapi ini semua dan harus percaya kepada Allah. Salahkah, jika niat kita meluluhkan hati orang tua, apakah itu termasuk dosa atau durhaka terhadap orang tua? Apa yang harus saya lakukan? Saya berusaha menerima dia apa adanya, karena rezeki bisa dicari bersama, kebahagian bukanlah diukur oleh harta, tapi beliau selalu berkata jika dia tidak pantas untukku dan takut tidak bisa membahagiakan saya nantinya.

Saya benar-benar membutuhkan kritik dan saran, sekiranya sahabat LangitAllah.com mau merespon surat dari saya. begitu besar harapan saya agar surat ini dibalas secepatnya.

Wassalamu ‘alaikum


J A W A B A N

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh

Wahai Ukhti yang dirahmati Allah,
Kami berdoa agar anda selalu dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersabar dengan ujian dariNYA. Siapa yang bersabar, Allah akan membersamainya dan memberikan pahala tanpa batas.

Dalam Islam, tidak ada larangan pernikahan beda suku. Memang ada pertimbangan orang memilih istri atau mertua memilih menantu berdasarkan harta, kedudukan dan kecantikan. Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan rambu-rambu, bahwa memilih istri yang baik itu (salah satunya) berdasarkan agamanya. Jika seorang suami memilih istri atas dasar agamanya, insya Allah kehidupannya akan barakah dan ia akan beruntung karena istrinya adalah istri yang shalihah.

تُنْكَحُ المَرْأةُ لِأَرْبَعٍ: لمِالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكْ

“Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Bahkan, menikahkan anak berdasarkan keturunan (termasuk suku) adalah kebiasaan jahiliyah seperti dikatakan oleh seorang tabi’in bernama Mubarak. “Dulu, orang-orang jahiliyah menikahkan putrinya atas dasar keturunan. Orang-orang Yahudi menikahkan putrinya atas dasar harta dan kekayaan. Orang-orang Nasrani menikahkan putrinya atas dasar ketampanan. Maka sudah selayaknya orang-orang Muslim menikahkan putrinya atas dasar agama.”

Lalu bagaimana jika orang tua tidak menyetujui pernikahan beda suku? Hal pertama yang perlu disadari adalah, ridha orang tua merupakan kunci ridha Allah.

رِضَا الرَّبِّ فِى رِضَا الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِى سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” [HR. Tirmidzi; dengan sanad shahih]

Maka yang baik dan ideal, jika orang tua belum menyetujui pernikahan, hendaknya sang anak mendekati orang tua -nya, merayu dan meyakinkan mereka agar menyetujui. Sering kali, orang tua yang sebelumnya keberatan dengan pernikahan anaknya, akhirnya setuju setelah komunikasi intens anak dengan orang tuanya dan setelah orang tua melihat kesungguhan anak dan yakin dengan keputusannya.

Bagi anak perempuan, ridha orang tua adalah hal yang tak bisa ditawar - tawar. Sebab, orang tua (wali) menjadi rukun nikah. Seorang gadis tidak boleh menikah tanpa persetujuan atau restu orang tua (wali) -nya, kecuali jika orang tua (wali) -nya menolak pernikahan tanpa alasan yang dibenarkan syariat, baru diperbolehkan gadis tersebut memakai wali hakim. Tetapi kami memandang persoalan ini tidak sesederhana itu.

Sedangkan bagi anak laki-laki, meskipun orang tua (wali) bukanlah rukun nikah, tetap saja menjadi pertimbangan besar dalam pernikahan. Sebab sejatinya pernikahan bukanlah menyatukan dua orang, tetapi menyatukan dua keluarga.

Dalam kasus Anda, solusi yang bisa ditempuh adalah calon suami Anda minta restu orang tuanya dengan lebih komunikatif dan mendekati orang tuanya. Anda bisa membantunya dengan doa. Sebab masalah hati adalah kekuasaan Allah. Allah yang maha membolak-balikkan hati, Allah yang menguasai hati. Maka Allah-lah satu-satunya yang kuasa mengubah hati orang tuanya.

Namun jika segala upaya telah dilakukan, segala ikhtiar telah ditempuh, dan pria yang anda inginkan justru lari menjauh, sebaiknya anda mengikhlaskannya. Mungkin Allah menunjukkan bahwa ia bukanlah jodoh anda dan Allah akan mempertemukan anda dengan jodoh yang lebih baik dan lebih kuat; lebih kuat posisinya dalam keluarga, lebih kuat komunikasinya, lebih kuat kedekatannya dengan orang tua dan lebih kuat menanggung tanggung jawab nantinya sebagai kepala keluarga.

Saran kami, jangan mencintai seseorang yang tidak bisa menikah dengan anda. Sebab hal itu hanya akan mengeruhkan hati dan mengganggu kedamaian jiwa.

Yang juga perlu dipahami oleh setiap muslim dan muslimah, dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran. Sebab mudharatnya banyak. Pacaran bisa menjadi sarana mendekati zina, sebab dalam pacaran kebanyakan aktifitasnya khalwat (berduaan), saling menyentuh bahkan saling memegang dan seterusnya. Pacaran juga membuat hati mencintai seseorang dengan cinta dan harapan yang besar, padahal belum tentu pacar tersebut menikah dengannya.

Dalam Islam, pernikahan cukup dengan ta’aruf atau nadhar. Jika seorang pria memiliki keinginan menikah dengan seorang wanita, maka ia datang kepada orang tua (wali) -nya menyatakan keinginannya. Bisa juga dengan perantaraan guru atau ustadz. Setelah itu pria dan wanita tersebut dipertemukan untuk dapat melihat wajahnya dan mengetahui latar belakangnya. Jika keduanya berketetapan hati untuk menikah, sang pria meng-khitbah (melamarnya) dan kemudian menikah. Bagaimana jika wanita yang berkeinginan menikah dengan seorang laki-laki? Hal itu juga pernah terjadi di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka wanita tersebut menyampaikan kepada orang tua (wali) -nya, dan walinya tersebut yang meminta pria dimaksud apakah bersedia menikah dengannya.

Semoga jawaban singkat ini bisa menjadi bagian dari solusi. Dan sekali lagi, bersabarlah atas ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika hambaNya lulus dari ujianNya, Dia akan menghadirkan akhir yang baik dan solusi terindah yang kadang tak pernah disangka-sangka. Wallahu a’lam bishshawab.

Sahabat, demi kelangsungan ibadah dakwah, tentunya kami sangat berharap peran kita semua untuk jangan hanya kita saja yang memahami arti penting dari thaharah sebagai landasan ibadah kita ini. Mari kita bagikan dan teruskan berita gembira ini kepada sahabat seiman kita yang mungkin saja masih banyak yang belum memahami arti pentingnya thaharah ini. Allah berfirman di dalam Al Qur’an pada Surah Al Ashr :

“Demi Masa (1); Sesungguhnya Manusia itu benar-benar dalam kerugian, (2); kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3).” [QS. Al Ashr : 1-3].

semoga kita tidak tergolong dalam golongan manusia yang rugi sebagaimana ayat 1 dalam surah Al Ashr di atas. Wallahu A’lam Bishshawab. [Tim Redaksi LangitAllah.com]